CINTA DAN GLUKOSA

by - 16.14

Cinta tidak bisa disetarakan dengan teori konvensional indera pengecap karena variabelnya mengalami proses molekular secara drastis. Aku pernah menulis bahwa jatuh cinta adalah kondisi paling epik yang pernah dirasakan dan dialami manusia. Lebih luas jangkauannya, jatuh cinta juga punya sisi-sisi tertentu dari indera pengecap tak kasat mata yaitu hati. Kubilang begitu karena emosi hanya terkoordinasi pada organ dalam. Bukankah kalimat aku mencintaimu adalah konteks suatu perihal yang muncul setelah ruang di hatiku menjadi lega setelah ada namamu di dalamnya?

Mimik emosi dengan sebutan satu reputasi bermakna rindu adalah rentangan jarak di mana kamu saja yang kuinginkan untuk muncul. Pelukanmu saja yang kuharapkan untuk mendekap, juga lisanmu sajalah yang kuinginkan untuk berucap. Aku hanya pelaku, di mana cinta adalah objek abstrak yang kujaga agar baranya tetap menyala, tetap menjadi pepatah yang dijadikan kalimat penenang bagi jiwa yang tengah meradang.

Cinta seperti glukosa yang meski manis, ada pori-pori dengan definisi kuinin atau penyebab rasa pahit yang akan tercecap saat merindukan seseorang. Bagaimana tidak pahit jika hangat tubuhmu belum bisa kusentuh? Bagaimana tidak pahit jika senyumanmu harus tertunda untuk dapat kunikmati. Tapi aku lega, karena bisa berterima kasih padamu untuk tidak mengabaikanku di waktu-waktu sibukmu. Kau masih bisa berkelakar dan memberi kabar baik yang menyamankan. Rasanya sama seperti kerlingan angin saat nafasku terengah dan butuh penengah.

Kukira, cinta ibarat racun dan penawar dalam satu kotak rahasia. Jika menderita karenanya, obatnya juga sama. Cinta menghasilkan sesap pengharapan dan rindu dengan format yang tidak pernah salah saat terkirim asalkan penerimanya memiliki nama yang sama dengan wajah yang dipuja. Cinta memang sedikit pahit, tapi lebih banyak meneteskan rasa manis pada manusia yang menghargainya dengan ketulusan setara angkasa dan kesetiaan paripurna.

You May Also Like

6 komentar

  1. keren nih... membicarakan cinta dari perspektif yang bagi saya adalah baru. memahami cinta dari sebuah analogi... bener-bener.. mantap sekali...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe makasih ya udah mau mampir kasih komentar

      Hapus
  2. sedap penjabaran tentang apa itu cintanya.

    BalasHapus
  3. Jadi begini cinta di mata penganten baru. Huhuuuu.... Bikin semangat menemukan cinta abis baca ini.. Semoga cinta belum nikah sama rangga.. :) Nice banget ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha Cinta udah jadian sama Mamet tauuu

      Hapus