CERBUNG: DUA SAJAK JANJI

by - 19.19



Sepatuku hilang. Ah, tidak. Tepatnya sengaja dibuang oleh seorang perempuan kolokan yang menggemaskan. Dia, kekasihku, akan menyingkirkan benda apapun di dekat kami setiap kali beradu argumen. Entah itu melempariku dengan handuk bulukan yang kupakai setiap kali bermain basket atau mencederaiku di dahi akibat high heels melayang dan tentunya aku minim persiapan ancang-ancang. Perempuan memang kode paling sulit ditebak. Sekalinya ditebak pasti terlambat dan keburu meledak. Sebetulnya aku suka itu, Suka setiap kali bertengkar dengan Abigail-ku mengingat bahwa dialah satu-satunya yang bisa mematahkan kalimat yang kulontarkan tepat sebelum mencapai titik. Memesona, hebat, dan aku tergila-gila padanya.

Kejadiannya kemarin, persis di saat aku lelah setelah mengurusi kepanitiaan untuk pekan olahraga kampus. Langit yang menaungi gedung mulai gelap dan seharusnya saat itu aku sudah bercumbu dengan kasur kesayangan, tapi Abigail datang dan tubuhku yang pegal harus sabar.

“Jadi, sepatu baru ini yang bikin kau membatalkan kencan kita? Kau kan bisa beli besok, bukannya kemarin di saat jadwal kencan kita seharusnya berjalan lancar..” cerocosnya sambil berkacak pinggang.

“Itu cuma sepatu. Dan bertengkar gara-gara alas kaki adalah sesuatu yang konyol,” sanggahku sembari mencoba meraih jemarinya. Gagal. Kuputuskan untuk duduk di bangku panjang tempat orang-orang biasa menonton pertandingan basket. Abigail tepat di hadapanku dan belum menurunkan tensi amukannya.

“Minggu depan, kencan kita tidak boleh gagal lagi! Aku tidak mau tahu!”

“Manja.”

“Terus kenapa suka padaku?” alisnya berkerut.

“Ngga tau…” aku mengangkat bahu. Padahal jika dia mau menganalisa, tak sulit menemukan jawabannya. Abigail berbakat dalam olahraga, manis, tipe perempuan jauh dari imej pura-pura dan wajah cantiknya terkadang membuatku limbung. Beberapa poin itu sudah cukup membuatku enggan menjauhinya meski sebentar. Abigail memang agak sama dengan perempuan lainnya, tipikal cerewet dan gampang khawatir. Satu hari saja tak kuberi kabar, aku harus bersiap-siap menerima rauangannya yang masuk kategori mezzo-sopran. Cukup ekstrim dan mengerikan.


“Tuh, kaaan…”

Aku tertawa. Menyenangkan sekali melihatnya merajuk kurang kerjaan seperti itu. Kurasa, perempuan memang punya desain yang membuat lawan jenis terpancing hanya dengan satu kali menerjangkan kail. Mereka berbahaya dan jinak di waktu yang sama. Memusingkan, tapi tidak melihat senyumannya ibarat orang sakit yang tidak diberi obat. Akut, dan tidak akan sembuh.

Abigail kemudian mencondongkan tubuhnya padaku. Ini dia. Kondisi dilema yang sering sekali dihadapi lelaki. Menyambut, atau menghindar? Jika kusambut, tentu saja aku menang. Masalahnya, mungkin aku akan lepas kendali mengingat kami beda spesies, ditambah aroma parfumnya yang tidak bisa ditolak. Kacau. Ah, bodo amat. Kuubah posisi duduk dengan menggeser tubuh lalu berdiri. Jarak antara kami sekarang lebih jauh dari beberapa detik barusan.

“Takut, ya?” salah satu alisnya bergerak-gerak, disertai sunggingan nakal.

Wah, dia tahu apa yang terlintas di pikiranku barusan. Perempuan ini canggih juga. Kututupi kegugupan dengan mengambil tas olahraga berisi beberapa kaos ganti.

“Aku tidak bisa mengantarmu pulang malam ini, Gail.." kualihkan pembicaraan dengan memutuskan pulang.

“Hmm…oke. Tapi janji satu hal padaku…” pintanya.

“Iyaaa…kencan kita minggu depan tidak akan batal.”

“Dan kalau gagal lagi, akibatnya tidak akan bisa kau terka sama sekali,” ancamnya galak.

“Iyaaa…” kataku berbalik hendak pergi.

“Reza…!”

“Apa lagi?”

“Hmm…ah…bukan apa-apa. Ga jadi.”

“Aku juga cinta kamu.”

Abigail sepertinya kaget, barangkali karena kuucapkan timpalan bagi kalimat yang tadinya hendak diutarakan. Abigail tersipu dan tampak senang. Ah, dasar gengsian. Bilang cinta saja susah amat.
****

           Abigail, dengan segudang kosakata yang menunjang kecerewetannya, merupakan keturunan Hawa yang masuk kelompok mandiri. Saat tak bisa kuantar sampai rumah, dia tidak akan protes atau marah. Saat ada pertandingan basket dan dia sebagai kapten lalu tak bisa kutemani, dia bisa memaklumi. Satu-satunya yang menjengkelkan baginya adalah terabaikannya sebuah janji. Selama ini memang itu yang selalu jadi topik utama dalam pertengkaran kami. Sungguh tidak mudah membujuk gadis yang tengah kesal. Taktik tingkat tinggi diperlukan, dan terkadang malah tidak berhasil. 

            Kubaca kalimat di layar ponsel yang baru saja berbunyi. Ada dua nama di situ. Satu dari Abigail. Dia mengucapkan selamat istirahat, juga memberitahu bahwa dia sudah mendarat di kamarnya semenit yang lalu. Aku lega. 

Baru saja kakiku menapak setelah turun dari motor, aku terhenyak. Ada seseorang di depanku, berdiri dengan mata sembab dan rambut awut-awutan. Pergelangan tangannya masih diperban, yang kutahu tiga hari lalu baru dipasang di bagian itu. Aku menghela napas dan mendadak kaku tak bisa mengelak saat gadis itu memelukku erat. Ada isak yang kudengar, isak yang kerap kali kutemani hampir setiap hari.

       Ini sebabnya aku tak bisa selalu menepati janji kepada Abigail. Manusia ini seperti kriptonit, melemahkan sel-sel tubuhku yang sama sekali tak bisa lari dari keinginannya untuk selalu bersamaku. Setiap kata yang keluar dari mulut manusia berambut panjang ini seperti titah yang tak bisa kucegah. Aku terjebak. Apa yang harus kulakukan saat gadis ini mulai bicara? Apa yang akan terjadi padaku? Lari? Atau…tetap bersembunyi?

You May Also Like

2 komentar