BUKU HUJAN DAN PENA KOPI

by - 20.56

Permukaan meja kayuku berbintik-bintik akibat gumpalan bening memercik saat kubuka buku hujan di atasnya. Sengaja kubawa untuk kubaca. Lagipula buku ini bagus karena mengajarkanku untuk lebih arif dan sabar saat menerjemahkan apa itu cinta. Ada banyak butiran frasa di sana. Frasa yang terangkum menjadi klausa, lalu berkumpul membentuk formasi paragraf berlafaz ejaan-ejaan tentang banyak perasaan. Setiap kali mengkaji isinya, selalu ada kesan tersendiri. Salah satunya adalah persepsi mengenai kedamaian yang berdaulat dengan nyawa.

Di samping benda persegi panjang dengan sampul bening tersebut teronggok sebuah pena dengan aroma kopi manis. Dia tak lagi pahit karena kamu dan esensi jiwa yang tercakup di dalamnya mampu mengenyahkan lara. Aku masih ingat kapan pertama kali menggunakan benda yang ujungnya berbentuk bola kecil disebut tungsten karbida itu. Waktu-waktu yang pantas dikenang. Lantas, dengan wewangian yang terkandung di dalamnya, aku selalu merasa betah. Namun penyemangat utama tentunya ragamu yang sama sekali tidak beranjak setiap kali kutulis apa yang berkelebat saat mataku melihat, saat hatiku meraba, juga saat langkahku menjejak fenomena.

Buku hujan dan pena kopi serta kamu. Tiga terma dan sabda yang harus selalu ada. Aku tidak bisa membuka lembaran buku hujan tanpa ada pena kopi di sela-sela jemari. Pena kopi juga tidak akan terlalu berguna meski mengepul panas saat buku hujan tidak ada. Apalagi kamu. Penyempurna dua hal yang pertama kusebutkan tadi. Tanpa kamu, aku tidak bisa menggerakkan pikiran dan menulis dengan hati. Eksistensimu adalah mutlak kubutuhkan, agar keseimbanganku berlangsung teratur, stagnan dalam batas kenormalan dan menghindarkanku dari kegilaan karena terlalu dalam merindukan.

Meski saat ini kamu dan aku direntangi jarak, notasi yang kau kirim lewat pesan suara, atau rentetan kalimat semanis dedak kopi yang bercampur glukosa adalah jembatan transparan bagi rasa haus yang kerap kali meminta dimanjakan. Aku masih menanti pertemuan itu. Jika tiba saatnya, kubawa buku hujan dan pena kopi di tanganku dan merekat bersamamu.

You May Also Like

2 komentar

  1. Menenangkan hati bacanya, bagus deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak ya...saya liat masnya sering mampir. Aku mampir balik aaah hehee

      Hapus