MEMBACA BINTANG

by - 19.55

Aku sedang tidak ingin membaca apapun malam ini. Aku hanya ingin mengamati bintang dan deretan kalimat-kalimat mejemuknya menghiasi langit yang tak dihuni sedikitpun tetesan hujan, dan itu bersamamu. Meskipun orang-orang lalu lalang dan berceloteh tentang kesepian yang meradang, aku sama sekali tak ingin berujar tentang hal yang sama. Semua berbeda sejak kamu ada dan memberitahuku rahasia bagaimana membaca guratan rindu yang tersembunyi oleh awan dan senja.

Malam ini kamu yang membaca. Sunyi tanpa ucap, hanya dahimu saja yang sesekali berkeruT. Barangkali, kurasa, seorang lelaki akan tampak sedikit lebih menggemaskan jika tengah mengerutkan dahi dengan serius. Aku suka jika kamu seperti itu. Tampak lucu dan selalu membuatku tersenyum. Aku menikmati sekaligus mengamati bagaimana rambutmu bergerak bersama sepoi angin yang berulang kali menyapa tenda yang terletak tepat di belakang kita.

Sebuah tenda yang dinaungi kelambu rembulan. Terang dan ramai karena api unggun membuat lintasan hangat dengan suara-suara percik yang bersenandung.

Kamu disampingku dengan marshmallow manis di tangan sambil membaca sebuah buku dan sesekali menguap.
 
''Tidak baca buku juga? Kamu kan paling suka melakukan itu...'' katamu.
 
Aku menggeleng, ''Aku baru membaca tadi pagi.''
 
''Buku ini bikin aku ngantuk. Aku membacamu saja ya? Bagaimana?'' tanyamu.

"Membacaku?"

"Iya. Kamu adalah prosa terbaik yang pernah tertera bersama seberkas cinta yang memiliki cahaya. Seperti bintang. Kau tahu kan kalau aku menyukai bintang?"

Aku tersipu namun berusaha tidak membuatmu menang kali ini. Gila. Aku suka kalimat yang barusan itu.
 
"Kalau begitu aku juga ingin membacamu."

"Kenapa?" tanyamu lagi.

"Karena kamu adalah puisi paling unik yang pernah ditulis Tuhan untuk menjadi milikku."

You May Also Like

2 komentar