CERBUNG: LOVE LABIRYNTH (PART 1)

by - 19.35



“Aww…hati-hati..!” Rana meringis.
“Cerewet. Sudah kubilang aku tidak bisa berdansa. Begini nih akibatnya jika memaksakan sesuatu yang seharusnya tak boleh dipaksakan. Dasar cewek ga paham situasi. Bikin repot saja.” Tukas David datar. 
Rana memonyongkan bibir gara-gara mendapatkan omelan tak mengenakkan dari kakak kelas yang paling tak disukainya itu.
David terpaksa menjadi partner dansa Rana di prom night karena dia tak memiliki pasangan. Kebetulan guru dansa  sekolah melihat Rana melamun sendirian dan David berkeliling mengamankan situasi pesta lalu berinisiatif memasangkan mereka berdua. Semua orang yang melihatnya menjadi heran. Pasalnya, selama ini David dan Rana adalah senior dan junior yang selalu terlibat situasi yang tidak menyenangkan.
David laki-laki yang sangat mengagungkan disiplin dan peraturan, sedangkan Rana menganggap dua hal itu seperti barang rongsokan yang tidak berguna. Rana yang tidak tahu David tak bisa berdansa, menuruti perintah gurunya dengan sikap biasa saja. Setelah mendapat hadiah berupa luka lecet yang menyakitkan, barulah Rana kesal setengah mati meskipun dia tahu David sama sekali tidak sengaja.
Sekarang David sedang sibuk berlutut di hadapan Rana sambil mengobati kaki gadis berambut hitam panjang itu dengan cairan untuk luka lecet.
“Kamu salah satu murid terpandai di sekolah asrama ini, mengapa berdansa saja ngga bisa? Oh ya, sekarang aku tahu kekuranganmu. Teman-teman sekamarku pasti tidak akan jadi penggemarmu lagi jika mereka tahu.” Rana tersenyum penuh kemenangan.
“Aku tak peduli,” ujar David tanpa ekspresi, “Sudah selesai. Sebaiknya kau kembali ke asramamu.” Kata David seraya berbalik.
Rana terlihat syok, “Apa? Kau tidak mau mengantarku? Senior macam apa kau ini?”

“Dengar, aku masih harus mengamankan situasi. Saat ini pesta dansa sekolah masih berlangsung. Mungkin saja ada yang mabuk atau berkelahi. Aku sudah cukup dipusingkan dengan hal ini dan gara-gara kau, waktuku terbuang percuma. Kakimu hanya lecet, bukan copot. Sudah sana.” omel David tanpa menatap Rana yang sedang duduk di kursi. Kaki telanjangnya menjuntai, tampak memerah.
David melenggang meninggalkan Rana yang masih meringis kesakitan karena jari-jari kakinya lecet akibat beberapa kali terinjak. Pesta dansa yang seharusnya menyenangkan malah menjadi mimpi buruk. Dengan susah payah Rana berdiri, mencoba berjalan untuk pulang ke asramanya. Dia makin kesal dengan David. Hanya karena laki-laki itu ketua keamanan sekolah, tak sepantasnya meninggalkan seorang gadis terluka sendirian di saat seperti ini. Mau tak mau Rana mengumpat pelandan berdoa supaya tidak penah lagi terlibat dengan cowok sembrono itu.
“Apa kubilang? Jika kau menerima ajakanku untuk datang ke pesta dansa sekolah, mungkin kau tidak akan berakhir begini.”
Suara itu. Suara yang sangat Rana kenal selama dua tahun sejak dia menginjakkan kaki di sekolah asrama ini. Suara yang sama seperti David. Rana berbalik, matanya memutar malas melihat siapa yang sedang bersandar pada dinding sambil melipat tangan.
“Mau apa?” tanya Rana datar seraya melangkah tertatih-tatih dengan sepatu higheelsnya yang ditenteng di tangan kanan, berusaha tak lama-lama mengadakan percakapan dengan makhluk menyebalkan yang menatapnya. 
Laki-laki itu tidak menjawab, malah mendekat dan menggendong Rana tanpa izin dan  membuatnya gelagapan, malu sekaligus risih.
“Ehh..apa-apaan ini?? Eric, lepaskan aku!! Lepaskan...!”
“Sudah terluka, masih saja gengsi. Bisa diam tidak?” 
Eric tidak mempedulikan Rana yang meronta minta turun. Laki-laki itu dengan santainya melenggang menggendong Rana sampai depan pintu kamar asrama. Gadis itu tetap tidak bisa mentolerir apa yang dilakukan Eric padanya malam ini. Sungguh aib digendong oleh playboy picisan kurang kerjaan yang hanya mengandalkan tampang dan kekayaan. Rana merasa jijik, sedangkan Eric tetap menatapnya santai. Rana memintanya pergi, namun sepertinya tak semudah itu. Eric tetap berdiri di depannya sambil tersenyum nakal.
“Kau sangat menawan malam ini, Ran. Ini masih pukul sembilan malam. Teman-teman sekamarmu juga pasti sedang menikmati pesta sampai tengah malam nanti. Sebaiknya kita masuk ke dalam. Aku akan membuatmu nyaman.”
“Menjijikkan.” Rana melotot ke arah Eric yang sepertinya berpikiran mesum.
“Tenang saja. Kau hanya perlu diam dan biarkan aku yang menyelesaikan. Kujamin kau..”
Plaakk..
Sebuah tamparan mendarat di pipi Eric.
“Jangan pernah berpikir aku akan melakukannya denganmu, Eric! Kau pikir aku wanita murahan??”
Daun pintu ditutup dengan kencang menghasilkan suara gebrakan yang menggema. Eric mengerutkan dahi keheranan.
“Apa tadi dia bilang? Aku kan hanya ingin memijit kakinya yang bengkak itu. Lalu apa hubungannya dengan wanita murahan? Dasar gadis aneh.” Gumamnya bingung, mengangkat bahu dan pergi dari sana.
####
Apa yang terjadi semalam benar-benar membuat Rana tidak bersemangat untuk pergi sekolah hari ini. Sekolah terasa begitu membosankan baginya. Semuanya tampak sangat hambar. Dia berjalan lunglai menuju kelasnya yang lumayan jauh. Kelasnya adalah  satu ruangan lumayan luas yang ada di dalam sebuah gedung bernama Gezvierre. Gadis itu hanya terhibur dengan lingkungan sekolahnya yang asri dengan arsitektur kastil zaman kuno. Gedung utama Gezvierre merupakan bangunan khusus untuk kelas. Asrama laki-laki ada di Gedung Reinier yang dipisahkan oleh sebuah jembatan lurus yang akan berakhir di Gedung Lornez, asrama siswa perempuan. Dari atas terlihat seperti huruf T. Ujung kiri adalah Reinier, ujung kanan adalah Lornez dan jembatan berada di tengah. Jika para siswa asrama perempuan dan laki-laki berjalan, mereka akan bertemu di satu titik lalu harus berbelok untuk menuju Gedung Gezvierre.
Rana berjalan amat sangat lambat sambil melamun tanpa menyadari kalau dia terlambat masuk kelas. Dia menepuk dahi melihat pintu depan gedung sudah ditutup. Yang terbuka hanya gerbang menuju gedung tersebut. Dia mendengus. Kadar stresnya bertambah satu level sehingga dia memutuskan melarikan diri ke gedung perpustakaan di dekat gedung Gezvierre sebelum ada personil bagian keamanan yang menangkap basah dirinya masih berkeliaran.
Seperti biasa, perpustakaan sangat sepi karena ini jam masuk kelas. Petugas perpustakaan hanya bisa menggelengkan kepala melihat Rana dengan santainya melenggang masuk tanpa ekspresi malu sedikitpun. Gadis bermata bulat itu duduk di bangku paling pojok. Dia tak pernah peduli jika melakukan kesalahan di sekolah. Itu sudah makanan sehari-hari bagi dirinya. Orangtuanya pun mengirim Rana ke sekolah asrama karena selalu membuat keonaran di sekolahnya yang lama. Tapi dia tak peduli dengan hukuman apapun yang diberikan.
Rana memandangi rak-rak di depannya, mengambil salah satu buku di sana dan mulai membaca.
“Well..well..well..lihat siapa yang ada di sini. Terlambat lagi ya?”
Rana menggeretakkan gigi-giginya yang putih dan rata. Dia sudah tahu siapa yang bersuara itu namun mencoba tak mendengar. Rana mengambil sebuah buku lagi dan mulai membaca, membiarkan buku yang satunya tergeletak terbuka begitu saja. Rana sedikit salah tingkah. Sebenarnya dia tak bisa konsentrasi sama sekali. Rasa sakit di kakinya masih terasa, kekesalan terhadap David belum hilang, ditambah setan tampan yang selalu saja muncul tanpa permisi sekarang pun ada di dekatnya.
Eric tiba-tiba duduk di depannya sambil menatap gadis itu. Rana merasakan lensa mata lelaki itu seperti menelanjanginya. Dia berpikir untuk menyingkir, namun jika dia beranjak Eric pasti akan tetap mengikutinya.
“Jangan pura-pura membaca. Aku tahu kau sedang memikirkanku.”
“Yakin sekali.” Cibirnya sebal.
“Aku mencintaimu.” Ungkapnya tiba-tiba.
Mau tak mau, Rana mendongak, menatap Eric seperti menatap kecoa,” Lelucon yang bagus. Kurasa kata-kata itu sudah berjuta kali kau ucapkan pada seluruh gadis di sekolah ini. Maaf, aku tidak tertarik pada playboy.”
Eric menarik lengan gadis itu sehingga tubuh mereka berdua menempel erat. Rana menelan ludah.
“Lepaskan aku.”
“Aku takkan melepaskanmu. Kau pikir aku tidak bisa berubah? Aku menyukaimu sejak awal, mengejarmu sekuat tenaga namun dengan mudahnya kau memintaku melepaskanmu? Tidak semudah itu, Nona!” ungkapnya dengan tatapan tajam.
Rana merasa laki-laki di hadapannya itu sangat menakutkan. Dia tak pernah melihat Eric seserius itu. Eric tidak berusaha mendekatkan wajahnya lagi, membuatnya mematung. Kali ini dia dapat melihat wajah laki-laki itu dengan sangat jelas. Matanya, bibirnya…semua yang ada pada dirinya.
“Sudah selesai??”
Rana dan Eric menoleh. David tiba-tiba ada di sana, menatap tajam ke arah mereka yang langsung saling menjauhkan diri.
“Kukira ini bukan urusanmu...” Eric menyiratkan ekspresi tak sukanya pada David.
“Ini urusanku. Gadis ini punya hutang padaku dan harus diselesaikan hari ini juga.“ David menyela, tanpa basa basi meraih pergelangan tangan Rana dan menariknya pergi dari tempat itu. Rana hanya dapat melongo melihat apa yang baru saja dilakukan seniornya. SekilasRana menatap Eric yang sepertinya sangat kesal. Rana tak menyadari, sesuatu dari saku seragamnya terjatuh tepat saat dia pergi.
“David..kau ini kenapa, sih? Hutang apa yang kau maksud??” tanya Rana saat David membawanya ke kantor keamanan. Hanya ada mereka berdua di sana.
“Aku memaafkanmu untuk keterlambatan hari ini. Tapi…bisakah kau menjauh dari laki-laki itu? Apa di sekolah ini stok pria tampan sudah habis sehingga kau lebih suka berduaan dengan Eric ketimbang yang lain?” cerocos David, membuat Rana mengerutkan dahi karena tak mengerti sama sekali maksud ucapannya.
“Apa kau bilang? Aku tidak berduaan dengannya. Dia yang mengahampiriku. Jika kau punya masalah dengan Eric, selesaikanlah tapi jangan bawa-bawa aku. Kalian benar-benar laki-laki kurang kerjaan. Yang satu playboy, yang satu memuakkan. Saudara kembar macam apa itu?” ejek Rana.
“Apa tidak ada yang lain selain Eric?” tanya David, “Ferry, Leon, Andra, atau siapa barangkali?”
“Itu semua teman-temanmu di bagian keamanan.” Sergah Rana.
“Mereka semua punya kualitas yang bagus.”
“Tapi mereka semua sudah punya pacar. Kau ini gila ya?”
“Kalau begitu cari yang tidak punya pacar!” David mulai tak sabar.
“Jika kau menyuruhku begitu, berarti aku harus mengencanimu. Di antara teman-temanmu, hanya kau yang tidak punya pacar.” Selorohnya cuek, memasukkan tangannya yang kedinginan di saku seragamnya. Rana terkesiap saat benda yang selalu ia bawa tak ada. Rana harus menemukannya secepat mungkin. Dia terlalu sibuk memikirkan benda penting miliknya sampai tak melihat raut muka David yang memerah dan tampak ingin tertawa namun ditahan sekuat tenaga. Rana merasa pembicaraan ini tidak ada gunanya. Apa yang terjadi di antara dua saudara kembar itu sangat mengganggunya karena mereka melibatkan dirinya dalam masalah yang justru Rana tidak tahu pangkalnya. David pun langsung menyuruhnya keluar secepat kilat.
Ketika Rana berlalu, David menatap punggung gadis itu dengan tatapan lembut. Tatapan yang sama sekali berbeda setiap kali dia berhadapan dengan gadis itu.

You May Also Like

0 komentar