LAYANG-LAYANG

by - 12.29

Mengobati jiwa yang tengah terbaring sakit setelah dihantam rindu tak semudah mengeluh akibat cuaca tak mendukung apa yang diinginkan tubuh. Aku butuh sesuatu agar yang tak terkatakan hinggap di depanmu. Setelah berpikir lama, kuputuskan merakit layang-layang sederhana dari kerangka-kerangka harapan yang dirangkai menjadi satu.
 
Secawan rindu diselipkan melalui layang-layang itu. Menerbangkan bangun datar dua dimensi dengan seizin angin dingin sepertinya menyenangkan. Senja pun masih setia dan membantu menuliskan rentetan kalimat cinta manja untukmu di sana. Layang-layang berbentuk perasaan terdalam itu bertukar arah dengan gerakan awan jingga seperti teh yang baru saja diseduh, juga seperti secangkir kopi yang diagungkan para penyair kelas tinggi. 
 
Renjana megahku berbentuk layang-layang ukuran besar dan meliuk di bawah perintah langit. Lalu bagaimana dengan rupa rindumu hari ini? Apakah sama dengan susunan abjda yang mampir ke dalam jiwaku saat mengingatmu? Ataukah dia berjuntai seperti ekor bintang yang melintas dan menjadikannya ikon untuk doa yang akan dikabulkan detik itu juga?
 
Layang-layangku masih berselancar di atas udara yang bergerak akibat rotasi Bumi dan mengatakan padaku bahwa dia dapat melihatmu lewat lereng berbatu yang hangat. Ahh..layang-layang membuatku iri dan cemburu. Seperti inikah rindu yang selalu berkelebat itu? Setiap mimpi terhadir lembut untuk terucap bersamamu. Setiap sepi berburu pembagian waktu yang kuinginkan untuk melihatmu. Begitu lama, namun aku masih sangat sanggup untuk menunggu.

You May Also Like

0 komentar