ESENSI SECANGKIR KOPI

by - 21.19

Aku tidak akan pernah bisa kehabisan kata memulas esensi secangkir kopi. Entah itu disandingkan dengan redupnya langit saat senja ataupun ketika disejajarkan dengan orbit bintang di malam hari. Secangkir kopi punya magnet unik dan seringkali memunculkan iri. Bagaimana mungkin cairan dedak pekat itu mampu mengantarkan ide-ide berbeda kepada setiap orang tanpa ada kemiripan di tiap aksaranya?

Tapi bagiku agak berbeda. Ada syarat mutlak di mana secangkir kopi baru bisa dinobatkan sebagai klausa, yaitu ketika kunikmati kehangatan kepulannya bersamamu sambil bercerita tentang cinta. Secangkir kopi adalah mesin waktu. Dengannya kita bisa melintasi Nil, Circassia yang sangat biru, termasuk memasuki mimpi seorang pecandu rindu.

Kita berdua berbicara lewat dentingan cangkir berisi aroma wangi itu. Katamu, itu cukup sebagai wakil dari ungkapan sayang seorang lelaki kepada perempuan miliknya. Aku suka setiap kali menikmati kopi bersama kamu dan sebuah buku. Paling tidak, kamu dan bibir itu teralihkan sejenak kepada deretan kalimat prosa dan bisa kusembunyikan rona merah di pipiku karena terlalu lama memandangimu.

Bukankah secangkir kopi juga saksi yang selalu melihat kita saling berkomunikasi mengenai kisah cinta? Dia tidak pernah protes apabila kusergah kisahmu, dia juga tidak menyela ketika kau memotong pembicaraanku. Dia teman dan pengikat yang baik untuk kita. Jika tak ada secangkir kopi, barangkali jeda di antara kita akan dihela oleh sepi yang meraja.

You May Also Like

4 komentar

  1. pecandu rindu, berasa lagi ngaca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama gue juga. Kita ni lagi sama2 kecanduan rindu kepada orang yang dicinta. Bener ga tuh?

      Hapus