CERPEN: I LOVE YOU LIKE CRAZY

by - 20.33

“Seberapa besar kau mencintaiku?” tanya Alaric.
Matanya menatap sendu sang kekasih yang tertidur di sampingnya di atas sebuah ranjang rumah sakit. Ruangan dingin itu menjadi sangat hangat setiap kali sang penjaga hati datang menjenguk.
“Hmm…aku mengantuk, Al..” gumam Nara yang ternyata setengah tertidur namun mempererat pelukannya.
“Kau tahu aku sakit.”
“Lalu apa masalahnya? Ah kau ini…” Nara membuka mata dan mengucek-nguceknya perlahan, lalu memandangi Alaric yang terlihat pucat, “Sakitmu tidak parah, hanya butuh pemeriksaan saja. Buktinya kau tidak perlu diinfus.”
“Tapi…”
“Dengar. Setiap hari aku datang mengunjungimu. Apa itu tidak cukup? Cepatlah sembuh, Al. Masih banyak yang harus kau kerjakan. Kau baru lulus kuliah dan masih ingin membangun firma hukum kan? Aku akan terus mendoakan dan memberimu sesuatu yang pasti akan aku suka.” Ujarnya dengan senyuman lembut.
Alaric sumringah. Sebetulnya sudah banyak yang diberikan Nara untuk lelaki itu, tapi sepertinya sang gadis tak pernah bosan memberinya sesuatu. Satu benda yang menurut Alaric sangat istimewa adalah boneka sapi perah kecil yang sangat lucu yang Nara berikan beberapa tahun lalu, sehari setelah mereka jadian. Agak menggelikan, dan itu membuatnya diejek teman-teman sekampus karena selalu membawa boneka itu ke mana dia pergi namun justru itu letak keistimewaannya.

“Sudah malam. Aku harus pulang.”
Raut wajah lelaki itu terlihat sedih. Dia tak ingin sendirian di ruangan serba putih itu. Ruangan yang memmpunyai ventilasi yang sangat baik namun terasa sesak setiap kali Alaric tidak melihat Nara disampingnya saat ia bangun.
“Jangan pergi…” Alaric memohon.
“Aku akan datang lagi besok. Sebaiknya sekarang kau tidur. Kau harus istirahat.” Ada gurat kesedihan yang sangat dalam terlihat di mata gadis itu. Tampak berkaca-kaca hampir meneteskan air mata, namun ia cepat-cepat tersenyum agar Alaric tidak melihatnya khawatir.
Gadis itu beranjak dan pergi tanpa menatap Alaric yang tertegun ditinggalkan sendiri. Ada yang aneh pada kekasihnya. Apakah ia menyembunyikan sesuatu? Beberapa bulan terakhir, wajah Nara terlihat lebih pucat dari biasanya. Setelah Nara pergi, Alaric mencoba memejamkan mata , berharap jarum jam berjalan dengan cepat agar pagi datang dan membawa kekasihnya kembali.
Saat fajar menjelang, lelaki tegap dengan mata coklat gelap itupun memandang ke luar jendela yang terbuka. Udara segar terhirup lembut, memberikan nuansa tersendiri bagi jiwa Alaric yang sedang letih. Tiba-tiba ia merasakan seseorang mendekapnya dari belakang. Ia menoleh sedikit, dan tersenyum ketika melihat Nara datang.
“Aku tidak akan melupakan hangatnya tubuhmu setiap kali aku melakukan ini..” ucap Nara pelan.
“Maksudmu?” tanya Alaric.
“Punggungmu hangat,” tukas Nara tanpa menjawab pertanyaan Alaric, “Aku ingin seperti ini seterusnya. Aku tidak ingin kau meninggalkanku.”
“Aku akan selalu di sini. Malah aku takut jika kau yang meninggalkanku. Tadi malam, aku bermimpi kita mengalami kecelakaan mobil dan kau terlempar ke luar, tubuhmu terlindas mobil yang melaju dari belakang dan kau meninggal. Mengerikan. Benar-benar mimpi yang serasa nyata.” Ujar Alaric.
“Ih seram sekali. Makanya sebelum tidur berdoa dulu. Kau selalu saja lupa apa yang kukatakan.”
“Hehe maaf. Ke taman, yuk? Di sini penat. Aku tidak terlalu suka kamar rumah sakit.” Alaric seraya menarik tangan Nara, tak lupa membawa boneka sapi kesayangannya yang juga menemaninya melewati hari-hari membosankan di rumah sakit. Baju pasien yang dikenakannya terlihat agak kebesaran karena Alaric lebih kurus sekarang.
Berdua mereka melewati lorong-lorong menuju taman yang ada di belakang rumah sakit. Ternyata, udara bersih memang sangat baik untuk pasien yang sedang sakit. Alaric merasa otaknya segar dengan berada di taman itu, berdua dengan sang kekasih. Tak terlihat ada orang lain karena hari masih sangat pagi.
Menjelang siang hari, mereka masih mengobrol di taman. Alaric terus saja mengoceh, membiarkan Nara tertawa dengan lelucon-leluconnya yang sangat garing. Pasien yang lain malah menggoda mereka dengan bersiul seraya tersenyum dan tertawa bersama. Gadis itu memperhatikan Alaric yang semakin hari semakin kurus, namun bahagia. Tiba-tiba sesuatu mengejutkan lelaki itu. Darah segar mengalir dari hidung Nara.
“N..Nara…kau..berdarah..!” pekik Alaric panik. Nara menyentuh tepi hidungnya yang berdarah, lalu mengusapnya cepat-cepat.
“Eh..aku tidak apa-apa kok. Hanya berdarah. Kau tidak usah khawatir…”
“Tapi kau…” Alaric makin panik saat darah itu tak hanya keluar dari hidung Nara tetapi juga dari telinga dan mulut gadis itu. Nara menutupi wajahnya, terlihat kesakitan dan membuat Alaric beranjak dan berlari mencari bantuan. Dia memandang ke setiap penjuru rumah sakit dan menghampiri seorang perawat yang sedang berjalan menuju ruang pasien.
“Suster..tolong…tolong saya..dia..dia berdarah dan..”
“Lho, Mas Alaric kenapa disini? Kenapa keluar dari kamar??”
“Tolong saya susteeer..ayoo…!!” Alaric menarik tangan si perawat dengan tergesa-gesa ke taman, dan Nara tergeletak di atas kursi taman berwarna putih yang sedari pagi mereka duduki.
“Lihat, suster…kekasihku sakit! Dia harus segera diobati..tolonglah suster…” Alaric memohon, semakin khawatir saat dilihatnya Nara tergeletak tak bergerak.
“Iyaiya tenang dulu ya, Mas. Saya akan menolong gadis ini...”
Alaric lalu menyentuh Nara yang sangat pucat lalu menggendongnya. Tiba-tiba Alaric terkejut, karena yang dia pegang adalah boneka sapi yang tadi dia bawa.
“Suster…kekasihku mana??? Kenapa jadi boneka? Tadi kugendong dia, iya kan??”
“Iya Mas Alaric..yuk ke kamar lagi..”
“Nara..! Nara..! Suster…aku mau ketemu dia..!! Kok boneka sapi? Oh..tidak! Nara berdarah, suster. Aku yang salah. Aku tak dapat mengendalikan kemudi dan mobilnya hilang kendali dan menabrak sebuah truk, suster..! Truknya besar..!” Alaric berhenti berjalan lalu menjambaki rambutnya, terduduk lunglai di atas lantai dan menangis.
Alaric memeluk boneka sapinya dengan sangat erat penuh senyuman. Lelaki tampan itu bersenandung tidak jelas, sempat agak menolak ketika suster membawanya kembali ke kamarnya, sebuah kamar pasien di sebuah rumah sakit jiwa yang sudah dihuninya selama empat bulan.

You May Also Like

4 komentar

  1. gw udah nebak salah satu di antara alaric dan ara udah ada yang meninggal tapi sama sekali ga kepikiran masalah rumah sakit jiwanya
    keren keren...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di situ kuncinya. Tiap cerpen pasti gampang ditebak, tapi harus bisa-bisanya kita ngebelokin jadi cerita yang endingnya ga terduga. Kalopun ga twisted, paling ngga, ngecoh dikit hehehe.

      Hapus
  2. Njrit endingnya bisa kesitu yah, ternyata lelakinya psykopat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya sedikit ragu mau dibawa kesitu endingnya. Elahhh kayak lagunya Armada mau dibawa ke mana kwkwkk

      Hapus