CERPEN: BICARA UNTUK CINTA

by - 19.32


Lekat kutatap wajah dengan kontur simetris di sampingku. Wajah Gitta. Bola mata coklat terang yang diam-diam selalu kukagumi sama jernihnya dengan air yang menjadi latar Danau alami Plivitce di Kroasia. Tidak berenti di situ. Rambut panjang miliknya terurai diliukkan angin yang menari di sela-sela tawanya yang renyah. Aku mendengarkan dengan seksama kalimat lugas dari lisan indahnya yang bercerita tentang keberhasilannya lolos kompetisi balet nasional. Itu impian Gitta sejak kecil, dan aku mengiringi usaha kerasnya sejak tiga tahun lalu. Tiga tahun yang sangat berharga untuk kami berdua.

 “Kau bilang sesuatu, Adrian?” tanya Gitta tiba-tiba. Dahinya berkerut, menilik ekspresiku untuk mencari tahu.
Aku menggeleng sambil tersenyum. Dia terlihat agak kecewa namun berusaha menutupinya.

“Kupikir tadi mendengar sesuatu. Eh, sudah hampir pukul enam. Aku harus pulang...”

Kuulurkan tangan dan diraihnya seraya tersenyum. Aku mengantarnya dengan motor yang kuparkir di depan kampus. Aku suka setiap kali dia memelukku dari belakang. Aku dapat menikmati embusan nafasnya yang hangat di punggungku. Hujan yang tiba-tiba turun membuatku terkesiap. Kupercepat laju motor karena tak mau dia kehujanan dan bersin-bersin beberapa jam setelah ini.

Kuantar dia sampai teras depan rumah ketika jarum jam menunjukkan tepat pukul delapan malam. Di depan pintu kayu dengan kenop bulat berbalut kuningan, kugenggam jemarinya yang selama ini menggenggamku. Kutatap lensa beningnya, kusentuh pipinya yang hangat walau tetesan hujan sempat singgah di tempat lembut itu. Aku tidak punya wewenang untuk bertindak di luar batas, jadi hanya sampai disitu saja. Tidak lebih.

Gitta menggigit bibir bawahnya. Jelas sekali dia tengah menanti sesuatu dariku. Mimik mukanya lucu jika dia melakukan itu. Aku tidak akan berpura-pura tidak paham apa yang diinginkan gadis berkulit kunig langsat ini sampai menunda beberapa menit sebelum membuka pintu. Dia menunggu tiga kata yang kami anggap sakral selama ini, tapi aku bingung bagaimana cara mengatakan tiga kata itu untuknya. Aku pernah mencoba memberinya sepucuk surat. Tapi...kurasa itu tidak tepat. Bagaimana mungkin aku mengatakan aku mencintainya lewat surat sedangkan kutahu Gitta ingin mendengar kalimat itu langsung dari bibirku? Tidak. Aku harus dapat mengungkapkannya dengan cara lain.

Aku mengelus rambutnya sesaat kemudian berbalik hendak pulang namun tiba-tiba Gitta memelukku dari belakang. Dia menangis. Tak ada suara, namun aku tahu dia menangis lewat nada nafasnya yang bergetar. Tuhan…aku mencintai gadis ini. Tapi harus dengan cara apa aku mengungkapkannya?

“Aku tahu kau mengalami hal yang sangat berat dan sulit. Tapi aku akan berusaha lebih memahamimu. Jangan pernah menyerah ya..”

Aku tersenyum seraya mengangguk. Lengan itu lalu mengendur dan kulangkahkan kaki hendak pergi namun tiba-tiba dia menahan tanganku untuk kedua kalinya.

“Apa kau mencintaiku? Katakanlah. Aku mohon.. aku harus tahu. Aku ingin tahu. Satu kali saja. Setelah ini aku tidak akan bertanya lagi.”

Posisi tubuhku kini berubah. Aku berhadapan dengan Gitta. Dengan mata basah seperti itu aku jadi tidak tega. Kuputuskan menghentikan pertanyaan yang diajukannya dengan mencium dahi Gitta. Kukecup lembut sambil kudekap tubuh mungilnya dengan hangat dan seerat mungkin. Keputusan yang agak gegabah dan aku tidak berpikir dengan otakku saat itu. Tapi aku ingin dia tahu bahwa aku mencintainya. Sangat mencintainya.

Nafasku masih berada di dahinya saat kulepaskan ciuman itu. Matanya yang sayu menatapku. Aku bisa membaca kata-kata lewat matanya dan bibir lembut gadisku menyunggingkan senyum yang sangat membuatku lega.

Aku berjalan mundur namun masih menatap Gitta.

Aku berpikir keras bagaimana mengatakan tiga kata itu dengan caraku. Kuharap kau tidak marah.
Aku menjelaskan dengan bahasa isyarat dan dia mengangguk tanda mengerti. Ada rona di pipinya. Kurasa dia tersipu dengan tindakan yang barusan kulakukan padanya.

"Aku juga cinta kamu..."

Giliranku salah tingkah. Aku memang sudah menunjukkannya, tapi aku tidak berpikir bahwa Gitta akan membalas.

Aku pulang dengan senyuman. Kecelakaan dua tahun lalu yang membuatku cacat mengubah segalanya. Aku tak bisa berbicara dan belum sempat mengungkapkan perasaanku kepada Gitta. Tapi aku tahu semua belum terlambat. Aku lega karena gadis itu tahu aku mencinta hatinya dan dia pun membalas perasaanku.

Tuhan punya cara tak terduga saat menghadirkan cinta pada dua manusia. Selebihnya, kita yang berusaha mencari cara mengungkapkannya. Bagiku yang tak bisa lagi bicara, tatapan mata dan dekapan hangat adalah strategi yang kukira cukup bagus. Hasilnya keren. Yang kucinta punya rasa yang sama. Lalu aku tahu bahwa tak butuh kata untuk menyatakan cinta. Segalanya bisa dicoba, yang penting melibatkan hati di dalamnya.


You May Also Like

6 komentar

  1. Bagus cerpennya kak :)) *keep writing*

    -www.fkrimaulana.blogspot.com-

    BalasHapus
  2. weeh feelnya okeh (: endingnya juga. Cuma ada beberapa kalimat yang kepanjangan, Kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ntar aku ambil gunting rumput dl aaah hehe makasih komentarnyaaa

      Hapus
    2. Gak masuk notify G+ susah juga ya? -_-a Kalau gak direload, gak bakal tahu kalau udah dibales. o.Oa

      Hapus
    3. IYa ni baru tau ada balesan

      Hapus