CERBUNG: LOVE LABIRYNTH (PART 2)

by - 11.57

Efek kejadian di perpustakaan dan David yang senewen tanpa sebab sepertinya belum berakhir. Rana yang awalnya tak peduli mendadak cemburu jika Eric sudah menggombal pada tiap gadis yang ditemuinya di kantin sekolah atau lorong. Namun dia pun tak suka jika David tak ada untuk mengomelinya soal peraturan dan selalu berdebar jika bertemu lelaki itu. Tapi itu tak berlangsung lama. Rana tak sengaja menumpahkan sup di kantin sekolah dan membuat seorang siswa terpeleset. Itu cukup membuatnya dijebloskan ke kantor keamanan dan kembali bertatap muka dengan David yang malah menatapnya tanpa berbicara. 
Gadis itu salah tingkah. Beberapa menit berlangsung kaku karena David sepertinya enggan buka mulut sama sekali. Selain lelah, itu membuat Rana menjadi jengkel. Untuk apa dipanggil ke kantor keamanan hanya untuk dipelototi? Rana memutuskan untuk beranjak.
“Kau mau memberiku hukuman atau tidak, sih? Tidak lelah ya menatapku dari tadi seperti itu?”
Rana melangkah pergi namun terhenyak saat David tiba-tiba menarik tubuhnya dan mencium dahinya dengan lembut. Tanpa disadari keduanya, dari pintu yang sedikit terbuka Eric melihat apa yang terjadi. Dengusnya terdengar pelan, tatapannya tajam sekaligus sedih seraya menggenggam erat benda milik Rana yang ia temukan di lantai perpustakaan.

*****
Ciuman lembut itu adalah mimpi buruk di luar batas nalar. Rana benar-benar mulai jatuh cinta pada David walaupun bukan ini yang dia inginkan. Kedekatannya dengan lelaki bermata elang itu seharusnya tak berujung seperti ini. Di dalam lubuk hatinya, ada pergolakan antara menikmati dan menyangkal rasa yang hadir tanpa izin.
Celakanya, David melakukan perbuatan itu sekali lagi tepat ketika Rana berjalan sendirian di lorong sekolah. David sudah mulai tidak waras. Namun sekali lagi, wangi nafas lelaki itu membuatnya sangat nyaman. Entah bagaimana Rana harus bersikap ketika bertemu dengan David setiap kali dia berjalan di depan kelas atau taman sekolah. Itu salah satu yang dia pikirkan selain memikirkan benda kecil penting yang hilang dari saku seragamnya. Rana harus menemukan benda itu secepatnya.
Memutar kembali memori otak memang tidak gampang. Mengingat kapan, ke mana dan di mana terakhir kali Rana berada bersama benda yang hilang itu sungguh menguras pikiran. Dia terkesiap. Selain kantor bagian keamanan, tempat terakhir yang dia datangi adalah perpustakaan.
Rana pun memutuskan membolos hari itu. Dia mendatangi perpustakaan, tanpa berdandan ataupun sarapan.
“Ya ampun..aku teledor sekali. Bisa-bisanya kuhilangkan benda itu.” Gumam Rana pelan sambil mencari-cari di bawah meja lama sekali sampai dia berkeringat walau pendingin ruangan berhembus lumayan dingin. Rana hampir putus asa dan gusar setengah mati.
“Mencari ini?”
“Apa? Aduhh..!”
Rana mengaduh saat terantuk meja. Dilihatnya seorang lelaki tampan tersenyum seperti kucing seram. Rana bangkit, mengelus kepalanya yang sakit dan kaget melihat Eric menggenggam apa yang dia cari.
“Kau..di..di mana kau menemukannya??” tanya Rana terbata.
“Di sini,” jawab Eric santai, “ Well..well..well..kutemukan rahasiamu, Nona. Pantas saja. Kuperhatikan kau memang gadis yang tidak biasa.”
Rana mulai salah tingkah, tak tahu harus mengelak bagaimana karena Eric bukan manusia bodoh. Dia pasti tahu fungsi benda yang digenggamnya. Eric menatap benda itu lalu tatapannya beralih pada Rana dan mendekat. Dia tak dapat mundur lagi karena Eric mengunci gerakan gadis itu dengan meletakkan tangannya di rak disamping kanan kiri. Wajahnya semakin mendekat, tatapannya makin tajam. Tapi anehnya beberapa detik kemudian tatapan itu berubah, terlihat tenang dan datar.
“Aku mencintaimu. Kau dapat bicarakan apa saja denganku. Yang kubutuhkan darimu adalah kepercayaan. Aku benar-benar bisa berubah dari playboy yang kau benci menjadi seseorang yang akan paling kau sayangi. Terbukalah denganku. Gampang kan?” raut wajah Eric berubah lagi. Ceria dan cerah.
Rana mengerutkan dahi. Ada apa ini? Playboy memuakkan bertransformasi menjadi malaikat penuh senyuman? Mustahil.
“Oh ya. Ini kukembalikan. Kurasa kau sangat membutuhkannya. Benar kan?”
“Tapi…”
“Aku takkan bilang siapa-siapa. Tenang saja.” Tukas Eric dengan senyum nakalnya seperti biasa. Rana sedikit lega. Walau Eric sangat menyebalkan, dia sama sekali bukan pembohong.
Rana tergesa-gesa menuju ruang kelas meninggalkan Eric sendirian di sana. Bolos hari ini dibatalkan. Dia hampir sampai dengan nafas sedikit terengah. Saat hendak memasuki ruang kelas, David menangkap basah dirinya. Rana berbalik agak kikuk menatap David yang sepertinya baru saja memarahi seorang siswa. Kali ini pasti dia juga kena damprat lagi.
Benar saja. Gadis itu tak dapat menghindar dari hukuman yang diberikan David. Tak tanggung-tanggung, Rana harus berdiri di depan tiang bendera di bawah terik matahari.
“Jangan beranjak sebelum kusuruh.” Tukas David datar sambil menuliskan sesuatu di buku agendanya. Jade menggeram kesal.
“Hukum aku dengan cara lain saja, David. Aku belum sarapan. Badanku mulai lemas.” Pintanya.
“Bukan urusanku. Salahmu sendiri mengapa tidak sarapan sebelum melanggar peraturan.” Sergahnya cuek, melangkah hendak pergi. 
Rana cemberut.
“Kau menciumku kemarin.” Kata Rana kemudian.
David berbalik seraya mengerutkan dahi, “Memang. Tapi apa itu berpengaruh dengan peraturan yang harus dijalankan di sini? Kau pelanggar peraturan yang tetap harus dihukum. Menyuapku dengan ciuman tidak akan berhasil, Ran. Coba saja.” David mulai berlalu.
“Apa?? Apa kau bilang?? Kau pikir ciuman itu adalah transaksi murahan? Aku tidak mau dicium lagi oleh laki-laki kasar tak punya hati seperti kau! Aku menyesal sudah jatuh cinta padamu, David!!” teriak Rana lantang. David menghentikan langkahnya dan mendekat. Rana yang sudah kepalang kesal, membuang muka saat David menatap wajahnya.
“Kau..sungguh-sungguh? Waah, kejutan. Kau gadis yang sangat terbuka rupanya.”
Rana bingung, tapi otaknya bekerja kembali saat dia menyadari baru saja mempermalukan dirinya sendiri di depan laki-laki yang memang membuatnya jatuh cinta. Rana membekap mulutnya. Malu.
“I..itu hanya omongan tak bermakna. Sudah sana! Bukankah kau masih banyak urusan?”
“Baik. Aku akan pergi. Yang penting aku sudah mendapatkan yang kumau. Hari ini cerah sekali ya? Pasti bagus jika kuhabiskan dengan menikmati segelas sari buah,” ungkapnya santai, “Oh ya. Tetap di sini sampai kutentukan kapan kau kembali ke kelas.”
David meninggalkan Rana tanpa mempedulikan tatapan buas gadis itu. David melenggang dipandangi oleh Rana yang marah, namun perlahan amarahnya reda dan memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Semua harus diakhiri sebelum terlambat.
Panas matahari yang sangat terik ternyata mengalahkan stamina gadis itu. Dia tak sanggup lagi berdiri, dan akhirnya terjatuh lunglai di depan tiang bendera.

You May Also Like

0 komentar