CERBUNG: LOVE LABIRYNTH (ENDING)

by - 18.46



Beberapa saat setelah Rana sadarkan diri, dilihatnya David mondar-mandir seperti mesin pemotong rumput. Hal itu malah membuatnya semakin pusing. Gadis itu menggeliat dan David langsung tanggap.
“Akhirnya kau bangun juga. Kau pingsan selama dua jam. Baru dihukum jemur saja sudah seperti ini. Benar-benar tidak bisa diajak kerjasama,” omel David tanggap. Tanggap memarahi Rana yang baru saja bangun. Dia tak melihat mata gadis itu yang sayu dan ekspresi mukanya yang marah.
“Berhentilah membentakku! Aku kan…”
“Iya, maaf. Mengertilah. Memiliki kekasih yang hobi melakukan pelanggaran tak semudah yang kau kira. Aku harus menjaga citraku di sekolah ini.”
Rana melotot, “Kekasihmu?? Sejak kapan kita pacaran?”
“Sejak kau bilang kau mencintaiku, itu artinya kau kekasihku. Karena kau sudah bangun aku pergi saja ya. Cepat sembuh, Rana.”
Tanpa David ketahui, Rana menangis setelah dia berlalu. Suara tangisnya tak terdengar namun air matanya terus menerus jatuh hingga menetes di baju seragamnya. Rana tak bisa membiarkan ini berlangsung lebih lama lagi.

####
Setelah beberapa hari istirahat di kamar asrama, Rana kembali ke sekolah seperti biasa. Namun baru menginjakkan kaki di pelataran, semua mata memandangnya. Ada yang menggeleng-gelengkan kepala, menatapnya galak, sinis, dan ada juga yang tertawa. Rana berjalan diiringi gunjingan dan tatapan aneh. Begitu pula dengan Eric. Saat mereka berpapasan di koridor menuju kelas, tampak mata saudara kembar David itu berkilat.
Keanehan tak berhenti di situ. Saat makan siang, semua orang yang ada sepertinya membicarakan dia. Rana mulai tak nafsu makan apalagi ketika David tiba-tiba duduk di sebelahnya sambil membawa nampan berisi seporsi spaghetti dan segelas jus jambu.
“Tidak makan?”
Rana yang sudah hilang selera makin tak nafsu makan melihat David tersenyum aneh.
“Pergi, " usirnya kasar, "Kau membuatku makin muak. Orang-orang sepertinya membicarakanku. Dari tadi pagi, tidak ada seorangpun yang tidak menatapku dengan aneh, ditambah kau yang malah bersikap mencolok dengan duduk di sebelahku,” sambung Rana datar.
“Oh...itu. Wajar saja.”
Rana menoleh, “Kau tahu apa yang terjadi pada mereka sehingga melihatku sepertinya aku ini buronan polisi?”
“Tentu saja,” Ujar David santai seraya melahap spaghetti-nya dengan sangat tenang.
“Kenapa?”
“Mereka melihat foto yang dipampang di majalah sekolah.”
“Pasti foto yang sangat kontroversial atau menarik. Tapi…apa hubungannya denganku? Mereka melihat foto di majalah dinding dan melotot padaku sepertinya itu tidak masuk akal,” Rana bingung.
“Itu karena mereka terkejut foto yang dipampang adalah foto adegan aku mencium dahimu di lorong sekolah tempo hari. Memangnya kau tidak lihat? Kurasa ada siswa yang memergoki kita waktu itu. Tapi aku tak peduli,” ujar David santai.
“Apa??” 
Rana jelas tak dapat menahan suaranya yang bernada tinggi terdengar di seluruh ruang makan. Dia tak bisa tinggal diam. Rana sangat malu. Itu sebabnya semua orang memperhatikannya sejak tadi pagi. Gadis beranjak namun David menahan tangannya.
“Duduk,” Perintah David datar.
“Lepaskan aku, David. Aku harus mencopot foto itu!”
“Percuma. Semua orang sudah melihatnya. Lebih baik malu berdua daripada sendirian. Pakai otakmu sekali-kali, Ran.”
Rana tak tahan lagi. Tubuhnya lunglai dan panas dingin meski lensa matanya tak bisa menyembunyikan amarah. Ia berjalan dengan cepat tanpa menyentuh makanannya sedikitpun. Ia  berlari ke taman belakang sekolah dengan David yang mengejarnya.
“Rana...tunggu! Ada apa denganmu??”
“Dengar. Aku tidak mau lagi berurusan denganmu, David. Jangan dekati aku lagi!”
“Kenapa? Kau bilang kau mencintaiku.”
“Jatuh cinta pada laki-laki tak punya hati sepertimu? Memangnya tak ada orang lain, apa? Dengar, David. Aku sudah tak tahan dengan pandangan semua orang tentang kita. Kukira sederhana, tetapi ternyata rumit. Seenaknya saja kau mengumbar bahwa kita sepasang kekasih. Kekasih apa? Aku sudah bertunangan dengan seseorang dan dia tinggal di kota tempatku dibesarkan.”
“Apa? Kau bertunangan dengan seseorang?? Jadi apa maksudmu mengatakan bahwa kau jatuh cinta padaku waktu itu???”
“Dengan sikapmu yang menyebalkan itu, setidaknya ada seseorang yang harus memperingatkanmu, David. Aku muak melihat tingkahmu selama ini. Kau pikir dirimu hebat?”
“Jadi kau..mempermainkanku??”
“Lelaki sombong sepertimu pantas dipermainkan!”
David meradang, sampai urat-urat di pelipisnya tampak. Dia benar-benar marah dan dipecundangi seorang gadis cantik yang ternyata hanya mempermainkannya.
“Jangan main-main, Ran. Aku mencintaimu. Maksudku, aku mulai benar-benar jatuh cinta padamu. Bilang saja kau hanya bercanda dan ingin membuatku sewot. Ya kan?”
“Analisa saja. Apa kau menemukan kata-kata candaan dalam kalimatku tadi? David, David. Ternyata kau naïf sekali. Jatuh cinta itu hanya omong kosong. Aku bertunangan dengan orang lainpun karena perjodohan, tapi toh aku baik-baik saja.”
David merasa telinganya sangat panas. Dia tak pernah menyangka gadis yang ia cinta mempermainkannya semudah itu. David merasa dia adalah laki-laki yang paling bodoh. Dengan langkah cepat David meninggalkan Rana sendirian di sana. Gadis itu lega, sudah mengatakan apa yang seharusnya dia katakan kepada David.
“Haruskah kau katakan itu padanya di saat seperti ini?”
Rana menoleh. Eric melihat pelupuk mata gadis itu basah. Tanpa harus diberitahu, Rana mengerti bahwa percakapannya barusan tidak luput sedikitpun dari pendengaran lelaki di sampingnya itu.
“Kau jahat juga ya, “ tukas Eric menatapnya tajam, “Maaf aku tak sengaja mendengar semua itu. Tapi...David tetap saudara kembarku. Bagaimanapun jika ada yang menyakitinya, secara batin itupun menyakitiku. Yah...walau aku sedikit membencinya.”
“Aku minta maaf, “ ucap Rana pelan disela air matanya, “Eric…aku ingin bicara padamu.”
“Baiklah, jika itu bisa membuatmu berhenti menangis.”
Rana tersenyum, senyum tulus yang tak pernah ia berikan kepada Eric selama ini.
####
Sejak saat itu, David berubah drastis. Dia menganggap Rana tak pernah ada. Setiap kali berpapasan, David tak pernah sekalipun memandang ke arahnya. Dia sudah sangat marah dengan apa yang terjadi tempo hari. Hal itu berlangsung terus menerus, bahkan David sekarang mulai tidak peduli jika Rana melanggar peraturan. Dia akan menyerahkan urusan itu kepada rekannya sesama bagian keamanan sekolah.
Entah apa yang membuat David bisa begitu tahan dengan sikapnya sendiri yang acuh tak acuh. Namun di hatinya yang paling dalam, dia sangat merindukan Rana. Sebisa mungkin dia pantau apa yang dilakukan gadis itu di sekolah. Saat Rana sakit dan tidak masuk kelas beberapa hari, dialah yang paling bingung harus berbuat apa. Ingin sekali menjaganya, namun kemarahan yang sudah mengakar membuatnya menjaga jarak dengan gadis berbibir mungil itu.
Saat hari di mana Rana lulus, David sudah lebih dulu meninggalkan sekolah dengan nilai tertinggi seangkatannya. Rana gembira dan bertekad mengikuti jejak David. Suatu kali, Rana pernah berusaha menghubungi laki-laki itu, namun tak pernah ada balasan sama sekali darinya. Rana dengar sekarang David kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama, mengambil fakultas hukum. Sedangkan Eric mengambil fakultas kedokteran dan tinggal terpisah dengan saudara kembarnya walau masih berada di kota yang sama.
Setahun lebih David tidak pernah mendengar lagi kabar tentang Rana. Dia berpikir mungkin gadis itu sudah menikah saat ini, maka dari itu dia tak berniat untuk menghubungi atau mencari tahu. David sebetulnya mengetahui bahwa Rana lebih sering berhubungan dengan Eric setelah David tahu gadis itu bertunangan dengan orang lain. Rasa cemburu selalu datang, namun David tak dapat berbuat banyak.
Ketika David bertemu dengan Eric pertama kalinya setelah mereka melanjutkan pendidikan masing-masing, pertengkaran yang dulu pernah terjadi lambat laun memudar seiring waktu walau tak sepenuhnya harmonis. David pun tak keberatan saat Eric memintanya bertemu di sebuah kafe dekat taman.
David datang, dari kejauhan terlihat Eric sedang duduk sambil membaca buku. Ada seikat bunga bawar di atas meja.
“Eric..”
“Hei. Kau datang juga. Terima kasih.”
“Bunga untuk siapa itu?” tanya David heran.
“Untuk kekasihku,” jawab Eric tersenyum.
David mengangguk, “Ada apa kau memintaku datang?”
“Kau masih mencintai Rana?”
Pertanyaan langsung tanpa basa basi itu membuat David terhenyak, namun secepat mungkin menguasai ekspresi wajahnya sebelum terbaca oleh Eric.
“Dia..cinta pertama dan terakhirku. Aku tak pernah bisa mengikis rasa itu sampai detik ini.  Tapi..seperti yang kita duga sejak dulu, wanita adalah makhluk jahat yang bisa membuat otak dan jiwa terombang ambing. Jika sudah puas, kita akan dihempaskan tanpa rasa iba sedikitpun. Itu yang dilakukan Rana padaku. Kau mengerti, kan?”
“Jadi kau masih marah? Kau tidak bisa memaafkannya? Lagipula itu kan salahmu. Sebelum kau membuat pengumuman tentang siapa yang kau cintai, pastikan dia bersih dari masalah agar bisa hidup denganmu. Kau ini memang tolol.”
“Aku sedang tidak ingin mengingat masa lalu. Jika kau memintaku datang ke sini untuk membahas itu, kurasa cukup sampai di sini saja.”
“Oke, oke David..relax..! Aku hanya ingin memberikan titipan ini padamu. Ini dari Rana, dia memberikannya seminggu yang lalu. Dia ingin kau menerimanya. Jika kau tak suka, simpan saja di gudang tapi ingat, jangan dibuang.”
David membuka bungkusan kado kecil dengan bungkusan warna merah di tangannya, menemukan sebuah arloji yang bagus di sana. Namun ekspresi wajahnya tetap datar dan tak berubah.
“Oke, akan kusimpan benda ini.”
“Tidak dipakai?”
“Untuk apa? Mengingatkanku pada dirinya yang telah mempermainkanku?”
“Dia masih mencintaimu, David. Itu yang dia katakan seminggu lalu saat memberikan titipan ini. Dia tahu kau tidak ingin bertemu dengannya. Jadi bagian itu dia timpakan padaku. Setelah ini aku akan menemuinya. Kau mau ikut?”
David menggeleng. Sebelumnya dia sedikit terkesiap, sedangkan Eric menatapnya dalam diam kepada saudara kembarnya yang tampak masih memendam rasa marah dan kecewa pada Rana. Itu sangat dapat dimaklumi. Eric pun merasakan hal yang sama. Dia sangat kecewa karena cinta Rana bukan untuknya.
David berlalu dari pandangan Eric tanpa menoleh kembali, namun samar-samar lelaki berambut coklat itu melihat David memakai arloji yang Rana titipkan. Dia pun tersenyum.
Langit sudah mulai mendung, memaksa Eric untuk beranjak untuk menemui seseorang.
“Aku sudah menemui David dan dia sudah menerima titipanmu.”
Dilihatnya Rana tersenyum.
“Masih ingat pembicaraan kita di taman belakang sekolah ketika kau bertengkar dengan David? Sejak itu aku sadar bahwa kau benar-benar jatuh cinta kepada David, dan hanya kepadanya. Tapi aku senang kau mempercayaiku untuk berbagi. Kau tahu? Aku ingin sekali menyampaikan hal itu kepada David tapi kau melarang dan membuatku bersumpah. Terkadang itu sangat menyiksa, karena akupun mencintaimu seperti halnya David. Apa kau ingin David marah, berpikir kau benar-benar bertunangan dengan orang lain daripada melihatnya bersedih mengetahui kau mengidap leukemia dan tak punya banyak waktu? Jika saat itu aku tidak menemukan obatmu, mungkin hal ini akan terus kau simpan untuk dirimu sendiri. Ya, kan?” Eric menatap Rana yang tetap tersenyum, “Tapi…tenang saja. Aku tidak akan membiarkan David sedih. Mungkin dia akan tetap marah, namun kurasa, itu lebih baik daripada aku melihatnya menangis.”
Eric menengok arlojinya.
“Sudah sore. Aku pulang dulu, ya. Besok aku akan menjenggukmu lagi.”
Eric berlalu, menoleh dan tersenyum saat dilihatnya Rana pun tetap tersenyum. Senyum yang terkembang di bibirnya di dalam sebuah foto hitam putih, yang tertempel di atas nisan batu dihiasi bunga yang Eric bawa bertuliskan nama Amelia Rana Celia, nama indah yang akan selalu dikenang selamanya.

You May Also Like

0 komentar