BINTANG JATUH

by - 20.08

Bintang jatuh sepertinya sedang bersembunyi malam ini. Aku dan kamu berbaring diatas rerumputan hangat dekat bukit di mana bola berpijar itu selalu mampir menyapa dan kita mengharapkannya hadir. Apa benda langit itu benar-benar jatuh? Kurasa tidak. Mungkin lebih tepatnya melintas. 

Konon jika dia melintas dan kita menggumamkan permintaan di dalam hati sambil menutup mata, maka permintaan itu akan jadi kenyataan. Aku tidak tahu faktanya benar atau tidak. Aku pun tak terlalu fanatik dengan bintang yang tak memiliki spesifikasi bentuk. Hanya saja saat dia melintas, aku merasakan sensasi yang berbeda karena melihatnya bersamamu.

"Apa bintang akan melintas malam ini?" tanyamu tanpa menoleh, masih menatap langit.
 
Aku melihat siluet rasi di setiap bayangan kalimatmu, "Hmm..aku tidak tahu. Tapi terkadang dia muncul setiap kali kita mampir kesini."
 
Kamu tersenyum.
 
God..aku suka setiap kali kamu melakukan itu. Sederhana, tapi cukup membuatku tersipu entah karena apa.

"Ada apa?" kamu menoleh.
 
Aku menggeleng. Sekali lagi bibirmu tersenyum. Aku terkesiap dan posisi tubuhku duduk.
 
"Lakukan lagi...."
 
"Lakukan apa?" tanyamu.
 
"Yang barusan kau lakukan. Aku suka senyummu."
 
Kini kamu tersipu, sedikit salah tingkah dan menggaruk kepala sehingga rambutmu agak berantakan. Aku suka. Sangat suka.

Senyummu adalah hal yang sangat sederhana namun ternyata dapat mengubah duniaku. Dunia yang jauh dari riangnya cahaya, penuh pekat jelaga tanpa ada manis terselip menyapa. Tapi sekarang berbeda. 

Giliranku kini menyulam senyum menghayati satu rasa yang mengajakku berjalan lebih tegar dari sebelumnya sambil mengamati langit di atas sana.
"Lakukan lagi..." pintamu tiba-tiba.
 
"Apa?" tanyaku.
 
"Aku suka senyummu. Kurasa tak mengapa jika bintang jatuh tidak melintas lagi. Permintaanku sudah terpenuhi. Aku sudah memilikimu." katamu seraya masih menatap langit. 

Skak mat. Aku kalah.

You May Also Like

2 komentar