TOPLES KEINGINAN

by - 16.18

Ada beberapa tempat yang ingin kutapaki sejak dulu. Saat otakku mengenal kata sekolah, buku-buku perdana yang kubaca adalah Ensiklopedia Dunia, Mathilda, Rosemary's Baby, The Client dan Pelican Brief, juga beberapa buku lain. Cukup menyenangkan meski baru kutahu belakangan bahwa tiga judul terakhir lebih bagus dicerna oleh remaja dan dewasa, bukan anak ingusan yang menuliskan impiannya di kertas dan memasukannya ke dalam sebuah toples berukuran besar.

Aku suka ensiklopedia dunia. Di sana memuat berbagai pengetahuan yang disertai gambar menyenangkan. Aku terpesona pada Water Lily Pond milik Monet sejak melihatnya di buku itu. Aku jatuh cinta pada arsitektur kota di setiap negara lewat cermin tak kasat mata yang kutatap lewat perantara benda itu. Makin banyak membaca, makin banyak pula keinginan yang kutitipkan di toples yang kusembunyikan di kolong ranjang. Bagi sebagian orang, menyimpan harapan di kertas warna warni hanya membuang waktu meski bagi sebagian yang lain malah bagus.

Aku menulis banyak, bahkan hampir ratusan mimpi di toples itu. Aku ingin mendengar sapaan “Nye zabiwaite, khodit we Bolshoi Teatr” saat menginjakkan kaki di Rusia, menghirup pelitur kayu mewah dengan lorgnette di tanganku sembari menyaksikan Othello di Sidney Opera House, juga menikmati pementasan musik klasik di Harmony Hall Fukui di negeri Sakura. Aku penasaran mengapa bangunannya dijuluki Kotak Sepatu.

Aku ingin bisa bermain gitar dengan komunitas orkestra kelas atas. Aku mau lihai berseluncur di arena ice skating luar ruangan. Aku ingin berkemah di sebuah tempat dengan minuman jahe hangat dan seseorang di sebelahku tertawa. Aku ingin kuliah di satu negara yang bisa membuatku betah karena tidak ada sampah, memiliki sahabat sejati, mendapat keajaiban dan bangun dengan tubuh bertambah tinggi, jatuh cinta, menikah, punya anak, membangun sebuah rumah dengan arsitektur Jepang kuno, naik gondola di Venesia, melahap Fois Gras tanpa takut bertambah gemuk dan....ahhh aku ingin sekali menyusuri Oslo Radhus dan Mount Floyen di Norwegia. Tetapi satu hal yang paling kuinginkan dari semuanya, adalah menikmati semua itu bersama seseorang yang kucintai dan mencintaiku.

Semua tak ada yang luput untuk ditulis. Ada doa-doa yang terlantun di setiap kertas yang kugulung dan kutaruh di toples keinginan itu. Kini, seseorang hadir dan membuat hampir semua keinginanku terwujud. Dia adalah toples keinginanku yang berbentuk manusia. Dia tampan, dan aku suka senyumnya. Dia lucu, dan suka sekali tertawa. Dia sahabat sejati yang memilikiku lewat janji yang terucap di hadapanNya.

Toples keinginanku masih terisi. Kurasa, keinginan dibarengi doa bukanlah hal mustahil bagiNya. Tapi kini mulai lengkap, karena ada seseorang yang menggenggam dan memelukku setiap kali kuucapkan doa dan harapan yang kusimpan lewat benda bening itu. Kamu, milikku.


You May Also Like

4 komentar

  1. Good one, oh my lordd... kapan aku bs menulis dgn nyawa didalamnyaa.... keren :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaaa asik dibaca. Makasih ya kak...udah baca dan komen...

      Hapus
  2. Hai ijin blogwalking ya ;-)
    Ada info lomba blog nih. Klik link ini ya. Makasih:)

    BalasHapus