SURAT MALAM HARI

by - 19.30

Hei, suamiku tersayang. Di sana masih sore ya? Apakah senja sudah tiba? Di sini sudah lumayan gelap.
Oh ya, kau mau dengar ceritaku tentang cinta? Duduklah dekat-dekat, biar kuaksarakan satu kisah tentang kita.

Dulu, aku tidak pernah mengingat satu nama manusiapun setiap kali melangkahkan kaki. Dulu, aku tidak terlalu peduli apakah angin sedang kencang sehingga membuatku gusar oleh embusannya yang dingin, atau petir yang setia datang bersama rinai saat senja. Aku juga mencoba acuh tak acuh pada embun yang sesekali menempel di kaca jendela dekat tumbuhan di depan kamar dan mencoba merayuku untuk menyalaminya.

Satu purnama lalu tiba. Seketika ada nama seseorang yang langsung mencuri logika dan ingatanku tanpa permisi. Dia adalah kamu, yang olehNya diberi kewenangan untuk memiliki aku sebagai titipan yang akan kamu jaga, kamu cinta, kamu sayang dan kamu rindukan.

Ada percakapan menarik tadi malam saat kita berkomunikasi. Aku berbincang denganmu mengenai hujan. Di sini, hujan sedang hobi menyambangi genteng-genteng rumah, tanah lapang, mengucap prakata salam kepada kaktus yang ditanam sembarang entah oleh siapa, menyegarkan taman-taman yang sengaja dirapikan, juga membasahi para manusia yang lalu lalang. Tapi katamu, di sana, hujan hanya menjenguk satu tahun sekali. Aku merengut. Bagaimana mungkin tidak ada hujan? Lalu bagaimana aku akan memintamu memayungiku saat benda basah itu mencoba menyentuhku?

Katamu, tak usah aku kecewa. Di tempatmu sekarang berpijak, langit malam selalu menampilkan kontur wajah cerah dengan gemintang juga gulungan awan yang tampak samar. Katamu, pasti akan sangat seru jika kita naik ke atap lalu memandangi langit malam hari sambil membicarakan hal-hal lucu seraya dua cangkir teh hangat menjadi pelengkap ketika kamu menggenggam erat jemariku.

Aku jadi tidak sabar. Kamu adalah abjad yang dirangkai olehNya dengan sangat teliti. Kamu adalah lelaki dengan tawa yang tak pernah hilang, seseorang yang selalu kurindukan di setiap detik aku bernapas. Ini lumayan aneh, mengingat pertama kali kita bersentuhan setelah diizinkan Dia, kita tak saling tahu apakah kamu menyukai hujan dan aku antipati terhadap debu ruangan.

Kita berbeda, tapi kita saling cinta. Menurutmu rindu ya rindu, sulit diukur menggunakan alat apapun. Tapi bagiku rindu punya nyawa yang menghela setiap nama detik demi detik. Tak apa, aku tak keberatan. Tolak ukur rindumu padaku mungkin saja tidak sama dengan caraku mengukur renjana untukmu. Tapi tetap saja hati kita berdegup di frekuensi yang setara. Kita dua manusia dengan rasa yang identik. Kamu cinta aku, dan aku cinta kamu. Sederhana tapi punya makna. 

Segitu saja dulu ya, besok pagi kubuatkan kau sepucuk surat lagi.


You May Also Like

4 komentar

  1. Balasan
    1. Makasih banyak ya selalu mampir. Oia link blognya dong..pgn baca ni

      Hapus
  2. jadi ingey istri gw neh
    tisu mana tisu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kwkwkwk noh di warung mpok mimin ada.

      Hapus