SECANGKIR PAGI UNTUK SUAMIKU

by - 10.28

Pagi ini, seperti biasa embun mengiringi kedatangan mentari. Aku suka pagi, seperti halnya keranjingan menatap senja sambil menggenggam renjana. Mentari berujar tentang sesuatu yang berhubungan dengan hujan tadi malam. Aku tak mengindahkan, hanya mengangguk saja karena sedikit kurang antusias. Plasma panas bercampur magnet itu sangat ramah ketika pagi, tapi terkadang begitu garang beberapa jam kemudian. Aku sedang santai di balkon depan kamar dan merasakan cahaya itu menyentuh pori-pori kulit. Bach mengalun agak pelan karena kuatur volumenya selembut viscose. Lalu ada beberapa buku yang kuambil dari rak berwarna coklat di sudur ruangan. Ada Cala Ibi, The Fifth Mountain, juga Pope Joan. Semua sudah kubaca, hanya saja sedikit membosankan ketika melakukan sesuatu yang disuka tetapi hanya ditemani senyap.

Secangkir pagi yang hangat dengan buku-buku elegan seharusnya tak kusesap hanya dengan bayanganku sendiri. Ada seseorang yang sangat kurindukan di sana yang kuingin ada di sini. Seseorang di tempat dengan jarak yang tak dekat namun mengajarkanku bagaimana merapal koneksi agar mampu berkomunikasi lewat telepati. Tetap saja aku rindu. Tetap saja aku ingin menatap dan menyentuh orang itu. 

Meskipun jika dia di hadapan dan aku menggenggam buku-buku dengan otak konyolku yang dipenuhi setiap kisah di lembaran-lembarannya, aku tidak akan memaksanya mengerti apa yang ditulis John Grisham atau Tagore, atau berusaha menjejali otaknya dengan obsesiku terhadap The Alchemist milik Coelho. Aku hanya ingin bersamanya, tanpa melewatkan sedetikpun untuk bisa berbagi setiap hal dengan dia.

Aku ingin menawarkan secangkir pagi padanya setiap hari. Secangkir pagi yang kubuat sendiri dengan bahan-bahan berkualitas tinggi. Ada bubuk cinta di dalamnya, juga campuran vanilla lezat dengan tekstur legit seperti halnya harapan dan doa-doa. Aku juga akan menceritakan lelucon garing yang justru biasanya membuat dia tertawa. Aku suka caranya menggerakkan bibir ketika melontarkan kalimat-kalimat lucu. Aku suka intonasi dan warna suaranya yang sangat khas. Aku suka semua yang ada pada dirinya bahkan ketika dia tidur. Aku bisa merasakan alur detaknya, berpikir sambil memandangi wajahnya bahwa aku memang tengah jatuh cinta pada orang itu. Orang yang sejak dua bulan lalu namanya terukir di cincin pada jari manisku.


You May Also Like

2 komentar

  1. Jhon Grisham B) Paling suka tentang The Pelican Brief karya john grisham B) bagus wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih sama. The Client sama The Chamber ga kalah keren loh

      Hapus