CERPEN: MEMORI BINTANG

by - 09.14



Udara pagi di kampus saat itu sangat sejuk, sesejuk alunan yang dipersembahkan awan yang sedang baik hati, menutupi sengat si plasma panas di atas sana. Pukul sepuluh seharusnya menjadi saat-saat di mana penat terlepas dari setiap jiwa karena hawa masih begitu segar. Jika setiap mahasiswa menghabiskan jam pagi untuk makan di kantin atau bercanda di koridor, pasti akan lumayan menyenangkan. Tapi tidak dengan Rega dan Safa. Tampaknya mereka lebih suka bertengkar di depan umum. Itu cara instan yang otomatis memudahkan siapapun menjadi pusat perhatian.


”Dasar egois!” raung Safa lantang, membuat Rega mengernyit dan terpaksa menutup telinganya dengan jari telunjuk. Dilihatnya nafas kekasihnya masih tak beraturan, menandakan gadis itu masih sangat marah.

“Ya ampuun...kau ini kenapa, sih? Jika kau terus saja berteriak seperti itu padaku, aku yakin hantu-hantu di pemakaman akan bangun.” Rega dramatis.

“Aku tidak peduli. Kau pikir siapa dirimu? Seenaknya saja berkelahi lagi. Kuingatkan kau, Rega. Aku tidak akan mentolerir sikapmu yang satu ini. Drifting? Berkelahi lagi? Oh, mungkin kau lebih suka melihatku mati daripada menghentikan hobi konyolmu itu ya?” Safa berbalik beranjak hendak pergi, namun Rega menahan tangan gadis itu.

“Jangan marah. Aku hanya memukul, bukan membunuh mereka.”

Safa berbalik dan menatap mata Rega dengan tajam, “Itu sama saja, bodoh!”

“Itu berbeda.” Sergah Rega tak mau kalah.

“Aku tidak mau berdebat. Lepaskan aku.”

“Tidak mau.” Tolak Rega.

“Lalu maumu apa? Kau ingin aku melihatmu terluka lagi? Jangan harap!”

Rega mendekati kekasihnya, mendekatkan wajahnya dan menatap Safa dengan lembut,”Aku tidak akan terluka lagi, aku janji.”

Nafas Safa tertahan. Dia menelan ludah saat matanya dan mata Rega beradu pandang. Mata itu, adalah yang paling tidak dapat membuatnya marah terlalu lama.

“Kau kumaafkan setelah melepaskan tanganmu.”

“Janji?” Tanya Rega.

“Iya.” Jawab Safa agak terpaksa.

“Ya sudah. Hehe. Kau sangat baik. Aku mau beli es krim. Mau ikut?”
"Kau pikir dengan mengajakku makan es krim semuanya selesai?" Safa tak habis pikir.

"Ngga juga, sih. Kalau kamu tidak mau, ya sudah. Oh ya, siang nanti kau bisa pulang sendiri, kan? Aku sibuk. Mau futsal."

Rega kemudian meninggalkan Safa setelah sebelumnya tersenyum manis kepada gadis itu dan tetap tidak menggeser ekspresi jengkel Safa menjadi netral. Safa masih tak mengerti dengan dirinya sendiri. Sudah dua tahun, dia tetap bertahan mencintai dan menemani laki-laki yang sangat terkenal sebagai preman kampus. Entah mengapa gadis itu tidak pernah bisa jauh ataupun lepas dari Rega. Sesuatu di dalam laki-laki itu selalu membuatnya gugup dan nyaman dalam waktu bersamaan. Meskipun sudah dua tahun, rasa gemetar dan jantung berdebar kencang masih terus ia rasakan ketika Rega menatapnya lekat-lekat.

Setiap kali Rega berkelahi dengan mahasiswa lain atau siapapun itu atau terluka akibat balap liar, entah dari kampus yang sama atau tempat berbeda, dialah yang selalu menjadi buah bibir. Safa pikir menjadi kekasih pembuat onar  tidak akan terlalu berpengaruh. Ternyata dia salah besar.

Saat inipun seluruh mata tertuju padanya, berbisik dan memandang dengan ekspresi mencibir saat dia memasuki kelas. Safa tahu apa yang sedang diperbincangkan teman-teman sekelasnya. Safa merasa salah tingkah dengan semua tatapan itu. Jika bisa, dia ingin berlari sejauh mungkin dan tak pernah bertemu mereka lagi.


****

Bibir Safa mengerucut memandangi Rega yang malah uring-uringan ketika dihadapkan dengan deretan soal-soal yang berkorelasi angka. Dia terpaksa menjadi partner belajar Rega dan harus menangani kekasihnya yang memiliki otak level jongkok dalam mata kuliah statistik. Memiliki kekasih yang duduk hanya berjarak empat meter dari bangkunya lumayan tidak menyenangkan. Safa harus sabar setiap kali Rega gagal menjawab pertanyaan yang diajukan dosen.

“Ya Tuhan…aku tidak percaya bahwa orang bodoh ini adalah kekasihku.” Ungkap Safa syok.

“Otakku bukan sirkuit komputer. Jangan syok begitu. Kau membuatku merasa bahwa aku ini orang paling bodoh sedunia.” Protes Rega sambil menggaruk kepalanya.

“Lalu? Itu memang kenyataannya. Kau lebih menggunakan otot daripada kepala, jadinya seperti ini. Otakmu karatan karena tidak pernah digunakan!” seloroh Safa galak.

Rega hanya bisa nyengir dilontari perkataan pedas dari kekasihnya. Dia malah senang melihat gadis itu marah karena bagi Rega, si cantik bermata bulat itu tampak sangat seksi jika sedang menatap dengan tatapan tajam ke arahnya. Rega lalu mencondongkan badan ke arah Safa yang langsung terkesiap, karena jarak wajahnya dan wajah Rega hanya satu jengkal saja.

“Kau gadis pintar, tetapi mengapa begitu bodoh mencintaiku? Apa karena aku tampan? Jadi, siapa dong yang bodoh?” Tanya Rega tiba-tiba dengan ekspresi konyol.

Safa salah tingkah. Gelagapan.

“Aku...aku hanya kasihan saja kok padamu. Di kampus, kau dikejar-kejar gadis dengan bakat teriak-teriak yang selalu menyorakimu setiap kali kau memenangkan pertandingan basket dan karate. Dan mereka pakai rok mini. Itu menggelikan."

"Maksudmu cheerleader?"

"Apalah itu, aku tidak peduli."

Rega mengikik.

"Lalu kupikir tak ada salahnya menyelamatkanmu dan…hei, percakapan macam apa ini? Tujuan awal kita kan belajar. Cepat, selesaikan soal-soal ini dan berikan padaku jika sudah kau jawab dengan benar. Ingat, besok kita ada quiz. Jangan kecewakan aku terus. Aku bosan melihat namamu selalu ada di daftar orang-orang gagal.”

Rega tertawa kecil, “Oke, oke…Nona Pintar. Aku akan bereskan soal-soal statistik biadab ini. Tapi...cium pipiku dulu.”

“Tidak mau.” Tolak Safa memalingkan muka.

“Otakku tidak bekerja dengan baik jika tak ada suntikan semangat darimu, Fa.” Rega memohon.

“Kerjakan..!” bentak Safa. 

Rega hanya bisa manyun dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba menyelesaikan soal mata kuliah yang menurutnya sangat sulit. Safa tertawa geli tanpa Rega tahu. Setelah beberapa menit, lelaki tinggi bertubuh atletis itu menyerahkan lembar catatannya. Safa membulatkan matanya, tak menyangka bahwa semua jawabannya salah. Dia menggeram menatap Rega.

“Ada apa lagi?”

“Semua jawabannya salah.”

“Sudah kubilang, cium pipiku dulu agar aku bisa menyelesaikan soal-soal itu dengan jawaban yang benar. Aku jamin. Ayolah…”

Safa tak habis pikir. Bagaimana mungkin sebuah ciuman dapat mengubah otak seseorang? Tetapi karena Rega terus saja mendesak, mau tidak mau akhirnya ciuman dari bibir indah itu mendarat di pipi Rega. Lelaki itu tampak sangat sumringah dan mulai memperbaiki jawaban. Setelah lima menit, Safa malah makin melongo dengan jawaban di depan matanya.

“Apa ini? Kok malah makin banyak yang salah! Kau bilang jika kucium pipimu, kau akan bisa menyelesaikan soal-soal ini dengan benar!” Safa protes. Rega tertawa.

“Mengapa kau percaya hal konyol seperti itu?”

“Apa? Jadi kau…”

Rega merasa inilah saatnya dia mulai mundur dan beranjak. Firasatnya tidak bagus saat melihat raut muka Safa yang sepertinya akan meledak.

“Regaaaaa…!!!!!”

“Hahaha..aku menaaang..!!”

Safa mengejar Rega yang berlari ke kebun belakang rumah dan mengacungkan bendera putih saat wedges gadis itu mendarat tepat di belakang kepalanya.

######
Ruangan kelas hening karena para siswa sedang menghadapi quiz dengan mata kuliah statistik. Seperti biasa, semua kepala tertunduk menyiratkan mereka sedang dipusingkan oleh angka-angka yang tertera menantang di kertas soal. Safa menoleh ke belakang, melihat bagaimana bentuk ekspresi kekasihnya saat mengerjakan ujian tersebut. Seperti dugaannya, laki-laki itu tampak seperti orang yang habis kalah judi. Safa tertawa melihatnya. Saat kelas hening seperti itu, tiba-tiba ponsel Rega berbunyi. Dengan santai Rega beranjak dari mejanya.
“Mau kemana kamu, Rega?” Tanya Bu Siska.
“Maaf, Bu. Ada telepon masuk dan sangat penting. Ini lembar jawaban milik saya. Selamat mengoreksi.”
Rega ngeloyor keluar kelas tanpa basa basi sambil menjawab panggilan di ponselnya. Bu Siska hanya bisa melongo, begitupun semua teman di kelasnya termasuk Safa. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, tanda ada pesan masuk.
Aku harus pulang, Ada urusan yang sangat penting. Jika sempat, aku temui kau besok malam.

****
"Apa yang kau tahu tentang astronomi?" tanya Rega.

Dia dan Safa memandangi langit malam yang lumayan cerah sehingga mereka berdua dapat melihat bintang sejelas mungkin dan menggambar sesuatu dengan menghubungkan gugusannya dengan telunjuk tangan. Safa menoleh ke sebelah kanan. Rega masih tetap menggoyangkan telunjuknya ke atas, entah menggambar apa.

"Hmm...aku tidak berbakat astronomi. Tapi aku suka bintang. Kau sendiri?"

"Aku sedang menghubungkan deretan bintang dan membentuk namamu. Lihat. Bagus, kan?"

"Aku tidak lihat apa-apa."

Rega mendecak kesal, "Imajinasimu terlalu dangkal."

"Jangan mulai. Memangnya ada apa sih, sampai kita melakukan ini lagi? Memandangi bintang lalu menulis nama. Tidak ada kerjaan lain?"

"Kalau...aku tidak tinggal di sini lagi gimana? Apa kamu bakal kesepian?" tanya Rega tiba-tiba.

Safa bangun dari posisi berbaring kemudian duduk, mengarahkan tubuhnya menatap Rega yang masih asik merangkai nama kekasihnya di langit sana.

"Memangnya kau mau ke mana?"

Suara Safa agak bergetar ketika bertanya. Rega menyusulnya dengan posisi duduk yang sama. Tatapan lembut itu jarang sekali dilayangkan kepada Safa. Tapi malam ini berbeda.

"Kuputuskan untuk pindah ke negara lain. Ayahku sakit dan beberapa hal harus kuurus. Aku tidak bisa menyelesaikannya di sini. Tidak apa-apa kan kutinggal? Paling hanya beberapa tahun."

Safa beranjak, melangkah cepat meninggalkan Rega sehingga lelaki jangkung itu terkesiap dan mengejarnya. Di saat tertentu, Safa tidak hanya galak. Bersikap galak jauh lebih menyenangkan dibandingkan bertransformasi menjadi gadis dingin seperti sekarang ini.

"Kok malah pergi, sih?"

"Ngaruh? Kau akan pindah ke negara lain, tidak peduli apa pendapatku, tidak minta izin dan...oh iya. Aku cuma kekasihmu, kan? Buat apa minta izin. Kalau kau mau pergi, pergi saja. Bukankah aku cewek mandiri yang bisa melakukan semuanya sendiri? Aku tidak butuh kau!!"

Keputusan untuk pergi jauh tanpa pemberitahuan sebelumnya menjadi alasan yang cukup logis bagi Safa untuk marah. Selama ini setiap keputusan, entah salah satunya tidak setuju atau setuju dengan syaratpun tidak pernah dilontarkan secara mendadak. Kekesalan Safa sudah tidak bisa ditolerir lagi.

"Aku mencintaimu."

Langkah Safa terhenti. Meskipun otaknya kadang macet, Rega tidak pernah gagal menciptakan atmosfir mencengangkan setiap kali Safa tidak dapat mengendalikan emosinya. Walaupun Rega tipe manusia yang gampang menyebabkan stres, lelaki itu selalu sukses membuat Safa tersenyum lagi. Beberapa menit yang lalu Safa tidak bisa berhenti mengoceh dan mengomeli Rega. Namun kalimat barusan rupanya ampuh mengubah semuanya.

Rega menatapanya lekat.

"Apa lihat-lihat? Minta dicium lagi? Ogah!"

"Ge er. Aku cuma ingin menatapmu saja. Kamu cantik. Galak sih, tapi ngga apa-apalah daripada ngga ada."

"Ih, tuh kaaan...!!"

"Hahahaha. Maaaf. Jadi, kau memaafkanku? Kabar Ayah sakit juga mendadak, Fa. Aku bukan cenayang dan tidak bisa memprediksi hal yang bakal terjadi. Mengerti maksudku?"

"Oke. I forgive you."

"Yes!!! Horeeee!!!"
Rega tampak riang. Safa menghela napas dan sedikit demi sedikit bisa memaklumi keputusan kekasihnya untuk tinggal di negara lain. Mereka akan saling berjauhan. Safa harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis jika tidak ingin diolok dan ditertawakan.

****
Bintang di langit malam masih tampak jelas terlihat meski gugusannya berubah. Namun Safa masih bisa membentuk garis imajiner lewat gemintang itu dan menghubungkannya sampai bertaut dengan nama Rega. Berbaring di atas tikar di belakang rumah seperti yang selalu dilakukan Safa dan lelaki jangkung-nya terus menjadi kebiasaan yang tidak pernah hilang meski raga yang dulu selalu ikut berbaring di sebelah kanannya kini tidak lagi ada.

"Bagaimana kabarmu, Rega? Aku rindu kamu. Sampai kapan kau akan tinggal di pikiran dan hatiku? Suatu hari kenanganmu harus pergi. Jika aku mengingatmu, rasanya sesak. Kau pasti tidak merasakan hal yang sama karena kau sudah tidak ada. Apa bintang menjagamu di atas sana?"

Safa terduduk, memeluk lututnya dan ada isak pelan terdengar di sela suaranya yang menyebut nama Rega.

Rega tidak pernah kembali. Kata terakhir yang diucapkan Rega adalah pesan bahwa dia akan pulang mengunjunginya. Rega sengaja mengambil penerbangan dari Belanda ke Malaysia untuk mampir sebentar mengunjungi sepupunya di sana. Tapi penerbangan dari bandara Schiphol itu tidak pernah sampai. Pesawat tersebut ditembak jatuh di atas perbatasan Rusia-Ukraina bulan Juli 2014 lalu.

****
Seseorang yang pernah singgah lalu pergi tidak akan pernah beranjak. Safa memahami hal itu meski berusaha membuang semua kenangannya atas Rega. Namun Safa tidak pernah menyesal. Tuhan memberinya kenangan. Kenangan dengan bintang dan Rega yang selalu ada di sebelah kanannya.

You May Also Like

0 komentar