CERBUNG: ARANA (PART 1)

by - 16.52



                   “Aryaaaa...!!!”
            “Aduh!! Siaaaal!!” pekikku saat kuas cat air memercik di tempat yang tak seharusnya. Ya. Lukisanku cacat. Sudah berapa kali? Ternyata jemariku tak cukup menyimpan kuotanya.
            Aku menoleh mencari sumber suara cempreng yang menggagalkan hasil kerjaku untuk kesekian kali. Kupicingkan mata dan mendapati seorang gadis cantik berlari sedikit sempoyongan ke arahku. Koordinasi tubuhnya sedang tidak bagus, kurasa. Aku dan dia kini hanya berjarak sekitar 30 sentimeter. Jengkal yang lumayan dekat, menakutkan, jadi kuputuskan mundur satu langkah. Dia terengah dengan butir-butir keringat bertengger di pelipisnya. Seksi, tapi tak cukup meredakan emosi.
            “Hadoooh. Bisa kan ga teriak kalo manggil? Kecoret niiih.” geramku seraya mendelik.
Gadis itu, Arana, memonyongkan bibirnya. Kuteliti sepertinya dia memakai lip balm. Oke, itu tidak penting.
            “Temenin aku ke pestanya Indaaah...” rajuknya lebay.
Aku sempat berharap suara manja itu bisa dia ubah menjadi level dewasa. Celakanya itu tidak pernah terjadi.
            “Ga bisa. Kalo aku nemenin kamu, cowokmu gimana?”
Dia menatapku sesaat  seolah minta dikasihani karena aku tak berminat menggubrisnya. Sebenarnya oke saja kutemani, namun berhubung cowoknya adalah sahabat baikku, aku tidak mau ada perang nantinya. Namun Arana tetap merajuk sampai tega membanting lukisan yang susah payah kubuat selama tiga hari. Aku memarahinya dan dia menangis.
            Aku melotot, dia membalas. Kuumpat, ternyata dia punya kosakata yang lebih beragam dan sukses menaikkan tensi darah. Tuhan...cewek macam apa ini??
            Langit yang menaungi kampus saat itu pun seolah ikut ambil peran penting dengan adegan pertengkaran kami. Tadinya cuaca cerah, namun berubah mendung setelah beberapa menit kami adu mulut. Semua orang yang lalu lalang di sekitar taman kampus pun memandangi kami. Ada yang tertawa, ada yang sedikit melotot padaku karena dikiranya aku menyakiti anak gadis orang, tapi untunglah sisanya cuek. Sumpah, menghadapi pitbul sepertinya lebih gampang daripada menghadapi gadis manja super cengeng. Cantik sih, tapi itu tidak mengubah apapun.
            “Lukisan ini kubuat tiga hari. Tiga hari!!” bentakku dramatis.
            “Ah, Arya lebay. Kau bisa bikin lagi. Apa susahnya? Pokoknya kau harus antar aku. Titik.”
            “Denger ya, Cewek. Aku bukan pengangguran. Aku sibuk dan kau punya Leon. Leon itu cowokmu dan harusnya kau minta anter sama dia. Males banget pergi denganmu. Sebentar-sebentar pengen diambilin minum lah, aku dianggurin selagi kau ngobrol dengan teman-teman yang lain lah, ujung-ujungnya kau minta digendong ke mobil gara-gara hak sepatumu patah. Maaf aja, tapi kejadian mengenaskan tempo hari itu kujamin tidak akan terulang. Lagian kau punya supir. Manfaatkan saja dia.”

            “Leon lagi sibuk, Ar. Ya mau ga mau aku minta anter kamu. Pestanya dua minggu lagi...” Rengek Arana.
            “So what?” alisku terangkat.
            “Ya anteriiin...”
            "Ogah. Ntar deh aku bilang Leon biar dia luangin waktu untuk mengantarmu. Udah pergi sana. Ganggu aja. Harus lukis ulang lagi nih, jadinya.” Sungutku.
            Mata Arana berbinar saat kukatakan akan membujuk Leon untuk meluangkan waktu. Tapi dia pun merengut saat kuusir. Aku harus melakukan itu kalau tidak mau lebih lama diganggu. Leon memang sibuk. Selain ketua BEM dengan seabreg kegiatan, sahabatku itu juga punya tanggung jawab khusus mengurus perusahaan setelah ayahnya jatuh sakit. Dia harus banyak belajar tentang bisnis selagi kuliah dan wajar saja jika tidak banyak waktu yang bisa diberikan kepada Arana. Akibatnya aku yang sudah kenal Arana dari kecil jadi tong sampah setiap kali Arana curhat. Aku juga dipaksa menemani dia kalau kesepian. Padahal akupun cukup sibuk mengurus klub karate, seni lukis, kuliah dan segala tetek bengeknya.
#####
            “Hei...sorry telat.” Leon terengah-engah menghampiriku yang sedari tadi menunggu di kantin kampus.
            “No problem. Arana keluar kelas sebentar lagi. Jadi jelaskan sama dia kalo lo bakal nganter dia ke pestanya Indah.”
            “Sorry banget. Tu anak pasti manja lagi sama lo. Gue tau dia keterlaluan meskipun kalian sobatan. Sorry ya.”
            “Iya, tuh anak kolokan terus dari kemaren. Lo juga sih sibuk banget. Punya cewek tuh ya urus lah, masa gue yang jadi korban.”
            “Iye iyeee...sorry...”
          Beberapa menit kemudian Arana menghampiri kami. Rambutnya yang hitam dan indah tergerai seperti menari dengan angin, bergerak-gerak dengan anggun dan mempesona. Lensa matanya yang berwarna coklat indah, bibir tipisnya yang sensual dan aroma tubuhnya yang eksotis adalah daya tarik khusus yang sulit sekali ditolak. Lelaki mana yang tidak jatuh cinta kepada gadis cantik pemilik tubuh indah seperti Arana? Belum cukup sampai di situ, Arana diberkahi dengan otak cemerlang. Nyaris sempurna.
            Semua itu terdengar hebat jika saja aku tak mengingat sifat manja dan cengengnya yang memiliki level sama seperti anak TK. Lelaki yang bersama dia harus kuat mental dan tahan banting. Leon adalah seorang lelaki yang beruntung mendapatkan cinta Arana. Lelaki lain harus bersusah payah dan berjuang begitu lama dengan hasil akhir ditolak mentah-mentah. Tapi Leon tidak. Dia membuat Arana yang judes menghadapi lelaki kecuali aku, teman masa kecilnya, tergila-gila dan jatuh cinta setengah mati.
            “Nah, kemauanmu sudah terkabul. Jadi, Arana...tolong menjauh selama aku melukis. Oke?” kataku dengan penekanan suara yang sangat jelas setelah Leon mengatakan bersedia menemaninya ke pesta.
            “Ih, Arya gitu banget.” Cibir gadis bertubuh ramping itu.
            “Bodo.” ujarku cuek. 
           Kutinggalkan dua sejoli itu mengobrol. Aku tak tertarik dengan topik pembicaraan mereka. Aku terlalu sibuk memikirkan hal lain. Yang penting Arana membiarkanku bernapas lega.
######
            Segelas kopi jahe dan brownies coklat di atas meja kerja mengenyahkan dinginnya malam ini. Sejak sore aku mengerjakan tugas kuliah yang lumayan banyak dan untungnya selesai tepat waktu. Pukul tujuh lewat lima menit aku berencana untuk langsung tidur. Badanku pegal karena terlalu lama duduk.
            Baru saja meghempaskan tubuh di kasur empuk, ponselku berdering nyaring. Aku menghela napas berat dan berpura-pura tuli tetapi bunyi menyebalkan itu tidak berhenti. Terpaksa kuraih benda itu dari atas bufet dekat ranjang dan tertera nama Arana di layar. Mau apa lagi cewek manja itu? Pasti mau merengek lagi deh.
            “Halo...” kataku menjawab panggilan dengan nada malas.
            “Aryaaaa...plis dong kesini. Aku sendirian...”
            Skak mat!
            “Apa sih, Na?? Ngapain nelpon? Leon mana? Kalian bukannya lagi di pesta?”
            “Tadi dia ditelpon sekretaris kantornya, ada rapat mendadak. Ini baru aja nyampe tempat pesta dia udah harus pergi. Rumah kamu kan deket sama rumahnya Indah. Kamu ke sini ya, pliiis..”
            "Ga mau." Aku menolak. Terdengar Arana mulai terisak. God, please!
            “Arya kok gitu, sih? Aku sendirian, takuuut...”
            Oke. Apa yang bisa dilakukan seorang cewek mungil penggerutu jika keinginannya tak dikabulkan? Paling-paling merengek seperti bocah ingusan yang tergila-gila kepada kembang gula. Iya, kan? Tapi tunggu dulu. Arana bukan hanya penggerutu. Dia bisa saja liar dan hilang kendali jika sudah marah. Kubayangkan hidupku terus dikuntit olehnya. Bagaimana aku bisa tenang jika hal itu terjadi? Baiklah, sekali lagi dia menang. Aku tidak ingin terlalu terlibat apapun lagi dengan Arana. Gadis itu membuatku gila. Semakin sering aku berurusan dengannya, semua terasa makin rumit dan tidak jelas. Tapi rengekan yang makin terdengar membuatku sedikit tidak tega.
            Akhirnya aku mengiyakan permintaannya untuk datang. Yah..memangnya aku punya pilihan lain? Kupakai jaket, merapikan rambutku yang sedikit berantakan, memakai sarung tangan dan membawa helm dari atas meja. Hanya perlu lima belas menit dari rumahku menuju rumah Indah yang tampak ramai dari luar. Dari kejauhan kulihat seorang gadis mengenakan gaun hitam selutut sedang berjongkok sambil menangis. Kuhentikan motorku di dekatnya dan membuka kaca helm. Gadis itu langsung berhenti menangis dan berdiri.
            “Arya...makasih ya udah datang. Kalo kamu ga ada, pasti aku kesepian.”
            Kuputar bola mata dengan malas, ”Ya udah naik sini. Aku anterin pulang.”
            “Aku ga mau pulang, Ar...”
            “Gimana sih, kamu. Terus maumu apa kalo bukan pulang? Udah malem, aku ngantuk, capek dan pengen istirahat.”
            “Aku pengen ke tempatmu aja. Aku masih sebel sama Leon. Bisa-bisanya dia lebih mentingin kantor daripada aku. Udah gitu...”
            Aku memutuskan untuk tidak mendengarkan ocehan Arana dan menuruti kemauannya untuk pergi ke kostku agar dia berhenti ngomel. Prediksiku salah. Dia justru makin cerewet sepanjang jalan dan membuatku stres. Di tempatku dia malah meneruskan tangisannya yang kukira sudah berhenti. Bukan hanya itu. Dia memelukku erat dan tak rela membiarkanku bernapas.
            Ya ampun, ini masalah sepele. Ditinggalkan sendirian di pesta bukan kiamat. Ditinggalkan di pesta ga akan membuat seseorang mati. Tapi bagi Arana, hal-hal remeh seperti itu adalah masalah besar yang bisa membuat hobi cengengnya muncul setiap saat.
            “Udah belom sih nangisnya? Mau sampe kapan kamu di sini?”
            Dia masih terisak, “Aku masih mau di sini. Pokoknya kamu harus temenin aku.”
            Oke, untuk kesekian kalinya aku tidak bisa menolak segala permintaan konyol Arana. Tiba-tiba dia berhenti menangis dan menatapku lama. Sangat lama. Aku sedikit kikuk dan jantungku berdetak sangat kencang. Sial. Ternyata rasa itu masih ada dan kuat sampai detik ini.
            “Kamu laki-laki yang baik. Tiap aku sedih kamu selalu ada. Maafin aku ya...aku ga bermaksud sedikitpun untuk menyakitimu.” Ucapnya seraya memelukku dari samping, mengapit lengan kiriku dengan erat.
            Aku diam. Tidak. Kamu tidak hanya menyakitiku, tetapi melukai hatiku begitu dalam sampai aku harus selalu mengingat malam itu, malam setahun lalu di kamarku ini.
            “Arya...aku...minta maaf. Kita kenal sejak kecil. Semuanya kulewati denganmu sampai kamu bilang mencintaiku dan akupun begitu. Hubungan kita sudah cukup lama, dan menurutku tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar dalam menjalin hubungan cinta.’’
            “Lalu apa masalahnya?”tanyaku.
            “Aku ingin mencoba hal baru, Arya. Tanpa kamu. Kamu..paham maksud aku,  kan?”
            “Maksudmu...kamu bosan dengan hubungan kita?”
            “Bukan begitu. Tapi tterkadang aku perlu melakukan segala hal sendiri, tidak harus bersamamu.”
            “Hmm..oke. Aku paham.”
            “Kamu ga sedih, kan?” Arana mencoba mencari tahu lewat mataku.
            “Yang penting kamu seneng, aku juga pasti ikut seneng.”
            Aku berakting sangat bagus kan? Tiga tahun bersama dan sangat mencintai Arana adalah proses memupuk rindu dan sayang yang mengakar kuat. Sampai detik ini aku masih mencoba untuk mengikis rasa cinta untuknya dari setiap hela nafasku, dari setiap memori yang melintasi otakku yang masih belum berhasil mengeluarkan namanya. Aku sedih, terluka, hancur, jatuh, dan akhirnya ada rasa benci kepada Arana meskipun masih sangat memujanya. Terlebih lagi ketika aku tahu bahwa dia meninggalkanku karena jatuh hati kepada Leon yang tak lain adalah sahabatku sendiri.
            Kusimpan semua emosi setiap kali melihat mereka berdua. Kucoba memasang tampang biasa saja ketika mereka bermesraan dan kupergoki. Kulatih ekspresiku dan berhasil membuat Leon tertipu saat kutersenyum ketika dia dan Arana sedang bersama. Leon tidak pernah tahu aku dan Arana pernah bersama karena kami bersahabat belum lama. Kucoba segalanya agar tak ada yang tahu hatiku hancur.
            Aku pun mencoba menjauh, namun justru Arana malah selalu ingin aku dekat dengannya. Mengapa dia tidak mengerti aku sedih? Mengapa tiga tahun tidak menjadikan gadis manja itu peka dan merasakan hatiku terhadapnya? Mengapa dia membuatku terjebak di situasi yang membingungkan? Aku benci Arana, tapi aku juga sangat mencintainya.
            Lamunanku akan masa lalu seketika berpendar dan hilang saat tangan halusnya menyentuh wajahku. Aku tersentak kaget dan mendadak gugup.
            “Apa kamu masih cinta sama aku, Ar?”
            “Buat apa tanya begitu? Toh ga akan ada yang berubah,” aku beranjak dan memunggunginya,”Kau cinta Leon dan cintaku udah pupus. Apa lagi yang tersisa?”
            “Tapi aku ga bermaksud...’’
            Kuhentikan kata-kata Arana dengan pelukanku. Pelukan hangat yang mungkin tidak pernah dia duga. Aku tak ingin begini, sungguh. Tapi aku mencintainya. Sangat mencintainya meskipun dia mencintai lelaki lain selain aku.
####
            “Ayo. Kuantar kamu pulang...” kataku. Arana memelukku dari belakang. Ada perasaan bersalah pada Leon namun hal itu tidak akan memutar waktu dan menghilangkan memori beberapa jam lalu yang kulalui bersama Arana. Tidak, aku bukan tipe lelaki yang gampang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi Arana memang gadis kejam yang tidak membiarkanku lepas walau hubungan kami bukan sebagai kekasih seperti dulu. Terlintas Leon dalam bayanganku dan itu membuatku makin tertohok.
            “Maafin aku...” ucap Arana.
            “Ini udah pagi. Kamu harus pulang...”
            “Orangtuaku ga pernah ada di rumah dan kamu tahu itu.”
            “Tapi Leon nanti cari kamu, Na.”
Dia mengerucutkan bibirnya lagi. Sesuatu yang membuatku gemas sampai ubun-ubun. Akhirnya setelah kubujuk Arana untuk pulang dia menurut dan tidak merajuk lagi. Untungnya Leon datang setelah Arana sampai di rumah. Sahabatku itu meminta maaf soal kemarin. Aku bersembunyi di dapur dan mendengar bagaimana mereka melepas rindu. Aku tidak marah, hanya saja hatiku tetap mencelos. Apa aku lelaki bodoh, aku tidak tahu. Jelas-jelas Arana sudah tidak memikirkanku lagi. Sayup-sayup kudengar langkah kaki mereka berdua menjauh.
            Beberapa menit kemudian aku pun keluar dari rumah Arana, mengendarai motorku dengan kecepatan sedang. Beberapa menit kemudian ada pesan masuk di ponsel dan kuhentikan laju motor sejenak.
            Aku kangen kamu, Arya. Boleh, kan nanti malam aku ke tempatmu lagi?
            Entah mengapa aku sangat gusar mendapat pesan yang tak biasa itu. Pesan yang sudah lama tak kuterima setelah kami putus. Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Arana?
            Kulaju motor dengan kecepatan yang lumayan gila. Tak ada apapun di otakku saat ini. Aku hanya ingin lepas dan tak memiliki beban lagi. Kupercepat laju kendaraan lebih dari sebelumnya. Akibatnya aku menyenggol sepeda motor lain yang kusalip. Konsentrasiku berantakan. Kucoba mengerem namun tanganku mendadak kaku. Aku jatuh terpental dan tubuhku membentur sesuatu. Sakit. Perih. Lalu gelap dan aku tak ingat apapun. Entah itu Arana, masa lalu, ataupun diriku sendiri.

























You May Also Like

6 komentar

  1. Cerpennya bagus, menginspirasi...

    BalasHapus
  2. kak, ujungnya....
    aku butuh sambungan ceritanya kak :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aahhh iya saaay...aku salah tulis...harusnya cerbung bukan cerpen karena masih ada terusannya hihihi

      Hapus
    2. oalah. ditunggu kak sambungannya :)
      jangan kelamaan tapi kak. hhahaha

      Hapus
    3. Insya Allah nanti malam diposting...makasih udah baca ya sistaa

      Hapus