CERBUNG: ARANA (PART 2)

by - 10.43

Saat hati dan logika sedang tidak akur dan menolak untuk berada di satu frekuensi, aku mengerti bahwa efeknya sungguh merugikan. Tubuhku serasa ringsek. Aku masih ingat apa yang baru saja terjadi. Kepalaku membentur trotoar cukup keras. Aku beruntung karena tidak ada truk besar atau anak kecil yang menyeberang dengan keteledoran akibat tidak adanya pengawasan orang tua saat mengebut tadi.

Kubuka helm dan menggelengkan kepala karena pandanganku sedikit kabur. Pusing. Mataku juga jadi merah oleh cairan yang mengalir akibat adanya robekan di pelipis. Sial. Bagaimana mungkin aku bisa berantakan begini hanya karena memikirkan seorang perempuan yang justru sudah menjadi masa lalu?

Kukernyitkan pelipis dan ternyata rasanya lebih sakit. Arghh!! Sial, sial siaaal!!

“Hei, kau!! Kalau tidak bisa menyetir naik odong-odong saja! Jalanan ini bukan milik nenekmu!”

Aku sedang tidak berminat menanggapi seseorang yang berdiri di hadapanku. Mendongak saja tidak sudi. Aku harus menenangkan diri karena nyaris saja mati. Sepatu kets di depanku tak membuatku susah menebak bahwa yang memakainya adalah perempuan. Kecelakaan barusan akibat perempuan. Sekarang yang mengomel juga perempuan. Tuhan, Kau menciptakan berapa banyak perempuan? Bisa dikurangi sedikit? Aku mulai jengah menghadapi makhlukMu yang satu itu.

“Kau tuli, ya?? Kau harus ganti rugi! Obati lukaku!”

Apa katanya? Oke. Cukup.

Aku bangkit dan perempuan rambut kuncir kuda dengan helm di tangan kanannya mendongak menatapku tajam akibat ukuran tinggi tubuhnya yang hanya sebahuku. Pendek tapi cantik. Okelah. Tapi tidak berpengaruh apa-apa buatku. Kulihat dia sedang mengunyah permen karet dan ada darah di punggung tangannya. Tunggu. Dia menyetir dengan permen karet di mulutnya? Apa dia sudah gila?

“Maaf. Aku ga sengaja. Lagian kenapa bawa-bawa nenekku, sih?”

“Ga sengaja jidatmu! Lihat apa yang kau lakukan. Tanganku berdarah!”

“Kau bisa menurunkan oktaf suaramu dan aku akan mengganti kerugian dengan senang hati. Bisa? Berisik banget.”

Gadis itu mendecak tak sabar namun terlihat dia mencoba untuk lebih tenang dari beberapa saat yang lalu. Matanya yang melotot sudah lebih teduh. Tapi aku salut. Mengomel sambil mengunyah permen karet tanpa tersedak dan tidak keliru mengucapkan kosakata kurasa butuh keahlian khusus.

“Iya bisa.” Katanya datar.

"Bagus."
Aku membuka jok motor dan mengeluarkan kotak P3K. Gadis itu menahan tawanya saat kukeluarkan kain kasa, obat merah dan plester dari kotak itu. Aku mengernyitkan dahi. Rasa sakit pun malah datang lagi. Dasar.

“Kok malah ketawa?”

“Ngga. Cowok dengan kotak P3K di jok motor? Itu aneh. Lucu.”

“Aneh itu adalah seorang cewek yang menertawakan seseorang yang mau ganti rugi dan bukannya berterima kasih.”

“Kau menyenggol motorku sampai jatuh dan aku harus berterima kasih? Enak saja. Eh, cepetan dong, aku harus ke kampus. Gara-gara kejadian ini bisa-bisa dosen menghukumku lagi.”

“Bodo.” Ucapku pelan. Untung gadis itu tidak mendengar. 

Kutarik dia ke trotoar. Orang-orang lalu lalang dan menatap kami aneh. Kabar baiknya, aku dan gadis ini cuek-cuek saja.

“Oke. Selesai. Nanti malam beli kain kasa di apotek dan ganti perbannya. Ga parah, hanya luka kecil yang ga perlu dijahit.”

“Balutannya tidak rapi.” Protes gadis itu tidak puas.

Aku memandanginya dengan dahi berkerut. Jika aku dokter dan piawai membalut luka, aku tidak akan berada di jalanan jam segini dan mendapat kecelakaan akibat memikirkan seseorang. Udah ditolong masih saja komplen.

“Sama-sama.” sindirku datar. Dasar tidak tahu terima kasih.

“Mau kutunjukkan cara membalut luka yang baik dan benar? Sini. Kemarikan kepalamu.” Ucapnya sok jago.

Aku bengong. Tipe gadis yang tadinya galak lalu bersedia menjadi penolong dengan membantuku membalut luka lumayan juga. Tapi tetap saja dia aneh, dan juga berjenis kelamin perempuan. Aku jadi sedikit tidak toleran meski ternyata balutan di kepalaku lumayan rapi. Tidak longgar tapi tidak terlalu kencang.

“Oh iya. Aku Yura. Kau?”

“Arya.”

“Arya. Hmm oke. Eh, di sini tidak ada tempat sampah ya?”

“Emangnya kenapa?” tanyaku tak antusias.

“Kapas dengan darah kayak gini harus disingkirkan. Kelihatannya bikin ngeri.”

“Nanti kubuang. Ga usah cerewet.” Ucapku lagi.

“Oooh, baguslah kalau begitu, “ dia beranjak, “Aku pergi dulu. Makasih. Oh ya, aku titip sampah lain boleh?”

“Iyaaaa…!” raungku tidak sabar.

“Sip. Nih. Sekali lagi makasih.”

Gadis itu meraih tanganku, membuka mulutnya, mengeluarkan permen karet yang sedari tadi dikunyah kemudian meletakan benda mengerikan itu di telapak tanganku.

“Aku pergi, ya. Dadaaah…”

Apa?? Apa-apan ini?? Arrghhh siaaaaal!!!

****
“Aryaaaaa….!!!”

Tebak suara siapa itu? Yup. Arana.

Aku tidak punya waktu menoleh. Deretan buku di rak perpustakaan jauh lebih menarik ketimbang menyahut suara manja itu.

“Aryaaa ih, dipanggil kenapa ga nyahut??”

“Suka-suka aku lah. Mau apa lagi? Dari mana kamu tahu aku ada di sini?”

“Loh…? Kepalamu kenapa??” Arana balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan yang kulontarkan.

“Kecelakaan kecil.” Jawabku tanpa ekspresi.

“Coba sini lihat…”

Arana menyentuh wajahku yang tiba-tiba panas. Celaka, mukaku pasti memerah. Arana memang gadis tak tahu diri tapi ahli menemukan tindakan apa yang bisa membuatku salah tingkah. Tangan lembut itu menyusuri luka di dahi dan pelipisku yang masih ditutupi kain kasa. Beberapa menit lebih lama Arana menyentuh wajahku, aku pasti akan gelagapan. Maka kuputuskan menepis tangannya yang kurang ajar itu dari kepalaku.

“Jangan pegang-pegang. Ini hanya luka kecil, bukan bocor.”

“Tapi aku cemas. Pantas kemarin kau tidak mengangkat teleponku. Aku ingin minta antar ke toko buku. Aku sedang ingin membaca sesuatu.”

“Ini perpustakaan. Keinginanmu sudah terkabul.” Kataku cuek sambil menyusuri kembali buku-buku di rak karena ada buku yang harus kutemukan untuk menyelesaikan makalah kuliah.

“Arya gitu deh. Jangan acuhkan aku. Perpustakaan dan toko buku itu beda.”

“Bedanya? Isinya kan buku semua.”

“Di dekat toko buku ada café dengan menu kue yang enak.”

“Terus?” tanyaku tanpa minat.

“Habis beli buku kita ke sana. Yuk.”

“Di sebelah perpustakaan juga ada kantin. Lagian aku ga mau menyantap kue sama kamu. Bikin hilang selera makan.” Aku nyeletuk.

“Ah Arya ga asik.”

“Iya, aku emang ga asik. Yang asik itu Leon. Minggir.” kataku setelah menemukan buku yang kucari.

Arana kusenggol dan hampir jatuh jika saja dia tidak berpegangan pada rak. Kupastikan dia pasti memonyongkan bibirnya yang sensual itu walau tanpa kulihat. Tiba-tiba Arana malah merebut buku yang kugenggam dan menyembunyikan benda itu di punggungnya.

“Eh, kembalikan! Apa-apaan sih?” kupelankan suara agar tak mengganggu pengunjung perpustakaan yang lain. 

Seharusnya di tempat ini kutemukan ketenangan. Apa daya, Arana sepertinya punya radar khusus yang bisa memberitahunya di mana aku berada dan menggangguku seenak jidatnya.

“Temani aku ke toko buku dan makan kue, baru kukembalikan. Kalo ga mau, ya bakal kubuang.”

Menolak tidak berguna saat ini. Buku itu lumayan penting dan sekarang malah disandera gadis gila. Kuiyakan dengan anggukan dan penekanan suara, senyumannya yang seperti biasa membuatku meleleh pun tersungging begitu manis di bibirnya.

“Oke, besok siang. Sekarang kembalikan.”

“Ga mau. Setelah kita makan kue, baru aku kembalikan.”
Tuhan, Kau ciptakan gadis ini dari bahan apa sebenarnya???
“Heh?? Apa?? Cewek licik!!”

“Peduli amat.”

“Kembalikan, Na!! Aku butuh buku itu! Hei, jangan lari!!”

Bruukkk

Arana menghilang entah ke mana, aku terus berlari tanpa kendali dan akhirnya menabrak seseorang yang tengah membawa setumpuk buku. Aku melongo melihat siapa yang mencak-mencak saat buku-buku itu tak sengaja kubuat berantakan.

“Yura??”

Si gadis permen karet menatapku sesaat setelah kupanggil namanya. Dia mendengus dan menatap marah persis seperti tempo hari. Aku berdiri menatap matanya. Dia menatap balik. Wait, sedang apa gadis itu di sini???

You May Also Like

6 komentar

  1. aah kakak ! nyangkut lagi ceritanya :( padahal aku pikir cuma sampe part 2 aja :(
    ayoo buruan dikelarin kak. akunya gak sabar :'(
    cerbungnya gak bisa aku tebak ujungnya malah bikin geregetan karena penasaran sama ujungnya ih

    BalasHapus
  2. Hihih iya say cuma sampe part 3 kok ni lagi dibikin. MAKAsih ya udah nyempetin baca...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak :)
      gara-gara baca cerbungnya kaka, jadi ke motivasi nulis yang sejenis cerpen apa cerbung gitu deh. hhaha :D

      Hapus
    2. wahhh asik tuuuu kl bs memotivasi. Smngat nulisnya yaaa

      Hapus