CERBUNG: ARANA (ENDING)

by - 09.46

Kamuflase takdir bisa berwujud apa saja termasuk satu hal bernama kebetulan. Pertama, aku terjebak mencintai masa lalu dan bukan masalah besar seandainya Arana yang  luar biasa cantik tapi punya penyakit kolokan stadium lanjut itu bukan kekasih sahabatku sendiri. Kini ditambah Yura, gadis permen karet dengan karakter wajah galak namun eksotis. Bertemu kedua kalinya dengan Yura mau tidak mau menambah spekulasi tentang rasa penasaran. Apa maunya Tuhan mempertemukanku lagi dengan dia? Naif sekali jika menyimpulkan semua itu hanyalah kebetulan.

“Apa kau mahasiswi baru? Kau menguntitku gara-gara kejadian kemarin? Atau…kau memang sudah disetting untuk mendarat di tempat ini? Ah, aku tahu. Kau stalker!”

Yura mengangkat satu alisnya dan menahan tawa saat kutanyakan hal itu dengan notasi khas interogator. Bagus dia tidak langsung menghajarku sampai mimisan. Orang lain mungkin akan sedikit tersinggung dan menganggap pertanyaanku tadi adalah tuduhan serius karena kulayangkan asal-asalan padahal hanya mengandalkan hipotesa. 

Es krim green tea dengan taburan pistachio di atas meja adalah benda bisu lezat yang jika bergerak pasti akan berpikir bahwa aku lelaki yang salah bertindak dan tidak mahir ketika berbicara dengan perempuan.
“God, kau ini seperti polisi, deh. Mana kutahu bakal ketemu lagi sama kamu. Tapi, lumayan takjub juga. Ternyata kau mahasiswa sebuah kampus yang reputasinya diperhitungkan. Hmm…yang menyenggol motorku kemarin ternyata cowok pintar. Kantinnya juga bagus dan aku suka es krimnya. Great.” tukasnya.

Es krim bertengger di bibir bagian atas Yura. Ada kesan seksi, sama seksinya seperti ketika Arana menggigit bibir bawah setiap kali gadis itu gugup atau gelisah.

“Sok tahu. Aku bukan mahasiswa pintar. Kau kan juga pindah ke sini. Artinya otakmu juga lumayan. Tapi kita baru bertemu dua kali, jadi jangan seenaknya menebak. Ah, sial. Berarti aku punya hutang lagi sama kamu.”

“Maksudnya?” dahi Yura berkerut seraya merapikan sedikit rambutnya yang diikat ke belakang.

“Ini kedua kalinya aku membuatmu jatuh.” Jawabku.

“Aku tidak terluka. Tenang aja. Oh ya, perpustakaan kampusmu keren banget. Kutemukan Kafka dan Wilde di deretan buku saduran.”

“Di kampus lain juga ada kali.” Kataku ketus.

“Ga selengkap ini.” Seloroh Yura, menyantap lagi es krimnya yang mulai mencair.

“Emangnya kamu suka Wilde?” tanyaku.

Pembicaraan bergulir. Aku baru tahu bahwa minat kami terhadap seni dan sastra berada di level setara. Selera musiknya juga sangat menarik, tidak seperti cewek-cewek kebanyakan yang membuatku mengernyit saat mereka mengidolakan boyband dengan paras hasil operasi. 

Yura menuturkan bahwa dia butuh beberapa buku sebagai referensi untuk makalah yang sedang dikerjakannya sebagai tugas-tugas awal sebagai mahasiswi pindahan. Selain cuek dan sangat apa adanya, Yura membuatku sedikit terperangah ketika menjelaskan secara detail mengenai komposisi warna yang digunakan Monet dan membandingkannya dengan Van Gogh. Sebagai seseorang yang keranjingan seni lukis, aku harus memberikan nilai plus kepada gadis ini. Yura berbeda. Benar-benar berbeda.


****
“Mengapa mukamu ditekuk begitu?”

Arana protes bukan kepalang mengetahui ekspresi wajahku yang terang-terangan memperlihatkan bahwa aku merasa sangat tidak nyaman berada di tempat umum bersamanya. Kuturuti keinginannya membeli beberapa buku dan mampir untuk makan kudapan. Toko kue dengan spesifikasi pattiserie café ini lumayan bagus, hanya saja ada Arana di sampingku. Bukan apa-apa. Aku masih selalu membayangkan setiap episode di masa lalu ketika dia dekat denganku. Jika toko ini menjual croissant penghilang memori, mungkin hal itu akan membuatku sedikit antusias dan berselera makan di tempat ini.

“Aku udah anter kamu ke sini. Sekarang kembalikan buku yang kemarin kamu ambil. Cepetan!” Pintaku agak memaksa.

“Ga sabaran banget. Nih.”

Kuteliti sejenak  dan setelah tidak menemukan kecacatan, kusimpan benda itu di dalam tas. Baru saja mau beranjak, tangan halus Arana menahan lenganku erat.

“Mau ke mana? Kita makan dulu…”

“Ga mau. Memangnya kau ga bisa makan sendiri? Kuantar kau ke sini untuk makan, tapi bukan makan bersama. Jelas?”

“Please….” Rengeknya.

Oke. Kuturuti lagi. Setelahnya aku menyesal karena merasa lebih bodoh dari sebelumnya saat Arana menyodorkan sesendok potongan kue ke arahku.

“Buka mulut, Aryaaa…!”

“Apa sih? Norak!” 

Permintaan konyolnya itu jelas-jelas kutolak. Arana menggembungkan pipinya. Benar-benar menggemaskan, tapi juga bikin muak.

“Ih tuh kaan…gitu deh. Ini rainbow cake paling enak yang pernah kucicipi. Kau juga harus mencobanya.”

“Aku bisa makan sendiri…” tanganku mencoba meraih sepotong rainbow cake dari tangan Arana dan gagal.

“Eiiit…buka mulut. Ayolaah…”

Seperti biasanya. Aku lelaki bodoh yang mudah takluk jika Arana sudah bertingkah memuakkan sekaligus menggoda seperti itu. Kucicipi si kue dan kupaksakan tersenyum. Arana senang dan riang, lalu menjejalkan suapan berikutnya sampai perutku begah. Rasa cinta itu hinggap lagi di atas kepalaku. Rasa cinta itu hadir lagi terlebih ketika dia membersihkan cream stroberi yang menempel di bibirku dengan jari halusnya. Itu memori baru yang pasti tidak akan gampang kuhapus. Aku masih mengontrol emosi. Jika tidak, sudah kupeluk gadis kurang ajar ini dan memintanya meninggalkan Leon. Sayang sekali, aku tipe yang justru minim nyali.

“Aduh...aku lupa!!”

Arana menepuk dahi dan tergesa merapikan tasnya yang dicangklong di ujung kursi.

“Kenapa?”

“Siang ini aku ada janji sama Leon. Anterin aku dong, Arya…”

“Apa? Kamu pikir aku apaan? Kacung?”

“Kamu sahabatku, Arya. Yaa..mantan juga, sih. Tapi kan kita sudah sepakat untuk melupakan semuanya. Sekarang Leon pasti sudah nunggu lama. Kasian kaan??”

Oh, yeah. Lalu bagaimana dengan tingkahmu yang sok romantis barusan, Arana? Memangnya aku tidak butuh dikasihani karena berkali-kali dipermainkan seperti ini?Memangnya yang barusan itu ngga ada efeknya sama sekali?

Kutarik lengan Arana dengan kasar dan dia mengaduh. Ini pertama kalinya ekspresiku tidak ramah ketika menatapnya. Kulihat Arana sedikit gemetar.

“Cukup, Na. Aku udah bosen jadi tong sampahmu! Aku memang masih sangat sayang sama kamu. Tapi kamu ga bisa seenaknya saja memperlakukanku seolah perasaanku sama kamu udah hilang! Kau tidak punya kepekaan emosi atau bagaimana, sih??”

“Maaf…”

Oh, no. Arana mulai menunduk dan tampak bahunya bergetar.

“Yaelah malah nangis. Ya udah aku antar! Tapi aku ga mau Leon lihat kita datang barengan. Dasar manja!” bentakku kesal.

Arana tersenyum. Dan lagi-lagi aku kalah.

****
Kejadian itu sudah berminggu-minggu namun belum juga luntur dari ingatan. Entah kenapa aku justru tidak bisa meninggalkan Arana. Padahal jika dipikir banyak sekali alasan untuk mulai tidak menggubrisnya setiap kali dia merajuk. Ada banyak opsi yang memudahkan agar tidak lagi dekat-dekat atau menuruti kemauannya. Tapi apa memang begini rasanya mencintai tanpa melibatkan logika?

Permasalahan dengan Arana menggelayut di benakku. Meski saat ini tubuhku berpeluh karena bermain basket di lapangan sepi menjelang senja, tetap tidak bisa membuatku berhenti berpikir tentang Arana. Untungnya aku masih bisa menciptakan three point jarak jauh dengan gerakan stabil walaupun masih saja tak bisa berpikir jernih.

“Arya!!”

Lamunanku buyar. Kutolehkan kepala dan mendapati Yura berdiri di belakangku dengan dua buah buku tebal di pangkuannya sambil tersenyum. Rambutnya yang dikuncir ke belakang dengan helaian yang sedikit tergerai di pelipis kanannya entah mengapa malah memberi daya tarik tersendiri, ditambah gerakan angin sebagai pelengkap membuat helaian-helaian itu seolah menari dengan udara.

“Kamu. Ada apa?” tanyaku datar seraya melemparkan bola basket ke sudut ring.

“Aku butuh kamu.”

Aku melongo lalu terkesiap akibat gugup yang datang seketika tanpa permisi ketika Yura berkata seperti itu. Apa-apaan sih ini? Kenapa jadi deg-degan begini?

“Bisa kau ulangi? Butuh?”

“Eh..maksudnya…aku butuh bantuanmu. Iya…bantuanmu…” jawabnya sedikit salah tingkah.

“Oooh bantuan. Ya udah, sebentar.”

Yura melangkah lebih dekat tepat di saat kubuka t-shirt basketku dan matanya beradu pandang dengan mataku. Mukanya memerah. Gerakan tangannya yang menggaruk rambut dekat pelipisnya jelas sekali menyiratkan dia salah tingkah.

“Mukamu merah. Balum pernah liat cowok telanjang dada?”

“Ih apa sih Arya! 

“Aku kan cuma nanya.” 

“Iya, iya. Lupain deh. Aku butuh bantuanmu mengenai analisa sastra. Aku sudah bikin, hanya saja sepertinya ada yang kurang.”

“Oke. Coba kulihat makalahnya…”

“Nih. Oh ya, kau ikut ke acara wisata kampus bulan depan?”

“Ngga. Males. Kau ikut?”

“Ikut.” Ada nada kecewa di sana yang luput kuperhatikan. 

“Oh..” 

Hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku terlalu bingung untuk menanggapi pertanyaan apapun saat ini karena Yura hanya berjarak sejengkal dari tubuhku. Ada yang aneh karena frekuensi detakan jantung lebih cepat dari biasanya tetapi wajah Arana pun tiba-tiba berkelebat tanpa izin terlebih dahulu. Gila. Ada apa sebenarnya denganku?

****
Kedekatan dengan seseorang bukan sesuatu yang mudah disembunyikan dari siapapun, tidak terkecuali dari Arana. Kini gadis itu menatapku tajam, merusak kembali hasil lukisan yang sudah kubuat. Teman-teman sekampus geleng-geleng kepala melihat kami berdua. Sepertinya Arana suka sekali menjadi pusat perhatian dan aku tak tahan untuk tidak mendengus.

“Ga ada kerjaan lain selain merusak lukisanku, ya?” tanyaku jengkel. 

Benda yang tadinya akan kupajang di galeri kampus kini hanya bisa berakhir di tong sampah bau.

“Apa gosip itu benar? Orang-orang di kampus bilang kau sedang dekat sama seseorang. Kok kamu jahat banget sama aku??”

Satu langkah kakiku maju sampai dapat kurasakan bahwa napas gadis itu sangat dekat. 

“Gosip apa? Gosip aku dekat dengan Yura? Memangnya kenapa? Keberatan?”

“Tentu saja aku keberatan!!”

“Yang benar saja, Na. Kau sudah punya Leon. Aku hanya mantanmu yang masih saja kau sandera sampai detik ini. Aku capek. Aku dekat dengan siapapun itu, jelas bukan urusanmu. Lagipula aku tidak pacaran dengan Yura. Paham? Atau harus kudetailkan biar kamu ga merengek terus kayak gini?”

“Tapi Arya…aku masih butuh kamu. Leon ga pernah ada buat aku.”

“Tapi sampai kapan?? Berhenti mengekoriku, Na!”

Arana tidak menjawab pertanyaanku yang satu itu. Sudah dipastikan bahwa dia sama sekali tidak siap dengan apa yang kutodongkan dengan meminta ketegasan. Arana dan aku seperti magnet yang tarik menarik. Tepatnya akulah yang pasrah untuk selalu terikat dengan dia. Berusaha pergi lalu gagal karena yang hendak ditinggalkan tetap menetap di dalam hati dan otak tak semudah mengucapkan kata pisah atau apapun itu. 

Arana memelukku erat. Benar-benar gadis tidak waras. Bagaimana kalau Leon memergoki kami dengan keadaan seperti ini? Aku gelagapan, mencoba melepaskan namun percuma. Arana masih saja tidak terima aku dekat dengan siapapun. 

Sejak saat itu Arana makin manja dan anehnya selalu punya celah untuk memintaku melakukan sesuatu untuknya. Leon makin sibuk dan coba tebak siapa yang jadi korban pelampiasan? Aku. Iya. Selalu aku. Bahkan gadis cengeng itu ikut-ikutan mendaftar untuk wisata kampus karena mengetahui bahwa Yura pun berpartisipasi dan mengira aku pun akan bersamanya. Aku sedikit lega. Setidaknya dia akan hilang dari pandanganku selama satu minggu. Itu lumayan cukup untuk memberiku napas baru. Aku menyeringai. Rasakan. Pasti dia akan jengkel mengetahui aku tidak ada saat berangkat nanti.

****
Senja seharusnya menjadi fase langit yang menjadi penenang. Tapi sore itu tidak seperti senja-senja lain yang kulewati. Langkahku tergopoh-gopoh. Ada gemuruh sekaligus resah menyatu dengan debar. Aku seperti manusia linglung yang tak tahu arah. Siaaaal!!

Bus kampus yang membawa rombongan mahasiswa yang mengikuti acara wisata ke Yogyakarta mengalami kecelakaan justru ketika hendak tiba di kampus. Aku tidak mendapat informasi lengkap. Aku hanya diberitahu oleh rekan-rekan kampusku yang juga segera beranjak setelah mengetahui kabar itu. Aku pun langsung melesat setelah mengetahui ke rumah sakit mana para korban dibawa.

Seharusnya aku hanya bersimpati. Seharusnya aku membantu teman-temanku yang terluka tapi tidak dengan kekhawatiran yang tidak wajar seperti ini. Tapi ada gadis itu di sana dan aku tidak tahu bagaimana kondisinya. 

Aku tak lagi berjalan cepat. Aku berlari ketika tiba. Mataku mencoba mendeteksi keberadaan gadis itu dengan tak sedikitpun menyisakan atau melewatkan setiap sudut lorong rumah sakit dengan bau karbol yang tak pernah aku suka.

Aku menelan ludah. Kulihat gadis itu tepat beberapa meter di hadapan, meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang dibalut perban. Dan kukatakan sebelumnya, aku seperti magnet yang ditarik tanpa tubuh sendiri yang bisa mengontrol ke mana arahku menuju. Langkah kupercepat dengan mata sedikit berair kemudian memeluk tubuh itu. Tubuh gadis dengan suhu terhangat yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Gadis itu barangkali kaget karena sesosok lelaki tiba-tiba memeluknya erat tanpa kata.

“Aku lega kamu baik-baik saja…”

Aroma mawar bercampur stroberi terhirup oleh inderaku. Ini ketenangan absolut di mana seseorang bisa mengerti artinya kelegaan setelah dihantam rasa cemas.

“Kamu memelukku, Arya…”

“Iya. Memang. Setelah ini kulepaskan dan kau mau menghajarku, silahkan. Aku tidak peduli. Terserah. Aku sedikit takut tadi. Tapi syukurlah kau tidak apa-apa…”

Ada hela yang terasa. Gadis itu balas memelukku. Aku bisa merasakan tangannya bergerak dan melingkar di punggungku. Aku makin lega. Kurasa dia tidak akan marah jika kupeluk seperti ini seterusnya. Aku sempat bingung kenapa malah gadis ini yang pertama terlintas di pikiran. Aku tidak mengerti mengapa malah khawatir untuknya, bukan untuk dia yang kukira selama ini adalah seseorang yang pantas mendapatkan legalitas untuk kucintai. Kusadari mungkin selama ini aku hanya terjebak dengan obsesi. Cinta memang aneh, dan magnet itu kini bukan masa laluku. Tidak lagi.

*****
Lukisanku selesai. Gadis di depanku masih berkutat dengan makalahnya yang juga hampir rampung. Aku kemudian duduk di depannya, memperhatikan bentuk mata dan bibirnya yang eksotis. Kupikir memang bagian tubuh itulah dari miliknya yang paling romantis.

Arana marah dan cemburu setengah mati saat melihatku di rumah sakit itu dan tidak memeluknya melainkan memeluk orang lain. Entah kenapa aku kini merasa lebih pintar karena tak terlalu mempedulikan lagi bagaimana reaksinya. Dia sudah punya Leon. Leon sahabat sekaligus laki-laki yang baik. Aku tidak ingin melukai siapapun terlebih lagi dia. Masa lalu tetap masa lalu. Hanya segelintir yang bisa berubah menjadi masa depan. Untuk kasusku, masa depan adalah gadis ini. Gadis yang mengetahui apa yang terjadi antara aku dan Arana namun menanggapinya dengan santai dan bukan drama. Dia memang berbeda. Benar-benar berbeda.

“Aaahh akhirnya selesai jugaaa. Lukisanmu gimana?”

Kupandangi hasil kerjaku sesaat, “Kurasa lumayan.”

“Baguslah. Aku tidak sabar membantumu memajangnya di galeri. Ayo. Kalau ditunda lebih lama, antusiasmeku bisa berkurang…”

“Tunggu dulu. Aku masih mau diam di sini sama kamu, Ra.”

“Fokus, Arya. Kau akan mengadakan pameran. Pelukis amatir macam apa kau? Tepat waktu saja tidak.” Celetuknya cuek.

“Tuduhan tidak berdasar. Aku selalu tepat waktu. Kamu saja yang terlalu dramatis. Lalu tadi kau bilang apa? Amatir? Kamu tuh yang amatir.”

“Apa?? Tuduhanku mungkin tidak berdasar, tapi tuduhanmu kejam! Udah ah. Berdebat sama kamu ga bakalan selesai. Setelah dari galeri, aku mau ke kantin. Aku sedang kangen sama es krim.”

“Kalau sama aku?” aku bertanya.

Yura mengikik, “Ngapain kangen sama kamu. Lagi pula kalaupun aku rindu, aku tidak akan mempermalukan diri sendiri dengan membiarkanmu tahu.”

Skak mat. Gadis ini berhasil membuatku merasa penting dan berharga dengan caranya yang unik.

“Duh, di sini panas sekali, ya?”

Yura menarik ikat rambutnya. Helaian itu tergerai. Aku melihatnya tanpa berkedip. Jeans belel, kaos tanpa lengan dibalut kemeja biru tua bergaris, aksesoris di pergelangan tangan yang terbuat dari kayu dan rambut panjang tergerai. Gila. Sempurna.

“Heh! Ngapain kau liat aku kayak gitu? Belum pernah liat cewek sebelumnya ya?”

Aku gelagapan dan berusaha menyembunyikan suara jantungku yang berdetak tak beraturan.

“Ngga. Aku hanya…” sekarang aku malah tidak bisa menyeleksi kata yang tepat untuk kulontarkan.

“Dasar aneh. Yuk…”

Yura meraih tanganku dengan senyuman yang membuat lututku lemas. Jantung berdebar, gugup, dan rasa senang yang hampir tidak bisa ditahan. Oke. Sepertinya aku mulai gila. Apakah begini rasanya benar-benar jatuh cinta?





You May Also Like

4 komentar

  1. aah sempurna ! aku suka dengan klimaks dan solusi dari ceritanya !
    apa rahasianya bisa begitu konsisten menulis kak ? dalam satu bulan bisa sampe belasan postingan gitu ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih komentarnya cantiiik. Moga bisa lebih baik lagi ni nulisnya. Rahasianya gampang, say. Menulislah tiap hari tanpa mikir bakalan bagus atau jelek. Pokoknya nulis. Makin sering nulis, itu kita kadang ga nyadar kualitas tulisan makin baik, meski mmg hrs terus belajar. Tapi setidaknya kalo rajin nulis tiap hari, itu kyk nabung. Lama-lama jadi mahir.

      Hapus
  2. lagi!lagi! hahaha, suka kak sama endingnya :D
    request side story dari sisi leon kak, :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah makasih udah baca yaa...hmmm dari sisi Leon ya? Hmm hihi insya Allah dek

      Hapus