THE CHOICE: HATRED

by - 22.22


Mencintai perempuan berarti menjebloskan diri sendiri ke dalam dua fase nikmat dan sengsara di waktu bersamaan. Mencintai makhluk dengan tingkat emosional lebih sensitif dibandingkan makhluk logis bernama laki-laki tidak semudah membuat panekuk. Kau mencintaiku dan sebaliknya, itu cukup. Setidaknya hipotesa lugu seperti itu pernah menjejali otak Juna sebelum dia tahu apa yang membahayakan hati ketika membiarkan dua nama memasuki dunianya. 

"Tidak mau! Aku tidak mau putus! Kau ini kenapa, sih?" Raung Anette. Beberapa orang di perpustakaan mau tak mau mendengar dan melongok dari meja tempat mereka asik membaca.

"Kau tuli? Aku bosan padamu!" suara Juna tak kalah melengking. Tubuhnya tak bisa dicegah untuk beranjak. Mata itu, yang dulu memiliki Anette dalam pantulannya sekarang berbeda. Hanya ada senyap di sana.

“Bertengkar di luar saja, oiii!!” seseorang di ujung ruangan berteriak. Bisa dipastikan berapa oktaf lengkingan Anette dan Juno tadi sehingga mengganggu konsentrasi pengunjung perpustakaan. 

Juna mendengus. Terdengar derit kursi kayu saat dia berdiri. Tanpa kata, lelaki berambut gondrong itu melengos. Dia tidak punya waktu meladeni Anette yang menurutnya kelewat reaktif menanggapi pernyataannya untuk mengakhiri hubungan. Bagi Juna memutuskan pertalian antara dirinya dengan Anette seharusnya ditanggapi biasa saja. Sayang, Anette adalah perempuan, dan perempuan umumnya lebih sulit mengendalikan apa yang seharusnya dikendalikan.

“Tunggu dulu, Juna! Memangnya dua tahun ini tidak ada artinya bagimu? Salahku apa?” Anette tidak habis pikir apa yang membuat Juna berubah drastis. Gadis dengan rambut panjang kemerahan itu mencoba menyamakan langkah dengan Juna yang lebih dulu melewati tubuh mungilnya keluar ruangan.

Juna memilih untuk tak perduli. Derap alas kakinya terdengar mantap, berhenti di pelataran parkir kemudian mulai menghampiri sepeda motor kesayangannya dengan perasaan jengah karena Anette mengekor, bukannya pergi seperti yang diharapkannya.

“Dengarkan aku dulu!” Anette meraih lengan Juna, mengibaskan helm milik kekasihnya dengan kasar sampai benda itu terlempar. Juna menggeram pelan, hampir tak terdengar. Mata elang itu menatap Anette, namun lagi-lagi pantulan gadis itu di matanya tak sama seperti dulu.

“Gadis sepertimu membosankan. Berapa kali harus kukatakan, hah?” Juna meraih helmnya dengan tergesa. Dia tidak ingin lebih lama lagi berurusan dengan Anette. 

“Tapi…bosan bukan alasan yang bisa dibenarkan untuk putus, Jun! Please, jelaskan dulu! Aku…tidak tahu letak kesalahanku di mana dan…”

Anette menunduk. Tengkuknya mulai nyeri dan tenggorokannya seperti tertahan sesuatu. Tidak. Jangan sekarang. Jangan di depan lelaki ini, batinnya.

“Mau tahu? Kau ini bodoh, manja, rewel dan selalu memaksakan kehendak. Memangnya laki-laki mana yang tahan dengan karakter gadis sepertimu? Kau bikin aku gila. Minggir! Jika kau tidak ingin terluka sebaiknya menyingkir sana!”

Rasa nyeri itu menjalar ke bahu. Anette sudah tidak bisa lagi menahan air matanya saat melihat punggung Juna menjauh. 

Anette bukan intel ataupun cenayang. Tentu saja dia kebingungan dengan keputusan mendadak Juna yang tidak masuk akal. Dua tahun dilalui dengan manis, terisi oleh kenangan konyol disertai tawa dan peristiwa penting yang sangat melekat di pikiran dan hati Anette.
Gadis itu sebetulnya termasuk tipe yang periang. Baginya menangis tidak menyelesaikan apapun. Solusi terbaik setiap masalah adalah tindakan konkrit yang justru kini tak bisa dilakukannya. Dua tahun bersama Juna adalah tahun-tahun terbaik. Dia sudah terlanjur mencintai lelaki itu, lelaki ketus yang membuat hidupnya tak lagi statis.
****

“Kau sudah tidak waras, ya? Apa maksudmu memutuskan hubungan dengan Anette??”

Juna terpaksa berhenti sejenak. Jemarinya diam dan membiarkan makalah untuk tugas kuliahnya terabaikan ketika mendengar nada suara itu. Pandangannya tak teralih. Dia sudah tahu ini akan terjadi, cepat atau lambat. Merasa diabaikan, pemilik suara merdu itu tidak punya pilihan lain kecuali menutup layar laptop Juna sampai lelaki itu terkesiap.

“Makalahku! Arrghh…sial!”

“Katakan. Kau putus dengan Anette? Itu cuma rumor murahan, kan?”

“Tahu dari siapa, sih? Anette?” tanya Juna tak sabar.

“Iya.”

“Berarti itu bukan rumor.” Juna menjawab dengan notasi datar seraya membuka kembali laptopnya dan mendecak kesal saat data yang ditulisnya belum sempat terselamatkan.

Runa, gadis itu, menatap Juna dengan tatapan tak percaya. Juna tidak ambil pusing. Manusia zaman sekarang sepertinya memang terkoordinasi dengan sangat baik untuk selalu penasaran dengan masalah setiap orang. Mungkin seharusnya ada papan bertuliskan “mind your own bussines” yang otomatis menyala ketika seseorang dengan antusiasme yang lebih mengarah kepada sikap tidak sopan tiba-tiba ikut campur masalah orang lain sekalipun itu adik kandung sendiri.

“Kau kenapa sih, Jun? Kau membuat Anette menangis. Baru sekali ini aku melihatnya sedih. Lagi pula…”

“Kau tahu apa masalahnya, Na. Seharusnya kau mendukungku. Jika kau menyuruhku untuk menarik kembali keputusan itu, artinya kau justru membuat gadis itu dalam masalah besar. Ini soal hati, bukan yang lain.”

“Tapi…” sela Runa.

“Kau bilang Anette sedih?”

“Iya. Dia terus saja menangis saat datang ke rumah kemarin sore saat kau tidak ada. Dari apa yang dia ceritakan kau..agak…sedikit berlebihan kurasa. Apa memang harus dengan cara ini kau melepaskannya? Kasihan dia, Jun…”

Juna menghela napas pelan. Dipejamkannya matanya sesaat, lalu menatap Runa beberapa detik.

“Oke. Jika dia sedih, strategiku kurang elit rupanya.”

“Jun, please. Hentikan.”

“Justru aku mencoba menghentikan sesuatu yang lebih buruk, Na. Mengertilah. Anette memang sahabatmu. Tapi kau lebih mengenal aku. Katakan. Jika kau mencintai seseorang dan posisimu dipaksa berada di posisiku sekarang, apa yang akan kau lakukan?”

Runa menelan ludah. Dia tahu Juna memang mengambil jalan yang seharusnya dia tempuh. Tapi sepertinya sudah agak terlambat mengingat Anette sudah begitu jatuh cinta terhadapnya. 

“Kau main api, Jun. Dari awal sudah kuperingatkan agar…”

“Manusia tidak bisa merencanakan dengan siapa dia jatuh cinta, Na. Dengan Anette, kau bisa lihat sendiri, aku jadi orang yang berbeda. Dia unik. Tapi dengan Livia, ketenangan hati justru kudapatkan dengan begitu mudah. Keduanya berbeda dan sama dengan cara mereka masing-masing. Berbeda karakter tapi sama-sama membuatku utuh.”

“Egois. Pantas saja aku disarankan untuk tidak mengenal laki-laki. Setidaknya untuk saat ini. Kalian memang jenis manusia abnormal yang bisanya hanya main hati.” Cibir Runa.

“Akan lebih egois jika aku tetap mempertahankan keduanya.”

Juna mengetahui persis apa akibat dari semua yang dia lakukan. Seminggu berlalu dan kejadian tak menyenangkan di perpustakaan terulang dengan frekuensi pertengkaran yang sama namun di tempat berbeda. Kali ini sebuah lapangan basket yang bersebelahan dengan taman dekat rumah Anette jadi korban pertengkaran dirinya dan Juna. Gadis itu masih mempertanyakan alasan Juna menyingkirkannya begitu saja. 

Udara malam menjadikan gigil bercampur dengan rasa sakit. Anette meminta Juna datang dan lelaki itu kini di hadapannya ternyata bukan perkara mudah. Jika saja dia sanggup, ingin sekali rasanya melupakan apa yang dikatakan Juna waktu itu lalu semuanya hilang disulap dan ingatan keduanya tentang kenangan manis yang pernah ada menjadi mediator paling tepat untuk merekatkan hati masing-masing.

“Aku mau kau jujur. Tentang semuanya. Jangan sampai ada satu kata pun terlewat. Aku tidak terima dipermainkan seperti ini, Jun.” pinta Anette. Suaranya agak berat, gemetar dan penuh emosi meski sekuat tenaga ditahannya.

Juna berdiri tepat di depan Anette, hanya sejengkal dari tubuhnya dan Juna dapat dengan jelas merasakan kepedihan gadis itu. Gila. Gadis itu punya pesona yang aneh. Juna harus bertahan dengan keputusannya. Dia tidak bisa mundur lagi. Tidak boleh.

“Dengar. Kau adalah gadis paling bodoh yang pernah kukenal. Jika kau pintar, kau seharusnya bisa berpikir jernih dan menyadari bahwa kau cuma selingan.”

“Apa maksudmu?” Anette terhenyak.

“Kau cantik, tapi tipe yang lebih bagus jika dimiliki hanya secara fisik.”

Plaaakkk!!!

Rasa panas di pipi Juna tak membuatnya berhenti berbicara.

“Kau…kau pikir aku apa??”

“Seharusnya kau berterima kasih karena selama ini aku tidak pernah menyentuhmu. Lagi pula, kurasa kau tidak lebih berharga dibandingkan perempuan-perempuan di luar sana yang bisanya cuma menggerutu. Oh ya. Jika kau mau tahu, aku tidak pernah sedikitpun mencintaimu. Kau sama sekali tidak bisa membuatku tenang dengan ocehan konyolmu hampir setiap hari. Dengan sikapmu yang memuakkan itu jangan harap aku tahan dan tidak mencari yang lain. Simpan itu baik-baik di otak bodohmu!”

“Kau…”

“Puas?”

“Jadi ini karena orang lain??” tanya Anette berang.

“Kau masih saja tanya??” decak Juna tak habis pikir.

Terlihat bahu Anette naik turun namun tidak ada sebulir benda bening pun yang jatuh. Anette memandangi Juna bukan dengan tatapan sedih seperti tempo hari, namun ada kemarahan yang siap meledak. Ada kebencian yang mulai muncul di lensa dengan bola mata coklat terang itu. Kebencian yang menjalar cepat tanpa sebelumnya dapat diprediksi.

“Aku membencimu, Juna. Aku benci kau!!!”

“Terserah.”

“Kau tidak akan melihatku lagi setelah malam ini, Jun. Aku memang tolol karena jatuh cinta setengah mati padamu. Oke. Kita putus. Jangan pernah memperlihatkan wajahmu di hadapanku lagi. Jangan pernah!!!”

Tak perlu menunggu meski sedetik bagi Anette untuk menjauh dari makhluk kurang ajar yang melecehkannya. Juna menelan ludah, mematung menyaksikan Anette berlari dan hilang dari jangkauan indera penglihatannya. Disandarkannya punggung tegap itu di tiang penyangga ring basket tak jauh dari tempatnya berdiri. Tubuhnya merosot dan terduduk. Kepalanya menunduk. Sesak muncul. Matanya perih. Jadi begini rasanya kehilangan. Ternyata seperti ini rasanya melepaskan seseorang yang dicintai. Ini konsekuensi pilihan yang harus diambil. Rasanya sakit. Sangat sakit.

Mencintai dua perempuan dalam waktu yang sama mungkin terdengar aneh, kejam dan egois. Namun siapa yang bisa mengontrol perasaan manusia jika bukan dirinya sendiri? Juna terlampau percaya diri dan tak berhati-hati ketika mulai dekat dengan Anette padahal dirinya sudah terikat dengan orang lain. 

Dua tahun berlalu dan Juna baru menyadari jika dia meneruskan hubungan dengan Anette, yang terluka bukan hanya satu hati, tapi lebih dari itu. Juna lebih memilih untuk dibenci daripada melihat Anette menangis atau melukai Livia yang tengah menunggunya datang. Baginya, sebuah keberuntungan jika dibenci Anette. Gadis itu tak perlu tahu bahwa Juna pun sangat terluka. Juna tak harus menjelaskan mengapa dia melepaskan Anette dan ingin gadis itu memiliki rasa benci padanya. Sesuai prediksinya, rasa benci itu ternyata makin tumbuh. 

Dari personal blog yang selalu dibaca Juna, lelaki itu mengetahui bahwa Anette memiliki kadar benci lebih tinggi dari kadar sedih yang sempat menghampirinya. Dia menulis bahwa tidak dirinya tidak akan menangis lagi. Dia memaafkan lelaki yang menyakitinya namun melupakan Juna sekuat tenaga adalah obat untuk menghilangkan kebenciannya sedikit demi sedikit. Gila, akting Juna sukses berat. Seharusnya dia mendapatkan penghargaan karena berhasil membuat orang yang dicintai membencinya begitu rupa.

Mencintai berarti harus siap menyiapkan beberapa tetes air mata. Juna menerima konsekuensi saat dia memutuskan untuk hanya mencinta satu jiwa saja. Dia pun tahu, bahwa ketika sebuah pilihan harus diambil, ada hati yang lega karena kesedihan terkalahkan rasa benci.

You May Also Like

2 komentar

  1. Keren :)
    salam kenal ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah ada yang baca hihi makasih mbaak salam kenal juga yaa

      Hapus