TELEPORTASI HUJAN

by - 23.25

Malam hari biasanya adalah waktu terbaik bagi pertemuan paling romantis dan picisan antara lisanku dan hujan. Biasanya obrolan kami terlontar begitu lugas dan mengalir apa adanya. Butuh beberapa lama bagiku menunggu hujan menghampiri. Dia bilang baru saja rebah di bibir lantai sebuah kuil, lalu diminta mendatangi pesisir Sisilia, juga dibujuk mengunjungi Sagamihara yang menjadikannya lebih dingin dan basah. Kupikir itu lumrah, makanya aku tidak mendengus sebagai tanda bahwa kumaklumi alasan keterlambatannya.

Aku mencoba untuk tidak mengeluh saat hujan harus berteleportasi untuk mendengarkan kisah setiap nyawa. Setidaknya dia mampir ke tempatku dan legalitas menyentuh rinainya tak memerlukan izin siapapun. Hujan tidak pernah egois atau kehabisan energi saat aku memintanya turun dari langit. Bisa dipastikan celotehanku akan sedikit membosankan apabila kulibatkan cinta di dalam dialog kami berdua meski hujan bukan manusia. Tapi tetap saja hujan masih bersedia dan menaruh minat atas naskah kehidupan yang kuceritakan.

Malam ini aku bercerita banyak kepada hujan. Tepatnya sedikit berceramah, mengingat hujan sedikit terlambat karena wajib meneduhkan hati manusia-manusia yang lain dengan paparan kesejukannya yang lumayan epik. Aku membicarakan seorang lelaki kepada rintik merdu di depan jendela. Iya, lelaki yang belum lama ini memiliki raga, jiwa juga hatiku. Dia memantrai tiga elemen itu sampai-sampai aku tak punya waktu untuk mengelak dari senyumannya yang melumpuhkan logika. Hujan mengikik melihatku yang terpesona kepada lelaki tersebut. Tapi asal tahu saja, itu sama sekali tak menghentikanku untuk terus mengoceh tentangnya.

Hujan masih menjentikkan suara-suara khasnya selama aku berbicara. Sengaja tak kukenakan mantel atau rajutan cashmere agar intisari hujan tidak hilang atau berkurang. Bukankah bercakap-cakap tentang cinta akan lebih dramatis jika tubuh mendapat percikan hujan tanpa ada penghalang?
Memang. Tetapi sesungguhnya, hujan membuatku sentimentil. Sama halnya ketika kubaca karya Sparks sendirian sembari ditemani senja. Kata hujan, aku sedang kasmaran. Aku pun tersipu dan mengiyakan pernyataannya.

Setelah beberapa menit, hujan pun pamit karena harus berteleportasi ke tempat lain. Aku mengangguk, berterima kasih dan membiarkannya berhenti membasahi tempat berpijakku. Namun sebelum dia berlalu, kubisikkan pesan agar rinduku disampaikan kepada lelaki itu. Iya, lelaki yang sudah memilikiku secara utuh. Dan hujan, semoga selalu setia mendengarkanku bercerita, karena tanpa kehadirannya...roman dua manusia takkan pernah terlihat sempurna. 

You May Also Like

0 komentar