LETTER OF SEPTEMBER: SENJA, CAHAYA DAN UDARA

by - 17.44

Di bibirmu ada deskripsi senja. Di matamu ada filosofi cahaya. Dan di nafasmu ada wangi udara pagi yang membuatku bahagia setiap kali terjaga
Hai, kamu. Apa kabar di sana? Semoga senyum tidak pernah beranjak dari wajah tampan-mu ya. Sore ini aku teringat senja dan ingin membicarakannya denganmu. Apakah senja di tempatmu cukup cantik? Di sini tidak, karena aku menikmatinya hanya sendirian. Kamu pernah bertanya tentang jingga itu padaku. Hmm...baiklah.

Senja. Saat pola warnanya berdiri di titik paling jingga, detik-detik petang itu tidak pernah gagal untuk menjadi kondisi yang paling sempurna dan mempesona. Membicarakan senja tidak akan lengkap jika tak melibatkan cahaya di dalamnya. Perisai berkilauan itu disadur dari mentari yang muncul setelah berpamitan dengan rembulan menghadirkan ketenangan yang hangat seperti hangatnya kain rajut penghalau dingin. Dingin adalah hawa yang juga tak bisa dipisahkan dari cahaya. Tak ada udara, maka cahaya tidak bisa berpendar tegar karena udara adalah media penghantar kata yang kutulis di atas meja dengan paparan rindu terdalam untuk kamu yang di sana.

Seperti yang pasti kamu tahu, ada cinta yang menanti dengan sabar di sini bersama kearifan senja. Ada perasaan tertulus yang menunggu tanpa letih di sini bersama keutuhan cahaya. Juga selalu ada rindu yang terpintal rapi di sini seiring helaan molekul udara. Saat yang dicinta jauh dari pandangan mata, senja, cahaya dan udara menjadi penenteram yang mampu menghentikan air mataku meski sejenak dan ternyata tak mengurangi kadarnya. Tetap saja aku rindu, dan tentu saja semakin cinta. Rindu kepada kamu, cinta hanya untuk kamu.

Kata orang, merindukan belahan jiwa yang tak bisa dijangkau sentuhan adalah keadaan paling menyesakkan. Memang. Sesak dan tenggorokanku tercekat begitu sakit. Merindukanmu itu seperti candu. Terus saja berulang tanpa mengenal batas atau waktu. Jiwa tak bisa mengungkapkan pengandaian karena menginginkan kenyataan. Tubuh tidak mampu menahan keinginan tapi belum diizinkan mendekap raga pujaan.

Aku pun sering bertanya, adakah rasa yang lebih indah dari merindukan seseorang yang dengan jiwa raganya telah memilikiku seutuhnya? Rasa terindah ada ketika senja, cahaya dan udara bisa dinikmati berdua dengan kamu di sampingku sembari genggaman jemari kita rekat tanpa ada celah yang menyela.

Ah, senja hampir datang. Kutitipkan surat untukmu ini padanya, ya? Kuharap kamu membacanya ketika mentari bertemu rembulan yang bercahaya dan berselimut udara paripurna. Setelah selesai, jangan lupa mampir di mimpiku dan berikan aku kecupan lembut penuh rindu.

You May Also Like

0 komentar