GRADASI RINDU

by - 23.32

Langit dengan awan rindu adalah gradasi cinta di mana setiap rona azuranya termaktub namamu

Saat cinta diikat secara sukarela kepada seseorang, maka rindu adalah komposisi utama yang membuatnya tetap abadi dan seimbang. Tidak ada yang dapat memisahkan rindu jika sudah berbicara mengenai cinta. Tanpanya, cinta hanyalah objek dengan satu komponen dasar yang tak sempurna.
Gurat-gurat rindu tidak akan bisa beranjak atau menyerpih. Sebetulnya dia terjebak meski memang ingin bersembunyi dan tetap tak terlihat meski selalu ada sesak yang terasa apabila rindu tak bisa menjangkau cinta. Bukan karena apa, hanya saja jarak sedang bermain dengan rasa.

Aku dan kamu sama-sama berjalan dengan mentasbihkan rindu di setiap langkah. Kita melisankan doa yang sama, melirihkan renjana yang identik dengan jiwa. Meski di tempat berbeda, aku yakin debar jantungku tersampaikan dengan sangat baik kepada kamu dengan cara yang tak terduga.

Seorang perempuan yang menggenggam perkamen prosa liris dengan isi metafora yang cukup lumayan rupanya tak dapat membuatmu bertekuk lutut. Padahal kupilih kata demi kata dengan analisa kuat yang tidak biasa. Tapi katamu aku cukup tersenyum saja. Kulakukan, lalu klausa darimu terucap lugas. Kau bilang: Aku takluk. Lakukan lagi, maka aku milikmu sampai detik nafas berhenti. Ah, kau ternyata pandai menjatuhkan firasat culasku tentang kalimat manis. Kurasa aku akan memintamu untuk mengucapkannya lagi.

Katamu lagi, perempuan adalah puisi paling romantis, juga kisah paling epik yang sekaligus rumit tetapi ekslusif. Memiliki seorang perempuan sebenanrnya sederhana saja. Tinggal meminta padaNya untuk dijaga dan dicinta. Kau sudah lakukan itu. Aku milikmu, tapi tetap saja rindu ini menjalar tak tentu sebelum aku bisa seutuhnya melihat senyumanmu.

Aku suka caramu menghadirkan atmosfir hangat saat dingin tiba. Di situ ada cinta yang riuh karena senyap dan lengang sama sekali tak diizinkan datang. Pun sama halnya dengan rindu, yang tak layak disimpan di bibir saja. Rindu harus diutarakan oleh udara kepada pemiliknya yang sedari dulu mendamba. Jika rindu sudah terlalu lama mendekam diam, dia harus dibebaskan. Jika tidak, rindu bisa kehabisan napas dan mati tanpa terkatakan.

Aku suka saat-saat di mana aku merindukanmu. Iya. Aku juga jatuh cinta...pada senyuman yang sama yang selalu kau berikan kala embun mencecap jendela kamar kita.



You May Also Like

2 komentar

  1. Baguuuuus...
    Kenalin ya Agya, aku futri... Aku suka tulisan kamu. Aku juga sdg blajar nulis di zakiyahmimbar.blogspot.com , silakan mampir kalau mau :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku tinggalin jejak di blognya sista. Bagus blognya, inspiratif.

      Hapus