SECANGKIR KOPI DAN BUKU TUA

by - 14.00

Buku tua dengan sampul birunya yang sudah keriput itu tergeletak diam di atas meja kayu mahoni berpelitur dan dihiasi detail ukiran yang menarik. Setara dengan senyap yang diusir oleh secangkir kopi panas tepat di sebelah kananku. Di depan meja ada jendela di mana aku biasa menerima pesan dari embun pagi dan surat sastra dari ksatria senja.

Dokter Zhivago milik Boris Pasternak sudah lama menjadi salah satu temanku dalam menyelami revolusi Rusia dan sejarahnya yang tak biasa. Benda berbentuk persegi panjang itu selalu berhasil membujuk letih agar mau kujelajahi. Di luar sana lumayan dingin namun daun jendela kubiarkan disibak angin. Paling tidak, ada kepulan hangat yang menyeruak dan masuk ke sela-sela tubuh lewat wangi romantis kopi manis.

Kenyamanan menelusuri kisah cinta yang manusiawi dan jauh dari roman sehidup semati memberikan keleluasaan dan kewajaran namun bukan jaminan untuk lepas dari perasaan menggebu terhadap seseorang. Setiap kubaca halaman demi halaman, aku berhenti beberapa detik, melamun, membaca lagi, menyeruput bibir cangkir yang basah sambil memejamkan mata, melamun lagi, tersenyum, lalu berbaikan dengan alur yang tadinya tak kusukai.

Sedikit sentimentil sebenarnya, tapi bukankah tidak ada yang lebih memuaskan selain membaca buku bagus dan secangkir cairan pekat nikmat? Ah, tapi setiap hal punya lawan. Dalam kasus ini, tandingannya mungkin si cangkir yang sudah berkali-kali kukecup di tempat yang sama di tengah-tengah melodi Schubert atau Bach. Atau...teh hijau ekslusif yang berkolaborasi dan karya Leo Tolstoy? Itu boleh juga. Yang pasti, hidup adalah menikmati jengkal-jengkal rasa dengan setiap mimpi. Kita bisa membaiatnya menjadi kenyataan meskipun ada beberapa kekurangan yang tidak bisa diisi oleh diri kita sendiri.

Jengkal kehidupanku masih samar jejaknya. Aku belum tahu jejak siapa itu. Tapi saat ini, yang menetralkan asa bisa kudapat dari secangkir kopi dan buku tua. Dua benda yang mengantarkan khayalan agar bisa terkirim kepada detak yang sedang berdegup jauh di sana.





You May Also Like

0 komentar