REVORAIN

by - 08.28

Hujan terkadang menjadi eksistensi dari memori yang berevolusi. Karakter memori tersebut bisa saja terus menerus stagnan namun bisa juga memiliki banyak tema. Kesenangan, masa silam, impian, juga persahabatan. Hujan tidak pernah kesepian walaupun dia sedang sendirian. Dia memiliki awan, langit dan gigil yang dinanti banyak orang.

Hujan membuat setiap manusia melamun di dekat jendela, menjadikannya lebih sempurna dengan secangkir teh hangat dan sepiring biskuit inisial satu nama, juga rela menembus gerimis manis tanpa perduli tubuh harus lebih berusaha menghangat agar tidak mati beku bersama lara.

Hujan tidak pernah kaku. Dia mengalah kepada petir yang lebih tegap dan sekuat serdadu. Tapi tentu saja riak hujan tidak pernah menjadi nomor dua. Dia masih akan terus diulas dan dirindukan setiap dari mereka yang menulis kisah tentang perjalanan waktu dan cinta.

Tadi malam pun hujan menggedor pintu. Entah apa maunya benda itu dengan membuatku terjaga tengah malam saat tubuhku meringkuk didekap selimut hangat. Rinainya lalu berujar bahwa dia membutuhkan seseorang untuk menadah cerita. Dan seperti biasa, aku menuruti kehendaknya di sisa kantuk yang belum juga beringsut dari mata.

Aku menguap, tapi hujan itu hebat. Aku ternyata enggan tertidur lagi dan mendengarkannya mendongeng mengenai tarian sepasang kunang-kunang, lelaki dan perempuan yang berlarian sambil mengutuk sang hujan, juga tentang ketertarikan manusia kepada luka. Hujan terus saja mengoceh dan kepalaku hampir terkulai.

Akhirnya hujan memelukku dan mengantarkanku tidur. Dia berbisik sesaat. Katanya, jiwa bisa setenang pekat malam setiap kali dia datang. Dia tak terkalahkan, penyeimbang suhu jiwa dan selalu diamini sebagai makhluk yang sempurna.

Hujan...besok kau datang lagi kan? Giliranku mengutarakan kata dan kau tinggal duduk di ranjangku saja. Bagaimana?

You May Also Like

4 komentar

  1. tulisannya dalemmm.... seakan terbawa kedalam alurr......
    mau dooooong jadi hujannya.....
    hihiiiiii

    BalasHapus