LOGIKA LECTER

by - 09.23

Kenal dengan seseorang yang logika otaknya keren itu adalah pengalaman yang gue rasa, menguntungkan. Atmosfir emosinya terjaga begitu rapi, sedikit ekstrim tapi cerdas dan hampir tak memiliki celah untuk bisa disangkal. Gue sedikit demi sedikit memahami bagaimana plot yang harus diatur agar kita tidak tergerus emosi, apalagi emosi yang bisa menghanyutkan kita ke suatu skenario bejat yang diciptakan otak kita sendiri.

Kalo lo pernah nonton The Silence of The Lambs atau sekalian baca novelnya yang ditulis Thomas Harris dengan karakternya si Hannibal Lecter yang super psycho tapi kharismatik itu, nah sobat gue ini hampir mirip kayak dia. Bedanya, dia bukan pembunuh meski jenius, bukan kanibal dan sama sekali bukan cowok bangkotan. Dia keren dan emang kharismatik, lumayan ganteng dan rada narsis. Dia itu kayak seorang dokter yang ciamik banget dalam masalah cinta dan selalu punya tulisan gokil untuk dibaca.

Ada satu yang gue kagumi dari manusia ini. Dia acuh tak acuh dengan cara yang unik. Dia pemerhati yang lihai bersembunyi, analis kelas atas dan bermain dengan data emosi hati setiap orang yang datang meminta bantuannya memecahkan enigma super rumit. Dia manusia yang ga sempurna yang ternyata punya masa lalu tentang cinta yang bikin dia masih marah sampai detik ini. Dia bisa tau apa yang ada di hati dan pikiran gue sebelum gue cerita secara terperinci karena udah punya pengalaman seabreg tentang cewek.

Saat gue denger kisah dia, gue garuk-garuk kepala karena kisah cinta gue ga ada apa-apanya. Dia berurusan dengan makhluk bernama perempuan yang level otaknya di atas dirinya dalam hal apapun di porsi negatif. Tau dong gimana reaksi seorang cowok ketika tau ada cewek yang bisa lebih dramatis tentang hidup dibandingkan dirinya? Tau dong gimana misuh-misuhnya cowok pas tau ada yang jauh lebih ekstrim dari dirinya soal logika? Tapi dengan lawan seimbang kayak gitu, dia bisa lebih belajar agar tetap di garis batas. Ekstrim boleh, asal jangan mainin perasaan orang dengan drama hidup yang dibuat-buat. Gitu katanya.

Hebatnya, dia ngajarin gue untuk ga jatuh dan bertindak bodoh dalam bertindak apalagi ketika gue lagi ada di tingkat kemarahan super ganas. Ada kalanya ketika kita marah, kita akan melontarkan emosi negatif di sembarang tempat. Akibatnya akan bisa ditebak. Tapi temen gue ini menarik tangan gue dari sikap teledor yang bisa merugikan diri gue sendiri.

Ini pertama kalinya gue punya sobat yang ketika ngomong, gue nemu jawaban-jawaban yang selama ini gue cari. Di otak gue selalu ada kata "kenapa" dan "harus gimana". Dengan olah karakter yang dia ajarin ke gue, gue jadi nemu sesuatu yang klik tentang karakter-karakter manusia di sekitar gue. Katanya, hidup kita akan aman dan simple kalo kita ga ngurusin masalah orang lain secara langsung. Analisa aja dulu, pelajari dulu, dan satu hal yang penting, jangan sampai kita hanyut dalam permainan masalah orang lain yang akan bikin kita terjebak.

Tapi sebagai cowok, dia tetep cowok yang punya banyak banget mantan, punya pikiran yang sering banget melenceng dan seorang eksplorator ulung. Berbahaya sebetulnya, karena gue ga tau apa yang tengah mondar-mandir di otak manusia ini. Mesum kah? Jahat kah? Punya rencana terselubung kah? Bukankah orang yang punya karakter tukang goda itu harus dihindari?
Memang. Tapi, seseorang pernah bilang ke gue: Gimanapun karater, sifat, sikap orang, kalo dia ga punya salah sama kita ngapain kita jauhin? Kita bisa memfilter mana yang buruk dan yang baik. Terserah orang mau jelekkin temen kita, tetapi selama dia jadi tempat berteduh, sah-sah aja tetep temenan. Oke fix.

Lo sendiri...punya temen yang berbahaya tapi bisa jadi tempat curhat ga?




You May Also Like

2 komentar