FACADE MUSIM GUGUR

by - 17.21

Musim gugur tak kalah cantik apabila dibandingkan dengan ornamen facade katedral Starsbourg atau balai kota Chojna. Berjalan sendirian dengan pohon-pohon berdaun kekuningan di samping kanan kiri adalah kesempatan langka untuk mengagumi arsitektur langit atas musim yang cukup dingin ini. Mantelku lumayan tebal, cukup untuk menghalau suhu yang mengelilingi tubuh. Aku hampir saja mengernyit karena kedinginan tanpa benda yang memelukku itu.

Facade musim gugur memang tak terlalu semarak seperti musim semi. Tidak ada Aster, Daisy atau Hawthorne. Tetapi warna lembut yang dititipkan lembaran dedaunan menghadirkan opini tersendiri mengenai satu fantasi. Ada banyak mimpi yang terpijarkan saat berada di musim yang ditengarai adalah musim pijakan para penyendiri yang terluka dan merana.

Musim gugur memang identik dengan kesenyapan namun tak pernah gersang ataupun menyengat. Warna khas musim gugur adalah facade yang mengagumkan dan dapat langsung dinikmati lensa mata. Tak butuh imajinasi yang berbelit-belit, tapi dengan memandangi pepohonan yang berbisik saja, kita akan tahu mereka suka dengan gerbang warna yang diciptakan iklim sehingga membentuk graffiti yang tak terlalu rumit.

Musim gugur memahami eksterior yang sederhana tapi memikat. Setiap kali bertemu dengan musim ini, aku teringat pada keheningan tanpa pelangi, kesenyapan tanpa kebisingan dan keterikatan atas suara yang disimpan kebisuan. Aku jatuh cinta pada musim gugur. Aku ingin terus menikmati facade warnanya, juga kedamaian yang dibawanya untuk jiwa-jiwa yang ingin pulang dan disambut cinta.

You May Also Like

0 komentar