REMINISENSI HUJAN

by - 21.18

Hujan adalah energi. Seperti halnya memori. Keduanya adalah impresi seseorang mengenai cinta dan kehilangan yang amat sangat dalam. Efek sampingnya adalah abses atau cedera yang tak kunjung sembuh sebelum waktu datang berkunjung membalut hati yang belum terbiasa hidup sendiri. Deranya cukup untuk membuat seseorang terlunta-lunta dengan surat cinta di genggaman tetapi tidak pernah terbalas sama sekali.

Lara bagi setiap jiwa tidak akan pernah sama. Rintik-rintik basah itupun begitu. Hujan, bagi setiap orang tidaklah akan sama. Manis rinainya bisa menjadi penyejuk, kenyamanan seperti selimut, esensi atas kondisi paling indah di setiap suasana hati, juga  jarum jam pengikat rana di mana tubuh enggan menerima kenangan. Tetapi suatu hari setiap manusia akan bisa berdamai jika hujan tersebut memberi perih dan sedih.

Setiap sudut kota, ruang, dan dimensi paralel, akan selalu ada bibir yang berpura-pura melisankan sunggingan walaupun nyatanya mata tetap payah saat mengelabui keadaan. Mustahil itu adalah jika parut hilang, namun suatu kewajaran jika garis-garis kesakitan itu tetap menempel di tempatnya pertama kali tersungkur oleh perasaan. Bagai racun dan penawar yang dilarutkan bersamaan, hati yang meminumnya tidak akan mati namun tidak juga akan hidup. 

Setiap hari aku mengingat bagaimana bentuk hujan saat malam berdenting membisu pilu. Aku tak tahu apakah skema dan suaranya mengetahui bahwa aku selalu merindu. Kugoreskan puisi melodi yang tak mampu menyerap lirik. Entahlah itu karena rinduku yang menggebu ataukah karena aku tahu hal itu tidak akan sampai kepada titik temu. Lalu aku mengerti bahwa setiap orang terdekat pasti akan pergi. Beberapa hal memang tidak akan pernah bisa kita kendalikan, dan seseorang yang sangat berarti terkadang memang takkan pernah bisa dilupakan.

Suatu hari aku sempat menganggap remeh hujan yang menyimpan memori. Aku bodoh dan salah karena semakin kusingkirkan semakin melekat dan menempel kuat. Benda itu membuatku terjebak di satu titik. Aku tidak bisa berlari ke mana-mana. Tapi justru hal itupun adalah satu-satunya yang membuat nyawaku bertahan hidup. Hujan dan reminisensinya melumpuhkan langkahku tetapi keesokan harinya hujan adalah pemicu yang membuatku berlari melawan waktu. Sampai akhirnya kutahu bahwa diriku sudah dihapus dari kehidupan satu nama. Sampai akhirnya aku mengerti bahwa aku tidak akan menjadi tempat berteduh untuk sebuah jiwa.


You May Also Like

4 komentar

  1. Kata katanya luar biasa, Hujan mengingatkan saya pada sesuatu yang tak saya lupakaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama. Hujan juga selalu mengingatkan saya tentang hal-hal yang tak mampu terkatakan lisan.

      Hapus
  2. Aroma hujan itu.. Hm wangi. Asal hujan tak disertai petir, tidur nyenyakku selalu ku utamakan. *eh.

    BalasHapus