LANGIT JUNI

by - 12.12

Dalam ensiklopedia filsafat Yunani, Juno adalah dewi yang menguasai langit. Konon karena cinta banget sama langit dan tetek bengeknya kayak cuaca, rahasia senja juga awan-awan yang membentuk koloni aneh dengan bentuk unik, Juno berharap bisa menjadi tangan yang menggenggam semesta. Tapi gue ga mau ngomongin si Juno, orang gue ga kenal. Gue hanya ingin mengenang sesuatu tentang bulan Juni yang di dalamnya ada dia, sahabat sejati yang sudah pergi.

Juni emang sangat istimewa. Gue Gemini yang lahir di bulan Mei, tapi Juni juga punya horoskop yang sama. Mungkin itu juga yang menyebabkan Mei dan Juni punya keterikatan sebagai penerima gugus bintang di konstelasi di satu rasi. Sapardi Djoko Damono pun mengagumi bulan yang satu ini. Katanya, tidak ada yang lebih tabah dan bijak dari bulan Juni. Itu bener banget. Gue jadi inget juga Sapardi, masih dalam Hujan Bulan Juni berucap kayak gini:

“dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya;
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya”


Iya. Di bulan Juni ini gue lebih banyak menangis. Menangis tentang cinta, kehidupan, rasa sakit yang belum pernah gue alami seumur hidup, tentang berpura-pura tersenyum, tentang jatuh, tulus, persahabatan juga doa-doa.
Beberapa hari ini tubuh dan jiwa gue capek banget. Pikiran gue ruwet dan mata gue bengkak sembab. Apalagi jika bukan gara-gara air mata. Yah, cengeng sih. Itu barangkali yang akan dikatakan oleh mereka yang tidak pernah mengalami. Tetapi, gue yakin setiap orang punya cerita sendiri tentang rasa sakit. Entah yang masih penuh sayat, sudah mengendap, atau dipaksa diendapkan meski masih akan terus timbul ke permukaan.

Bulan Juni adalah bulan di mana gue kehilangan seorang sahabat yang hatinya terikat dengan hati gue ini. Tetapi dia memutuskan tali itu dengan cara di mana tidak akan pernah bisa diikat lagi. Analoginya, rasanya ketika lagi seneng, duduk berdua di deket danau indah dan tertawa riang tiba-tiba ada meteor jatuh ke danau tersebut? Kesimpulan: hancur. Ga ada yang tersisa.

Itu juga yang gue rasakan. Awalnya tertawa tiba-tiba dihantam benda besar yang menyebabkan tubuh gue terluka kayak serdadu yang nginjek ranjau. Kalo ga mati ya cacat. Awal terluka gue ga bisa menerima. Awal ditinggalkan sahabat, gue pun sekuat tenaga ga rela. Gue benci, sedih, kecewa, apalagi sahabat gue itu punya sahabat baru. Jadi ketika meninggalkan gue dia bisa lari kepada sahabat barunya yang ngasih dia bintang-bintang. Wow...so sweet ye? iye!!

Lalu gue? Gue lari ke mana?? Gue ngomong sama siapa? Ga ada! Gue bangun dengan luka yang masih basah dan menganga dan sendirian bener-bener ga mudah. Jika kita mencintai sahabat lebih dari mencintai diri sendiri, rasa sakit yang mampir ketika kita ditinggalkan ga akan pernah bisa dibayangkan.

Efeknya sih dahsyat banget. Bolak-balik rumah sakit dengan muka linglung, sendirian, yang gue liat cuma kursi roda di sudut ruangan, pasien-pasien bermuka pias dan mereka yang ngantri buat cek darah. Gue pun jadi males nulis dan mendadak bego sebego-begonya karena masih aja nangkringin akun medsos sahabat gue itu. Jreng jreeeng....dia punya sahabat yang bisa diandalkan ketika jatuh. Wew banget dah itu. Gue nyengir, ketawa sambil nangis. Hebat.

Tapi dengan luka-luka yang masih berdarah itu gue mencoba untuk ga egois. Gue bersyukur dia punya seseorang yang bisa membuatnya ketawa meski ada rasa iri kenapa gue juga ga bisa kayak gitu. Kenapa gue ga bisa lari ke seseorang yang lain? Sahabat gue ya hanya dia dan gue ga bisa mengganti dirinya dengan orang lain segampang dia melakukannya. Gue hanya punya satu hal yaitu keyakinan. Keyakinan bahwa Allah akan mengganti semua luka-luka gue dengan senyuman. Mungkin bukan sekarang tapi suatu hari nanti pasti gue bisa bahagia, kayak sahabat gue itu yang so sweet sama sahabat barunya. Gue doain langgeng. Gue doain sahabat barunya ga ngerasain apa yang gue rasain.

Gue rasa langit bulan Juni adalah langit paling indah sekaligus paling menyakitkan yang pernah gue kenal. Juni adalah kenangan, di mana gue bisa hidup dengan mengingatnya setiap hari.







You May Also Like

2 komentar

  1. sahabat apa TTM tuh klo efeknya separah itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. TTM hanya untuk mereka yang lebih mengedepankan nafsu. Jelas?

      Hapus