KENANGAN JUNI

by - 12.41

Kenangan. Apa itu kenangan? Gue ga tau apa arti sebenarnya dari kenangan. Gue rasa kenangan adalah proyektor otomatis yang memutar setiap kepingan masa lalu dan kita bisa memutarnya akapan aja. Tentu saja, karena kenangan itu tersimpan rapat di otak kita yang kapasitasnya luar biasa ini. Masa lalu tak harus beberapa tahun yang lalu. Beberapa detik yang berlalu jika itu pahit atau manis tentu saja akan sudah bisa disebut kenangan. Namun banyak yang lupa bahwa kenangan pahit seharusnya disisihkan aja. Ingatan-ingatan manislah yang seharusnya tetap ada agar kita bisa mengenang sambil tersenyum, bukan menangis.

Kenangan akan cukup bagus jika dijadikan pengingat hal yang indah, bukan sedih ataupun tangis. Saat berpisah dengan seseorang, katakanlah sahabat, perpisahannya tentu aja menykitkan. Tapi kenangan setiap saat dengannya adalah sesuatu yang manis yang wajib disimpan di hati. Manusia harus bisa mengolah perasaannya dengan optimal. Ada yang bisa melakukannya dengan cepet, misalnya baru aja pisah udah bisa dapet sahabat baru. Ada juga yang begitu sulit untuk menitipkan perasaan kepada sahabat baru karena begitu berharganya sahabat yang udah pergi dan susah terganti. Oh ngga. Bukan susah, tapi memang ga bisa terganti.

Terkadang kita harus menyiapkan diri lebih awal untuk ditinggalkan dan dilupakan. Mau ga mau, cepat atau lambat akan ada masa di mana kita menjadi orang yang terakhir diingat atau juga sebaliknya, orang yang pertama untuk dilupakan. Awalnya kita mungkin bakalan protes. Kenapa kita ditinggalkan? Kenapa kita dilupakan? 
Manusia itu punya pikiran yang bercabang-cabang, banyak pula. Satu cabang untuk si A, cabang satu lagi untuk si B dan seterusnya. Saat setiap cabang minta diperhatikan, ada beberapa cabang yang memang sudah jatahnya untuk ter-skip dan siap atau tidak siap kita harus menerimanya. Cabang yang dilupakan ada karena hal-hal yang lumrah. Kesibukan, tidak sempat untuk mencari cabang mana yang sekiranya tertinggalkan, tapi bahkan cabang tersebut dilupakan karena pemiliknya menang ingin melupakan. Jangan salahkan, karena terkadang kita pun demikian. Bukankah begitu?

Ada kesyukuran ketika kita mengetahui bahwa kita pernah menjadi cabang dari pikiran seseorang. Itu bisa menjadi satu kesenangan tersendiri. Tak apa ditinggalkan. Tak apa dilupakan. Paling tidak, kita pernah menjadi bagian dari seseorang meski pada akhirnya kita harus merasakan bagaimana perihnya dibuang seperti sampah yang udah ga punya daya guna.

Di bulan Juni ini ada sederet kenangan yang akan terus gue inget. Kenangan yang akan menjadi titik di mana akan menjadi penyembuh setiap kali gue sakit. Kenangan tentang persahabatan yang sangat kuat tetapi harus putus di tengah jalan. Pengen banget jadi sahabat seseorang sekali lagi. Kalo bisa orang yang sama. Tapi manusia ga bisa egois, ga bisa selalu harus dituruti jika punya keinginana. Saat ini, sahabat Juni-ku sudah punya sahabat baru. Gue cuma bisa melihat dari kejauhan, sesekali menangis tapi juga lega karena dia bisa meringankan beban dan membaginya kepada orang baru.

Gue? Gue cukup mengingat kenangan tentang Juni. Kenangan tentang persahabatan. Kenangan tentang sahabat yang meninggalkan dan telah punya tempat berteduh yang lain yang lebih bisa menenangkan. Gue? Gue cukup berteduh dengan mengingat nama dan tatapan matanya.

You May Also Like

0 komentar