SECANGKIR PUISI MUSIM GUGUR

by - 23.05

Aku ingin berbincang dengan musim gugur tentang secangkir puisi dan kamu, dua hal terhebat yang sedang kunanti di setiap bagian hari. Menjelang aurora menyapa, terik yang melelehkan coklat di atas panganan kesayangan, juga ketika serdadu bintang berjejer rapi membentuk konstelasi. Musim gugur adalah melankolia yang menguasai logika. Tentunya kau pasti tahu dedaunan yang jatuh saja mendengar nama pujangga disebut oleh lisan yang berdoa.

Pagiku sedang bersahabat dengan senja. Keduanya mengizinkan secangkir puisi ada di atas tatakan keramik yang bertengger manis tepat di depan kedua tanganku yang menopang dagu. Secangkir puisi yang mengepul sedikit panas, berbaur dengan luruhnya dedaunan yang berbisik mesra bersama udara. Ah menyebalkan. Aku lagi-lagi bertepekur dan enggan menolak pesonanya. Menggoda, liar menari di pucuk khayalan, menarikku sampai terhempas dan berdegup tak tahu aturan.

Musim gugur tak ubahnya perekat pepohonan yang mulai menepi kepada musim semi. Sama seperti elegi yang melekat kuat pada setiap memori. Coba saja kau berpindah jiwa dari satu musim ke musim yang lain. Pilihlah si autumn, maka agenda-agenda ingatan yang tersembunyi terkuak tanpa bersedia untuk meraungkan jeda. Lalu saat mata menatap, cangkir puisi sempat bertanya apa yang barangkali terlintas untuk kulakukan saat musim gugur tiba. Kujawab saja bahwa bibir ini akan menyesap setiap klausanya. Cangkir puisi pun tersipu, bersembunyi di balik riak kalimat-kalimat yang berseliweran dan hendak dikumpulkan agar menyatu utuh.

Lucunya, frasa dan rima mulai saling berdebat, tak ingin tertinggal untuk jatuh ke dalam candu puisi yang akan dikagumi setiap ksatria kata. Aku pun tergelak, tertawa renyah sambil sesekali membayangkan bagaimana paras musim gugur yang nanti kutemui dan kupandangi lekat-lekat. Sastra takluk di hadapan lara, namun ikatan antara musim gugur dan notasi warna senja adalah jodoh yang dipersatukan langit di atas sana.

Suatu saat nanti, aku ingin bisa sedekat ini dengan musim gugur di mana ketika bibirku menyentuh tepi cangkir tanpa berujar atau berhenti. Cukup kunikmati saja setiap ritme keelokannya yang agung dan setia. Kutahu bahwa musim gugur selalu memiliki kemampuan lebih dari sekedar magnet untuk mencari buih-buih renjana manusia yang satu dengan yang lainnya.

Aku ingin bertemu denganmu, musim gugur. Beritahu aku siapa dia, bagaimana kehangatan hati dan wewangian jiwanya. Berbisik saja, dan aku janji tidak akan bilang siapa-siapa.

You May Also Like

6 komentar