POLARIS MUSIM DINGIN

by - 22.32

Musim dingin selalu menyapa dengan warna putihnya yang setara dengan bintang kudus penunjuk arah. Remah-remah anasir sejuk itu tepat bertengger di pelupuk mata, membuatku mengerjap dan tertawa. Kupandangi langit azura dan bertanya apakah Polaris setia di atas sana, membimbing orbit agar tetap melintas sesuai perintahNya?

Bintang penunjuk arah dan salju barangkali sama seperti Gemini atau juga Libra...atau perkamen tua yang teronggok di rak usang yang sudah tak dilirik lagi oleh siapapun. Setiap hal memiliki lintasan yang sama-sama gila, canggih, tersembunyi, penuh rahasia namun sama-sama mementingkan hati. Apa yang menghubungkan setiap detailnya tak pernah dapat dinalar. Hanya saja mereka mempunyai perasaan hangat yang tertutupi kisah-kisah picisan yang digubah sembarangan.

Aku suka salju. Aku juga suka Polaris yang menjadi kata kunci untukku menulis apa yang harus kutulis di atas carik-carik suka maupun duka. Setiap kali kutengadahkan kepala, langit berbisik bahwa mereka punya banyak sekali ide-ide brilian tentang keindahan antariksa.
Tetapi aku akan lebih menyukai Polaris musim dingin saat melewatinya bersamamu, seseorang yang akan dikirimNya khusus untuk memberitahuku apa makna dibalik dinginnya salju itu, apa yang terjadi pada sampul buku yang retak, atau apa yang terjadi jika salju kelelehkan di atas syair-syair tua yang menyimpan ilham.

Suatu saat nanti, kita akan menatap Polaris dan menyentuh salju di tempat yang sama, di detik dan detak senada, juga hati yang terikat oleh satu rima kata.

You May Also Like

2 komentar