NIKMAT PEKAT ROBUSTA

by - 00.33

Kabus merayap, bergiliran memendar alas tumbuhan yang meranggas. Tersimpan sisa balutan utopia semalam yang mengharap diri tak menyerah pasrah terhadap lejar yang meringkuk. Impresi kakiku masih terasa janggal. Melantun di atas taris ubin yang begitu dingin. Kemudian kucari penyembuh penat, berjinjit perlahan tanpa sandal lalu kutemukan dia di dalam kubu kaca yang sempat kusimpan rapi.

Pagi ini kerangka raga serasa retak tepi demi tepi, ruang demi ruang sehingga aku menguap begitu kentara. Kantuk masih meninggalkan aromanya, namun seketika terkalahkan saat robusta gelapku yang terdampar di dalam ceruk putih yang tersajikan secara hati-hati.

Hmm...raksinya yang mendidih malah membuatku teduh. Aku mengalami sedikit efek amnesia yang justru menyenangkan saat robusta panas yang nikmat itu menyelinap lewat sela-sela lidahku yang sedikit kelu. Mataku pun nanar ditimpa keheningan beberapa jam ke belakang. Saat rebah, raga terjatuh dengan cara melenting, capai mengeruk energiku sampai tak bisa bergerak leluasa sama sekali.

Untunglah, robusta gelapku sekali lagi menghadirkan keonaran sejati di kepalaku tentang konsep pagi pemilik embun yang seharusnya segar namun terkadang pilu, layu diregas pikiran-pikiran manusia yang terlalu gelisah atas dirinya sendiri. Jika tak ada pekat itu, mungkin saja aku masih tertidur dan teraniaya waktu.

You May Also Like

2 komentar