MUSIM SEMI DAN SELAI ROTI

by - 23.28

Tahukah kau hal farik apa saja ketika musim semi mulai menjejaki teras rumah? Transisi salju tergantikan mekarnya kembang setaman, cahaya dengan partitur segar, juga bau manis roti panggang yang dikecup selai stroberi kesukaanku. Ketiganya adalah rangkuman dari eksistensi kecemerlangan aksen yang digubah komponis atas literatur nada level tinggi.
Semuanya berganti dari kristal-kristal beku yang jauh dari hiruk pikuk langkah kaki menjadi periode artistik akar pelangi. Tetap saja, cerita yang sama tentang kamu belum terusik hingga kelopak Krisan mulai mengerti apa arti esensi rasa yang sampai saat ini dikemas rapi.

Berbicara tentang roti panggang di musim semi, aku selalu ingin bertanya selai dengan rasa apa yang paling kau sukai. Coklat? Pistachio? Srikaya dengan granula pekat? Atau sepertiku yang menyanjung selai stroberi dengan kesempurnaannya di atas olahan gandum lezat tanpa cacat?
Pasti akan sangat menyenangkan saat kita berdebat tentang satirnya Wilde saat menulis Pangeran Bahagia, atau barangkali kita akan beragumen karena kau mencerca selera musik yang kugandrungi tetapi tak cocok di telingamu sama sekali.

Ah, musim semi dan kudapan nikmat tidak akan pernah bertitel paripurna saat aku hanya menyantap keduanya sendirian. Buku-buku di hadapan akan basi dilahap ambigu, nyanyian rerumputan akan bisu, sajak masih tertidur lesu, plakat rindu pun ikut-ikutan bergumam sendu. Dengan metafora sedetail itu, jelas sekali kalau aku hanya ingin kamu, jawaban atas doa jiwaku.

Tak jadi soal kau lebih menyukai Monet dibandingkan DaVinci. Tak mengapa jika kau lebih garang mengomentari karikatur abstrak di atas trotoar pinggir jalan berpeluh caci maki. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya menatapmu saat menikmati roti panggang berselai yang kuracik dengan tanganku sendiri. Jika kau suka, maka akan kubuatkan sekali lagi.

You May Also Like

4 komentar

  1. Meskipun metaforanya begitu detail, Si Dia mungkin hanya akan tersadar saat titah yang tertuju kepadanya seterang matahari. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahhaa iya kayaknya. Mungkin saya harus ngomong tepat depan org itu ya?

      Hapus