MANUSKRIP HUJAN

by - 21.01

Ketika hujan menulis manuskrip titik larik rindunya, salinan dokumen setiap kata termaktub oleh lara yang sejenak diam untuk tersenyum. Setiap abjadnya tertata rapi, terjaga di setiap galur dan menyimpan banyak sekali mimpi. 

Hujan malam ini turun perlahan. Dia tidak ingin berisik dan mengusik manusia-manusia yang tengah melantunkan doa sejak pagi baru saja menguap dan membuka mata.
Dari luar pagar rumah, hujan menyelinap lalu menuliskan setiap harapan yang dia bawa setiap kali mengetuk pintu. Apakah kamu pernah merasakan bahwa hujan terlalu baik? Dia terkadang terusir oleh keculasan orang-orang yang tak menyukainya datang. Tetapi banyak jiwa yang justru amat berterima kasih atas sajak-sajak yang digoreskannya di atas awan. Puitis, manis, sedikit sinis, bahkan juga anarkis karena kerap kali menghadirkan gigil yang tak tertahankan. Mungkin saja memang seperti itu, tergantung bagaimana setiap manusia menginginkannya menjelma. Tiada, ataupun terlihat ada.

Naskah-naskah cinta yang dibuat hujan setiap hari berisi dialog-dialog amatir sekaligus indah dengan lisan embun, kaca jendela, bangku kayu di taman-taman, pelataran luas dengan ayunan kosong, juga prosais yang tak henti memuji alur-alur diksi. Bagiku hujan itu keberkahan yang dikirim surga agar hati tetap merasa sejuk dan hangat dalam waktu bersamaan.

Bukankah dalam dinginnya hujan ada perapian kecil di dalam pikiran kita yang membuat rinai-rinai kristal itu begitu istimewa dan tak tergantikan? Ada salju, gugus-gugus bunga musim semi, keceriaan musim panas juga aristokrasi musim gugur. Namun tetap saja hujan  menempati zona paling cemerlang, memikat, superior dan begitu berkuasa menarik jiwa yang menunggu cinta.

Apakah kau menyukai hujan yang juga sebetulnya menyukaimu tanpa engkau tahu? Selidikilah, maka pastinya hujan akan selalu bersedia mencari malaikat untuk menyampaikan bait-bait doa yang selalu terlantun dalam sepi.

You May Also Like

4 komentar

  1. Gue juga suka ujan, tapi kalo ada petirnya sepertinya hujan lagi marah.
    Keren tulisan ini, aku suka :)
    kunjungaan pertama juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah iya kl ada petir aku malah suka teriak, sembunyi pake selimut. Makasih ya atas komentarnyaa

      Hapus
  2. ah mbak agya, rangkaian kata-katamu selalu teduh bagaikan langit yang mau ujan. *kemudian ujan-ujanan*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiih. Mau ujan-ujanan? Jangan lupa bawa payung yaaa

      Hapus