DILEMA SENJA

by - 23.59

Senja selalu bersedia membagi kepingan-kepingan rahasianya kepada siapapun. Kepada jarum jam yang bergulir, angin yang kelelahan, rembulan yang merindukan lintasan meteora, pemahaman tentang hakikat cinta setelah pertalian, juga kepada tawa jiwa-jiwa yang memujiNya.
Samar-samar terdengar gemericik hujan di luar sana. Tetesannya mengantarkan asap dupa nyanyian dingin yang kesepian. Telingaku peka, terdiam tubuh rebah sambil menatap langit-langit tanpa sedikitpun bersuara.

Banyak yang menyalahkan gradasi ufuk barat itu saat mata terpejam diam. Katanya, galur kemerahan yang satu itu terlahir untuk menjadi koleksi lukisan surga yang terlalu harus dipuja. Terkadang dia memaparkan alur tentang mereka yang selalu membaca rantai kalimat doa, terkadang mendongengkan kisah-kisah sendu tentang kehilangan dan sepotong harapan. Keduanya mempunyai dua dinding energi. Gembira dan lara, juga ramai dan senyap. Tetapi, senja tidak dapat disalahkan begitu saja. Bukankah manusia pun merahasiakan dilema yang datang silih berganti di tiap cerita?

Senja membuat segalanya lebih baik bahkan di saat terburuk meski ada beberapa yang tidak menaruh suka. Ada keutuhan makna ketika bukit, lembah dan bibir pantai dijenguk sang jingga yang setia dan selalu bertindak arif. Darinya hujan belajar sabar. Dengan lariknya yang puitis seorang hawa melantunkan doa untuk calon penghuni hatinya. Apa-apa yang terkatakan oleh senja seperti titah diorama. Apa-apa yang digariskan warnanya menyampaikan pesan untuk selalu dapat diingat. Jika sudah begitu, apa yang harus dipersalahkan dari senja padahal manusia terlanjur jatuh cinta padanya?










You May Also Like

2 komentar

  1. Prosanya keren kak^^
    kunjungi blog saya : mhendaa.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiiih. Siap meluncur ni ke blogmu

      Hapus