BINTANG WAKTU

by - 21.10

Malam ini denting bintang terlihat seperti nafiri, menjejak memori berserabut dan aku mulai tak ingin mencecap rasa perduli. Memori pun terluka, terlunta di atas pembaringan salju dingin bersama lembaran puisi basi. Kulihat di sekelilingku hanya ada dinding suram lalu temaram yang akhirnya padam. 

Berbisik satu ingatan tentang waktu yang kini entah berdalih di mana. Barangkali, kurasa, waktu sedang bersembunyi dan diam-diam berjinjit mengapit rahasia kemudian menjejak mimpi tanpa diketahui oleh setiap hati dan jati diri.

Aku tidak ingin lagi bersalaman dengan waktu. Dia penipu, culas kemudian berlalu tanpa menoleh apalagi menepis ragu. Meskipun kuperhatikan detak jantung waktu terus berdetik, dia masih berdegup sedangkan debarku tak lagi memiliki hidup. Aku merasa waktu menjauh tanpa ucapan salam. Kukejar tetapi kuterjatuh berdebam dengan lutut berdarah. Sakit. Seperti itulah ketika satu rasa terkoyak oleh keegoisan satu manusia.

Akupun berpikir begitu dalam di sebuah ruangan gelap. Ada satu yang kulempar jauh jatuh ke dasar jurang ketika kegelapan datang menjaga raga. Dialah rindu yang selama berdenyut tak membiarkanku memugar sembilu. Ada ratap, pongah, lara, angkuh dan juga dedalu pilu yang merangkak naik memenuhi otak.
Petuah dan kenangan tak lagi melena namun cukup kuheningkan saja di masa lalu. Setelah ini, aku tidak ingin mereka ada di saat jiwa berbaikan dengan sang waktu.

Pada akhirnya kusadarai aku hanya ingin bebas bernapas, sebebas mitos Tufah Farsi di alam khayalan yang tak mampu diretas luka dan janji yang tertinggalkan.

You May Also Like

4 komentar

  1. Mitos tufah farsi itu apa mbak? :o baru denger

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu pohon khayalan yang ada di dunia yang bukan dunia kita. Mitos gitu, aku bacanya di buku ensiklopedia

      Hapus
  2. Balasan
    1. Alhamdulillah makasih sudah komentar ya

      Hapus