LETTER OF APRIL (5): GRADASI

by - 23.15

Hei, kamu-ku...

Apa kabarmu malam ini? Maaf karena baru sekarang aku sempat menulis lagi. Aku merindukanmu setelah mengalami premonisi tentang mata dan bibir itu yang sama-sama milikmu. Aku jadi malu, karena ingin sekali menatap lensanya dan menghirup napas yang bernada cakra. 
Oh ya, buku apa yang kau baca hari ini? Bagaimana rupa gradasi warna di tempatmu kala rindu terukir di atas awan hujan sore tadi? Di tempatku lumayan dingin karena angin berderik menyebabkan gigil. Ah, justru hangatmu ingin sekali kurengkuh agar aku tak kedinginan untuk kesekian kali.

Kutemukan kaca patri bergradasi cinta di depan teras pagi tadi. Pantulannya menyiratkan inisialmu dan membuatku lagi-lagi harus mengekang rindu yang teretas. Kau menyiksaku, ya? Berhentilah, karena saat ini hanya gemintang dan orbit keheningan bertukas. Aku menginginkanmu, sungguh ingin melihatmu disampingku setiap kali terbangun dari tidur di bawah senyapnya cinta dan candu.

Ini aneh. Menggilaimu tanpa henti, mengalunkan artikulasi namamu bersama janji, belajar bersabar di bawah keteduhan mengakar, juga memintaNya untuk menghadirkan sedikit saja bayanganmu di dalam mimpi. Kau barangkali akan terhenyak namun gmbira saat mengetahui aku tak pernah bosan dengan itu semua.

Denganmu, kupahami bahwa kenyamanan adalah saat kita berdua menjadi diri masing-masing tanpa topeng ataupun alibi. Denganmu, kumengerti bahwa kemustahilan adalah hal kecil di mata Tuhan untuk dijadikan nyata. Aku menyadari cinta selalu menguatkan dan berbicara bahwa suatu hari, jemari kita akan bertaut tanpa terpisahkan lagi. Begitu pula dengan hati. Seperti gradasi, bertingkat helaian warna dan saling memberi arti tanpa berniat melukai.



You May Also Like

0 komentar