LETTER OF APRIL (3): EMBUN ALANG-ALANG

by - 10.03

Dear kamu-ku,

Kekacauan menghantam kepalaku pagi ini. Rentetan koma dan titik berseliweran tak tentu arah, padahal kumantik dengan trik-trik tertentu agar membuat mereka tampak rapi. Percuma, mereka berlarian dan bersembunyi sampai tak bisa kutemukan konektor untuk menyatukannya. Aku sedikit capek dan tubuhku berontak beberapa saat. Aku butuh istirahat. Aku butuh kamu.

Aku pun sedang kehilangan sesuatu di sebuah kumpulan detik tadi malam. Ah, tidak. Lebih tepatnya menghilangkan memori seseorang dalam otakku yang kacau balau, awut-awutan, dilihat dari bagaimana mata ini memproyeksikan jemu. Aku tidak bisa mengatasinya. Tidak untuk kali ini. Bisakah selintas saja kau datang dan menemuiku? Aku benar-benar butuh kamu.

Selagi masa sedang berbenah, justru carut marut menghias kamarku. Meski senja memberikan gradasi di sudut dindingnya, tetap saja tak bisa membuat suasana hatiku lebih baik. Sungguh, aku membutuhkan energi ekstra untuk menyelesaikan yang satu ini. Jika tidak, bisa-bisa aku sakit jiwa lalu berteduh di bawah jembatan pelangi sambil tersedu dengan wajah konyol. Menyedihkan.

Ngomong-ngomong tentang perasaan kalut, aku jadi ingat sesuatu, yaitu embun yang sering kau bicarakan saat kita berjalan menyusuri jalan setapak alang-alang. Kau masih sering merajah bias-bias embun di dekat situ, kan? Juga yang dekat dengan danau, pasti tak kau lewatkan. Benar, kan?

Di sini tidak ada danau atau jalan berpagar alang-alang, tetapi embun masih sering kutemukan hinggap di dahan atau bebatuan berlumut. Kau pernah mengatakan mereka kesejukan yang dapat disesap manakala kesedihan dan jengah datang. Kau benar. Aku mencarimu dan tidak ada, kugantikan dengan memandangi embun yang terdiam. Kau tahu? Itu berhasil. Setidaknya hatiku terasa lebih lega dari sebelumnya. Tapi tetap saja aku butuh kamu.

Hhhh...sungguh sunyi yang melentik. Jika saja ada kamu, kuminta kau mengajakku lagi melihat embun yang menyejukkan. Lakukan itu untukku saat kau pulang nanti, dan akan kulukis sesuatu yang membuatmu termangu. Bagaimana? Setuju?



You May Also Like

4 komentar

  1. Aihhh bahasanya sedap sekali, jauh lebih sedap dibanding merk mi instan B) bagusss mbak :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha jadi laper. Mkasih ya udah mampir

      Hapus
  2. saat tampias embun menerpa halus wajahmu.....percayalah aku bersamamu.....hahahahahahahaha #sok2an puitis...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha apa sih fiki puisi lo lucuuu hahaaha

      Hapus