LELAKI KOPI: PARAGRAF MURAM

by - 23.12

Dear, Lelaki Kopi

Tempo hari kulihat paragrafmu muram, merundung murung di atas atas awan yang lumayan lusuh. Aku bertanya-tanya apakah kau sedang gusar atau bergumam dengan pilu. Aku tidak tahu. Tapi ketika kupaparkan tanya dan kau menjawab baik-baik saja, belum ada lagi telusur kalimat yang kuterima darimu dalam beberapa waktu. 

Redup itu ingin kutepis, biar kucegah gerimis datang pada wajahmu yang bersahabat dengan polaris. Saat kata kau rantai dan tak dibiarkan lepas, aku mengukir setiap jengkal abjad agar senyuman itu kembali kepada bibirmu entah bagaimana caranya.

Sungguh sudah kukatakan bahwa surat-surat untukmu akan kukirimkan secara berkala. Ketika waktu berputar dan kutub lebih dingin, bongkahan ucap kusediakan agar kau mengukirnya sesukamu. Bentuk seperti inginmu yang tak terungkapkan sendu. Ukir setiap peluh dan keluh sekehendak tuturmu.

Untukmu Lelaki Kopi sahabatku, 
Surat ini adalah kerangka yang disadur dari roman matamu yang mengirimkan ketenangan. Kau selalu dapat merangkai syair sehingga malam-malamku tak lagi hanya dihiasi temaram, tapi benderang dari gugusan bintang penuh kejutan.
Setelah membaca surat ini, pastikan ada sunggingan untuk esok hari. Kutunggu balasanmu saat embun mulai berbagi kemurniannya bersama Bumi.

You May Also Like

0 komentar