LELAKI KOPI: EVAPORASI LUKA

by - 20.38

Dear Lelaki Kopi,

Maaf adalah milikku yang harus tersampaikan kepadamu di sana. Aku baru saja menyadari bahwa otak dan hatiku sama-sama bodoh. Bukan keterlambatanmu yang menyekat egoku, tetapi tidak adanya balasanmu untukku, sedangkan cangkir-cangkir gemerlap yang menyapamu setelahku kau elukkan dengan tawa riang seperti sebuah lagu.

Setelah itu, luka-luka yang kuusahakan pulih malah tertikam kembali, tercatuk dengan kenyataan bahwa aku sama sekali tak terlihat, sama sekali tak pantas dilihat. Ingatanku lalu melayang dan berestorasi bahwa mungkin tak seharusnya aku ada, menghalangi pandanganmu yang bening dan menjadikannya keruh kemudian mengabur.

Aku tidak akan pernah meminta lagi agar kataku dipintal balasanmu. Aku mencoba memahami sakit dan kelam itu, juga waktu yang kau butuhkan untuk menyendiri mengusir kelu. Terserah jiwamu dan aku takkan mengusik. Siapa aku? Tak ada. Kosong, hanya perempuan kesepian yang ingin bersahabat dengan perapal ilalang dan rembulan.

Lelaki Kopi, 
Jika kau memilih sunyi, maka aku hanya akan menjadi udara yang mengiringi, tak harus kau lihat meskipun hadir di musim semi. Jika kau bersua dengan puisi, maka aku akan menjadi indera yang mendengar, tak harus kau gubris meskipun bingar. Kehilangan kalimatmu tak apa, setidaknya aku masih bersemayam di dalam kotak memorimu, bukankah begitu?

Akhir kata, aku adalah kasta rendahan yang tak berani memintamu kembali menyeru sabda rima. Tetap saja aku menanti, walaupun tak tahu kapan detik bersedia berbaik hati.

Salam Persahabatan,
Ziya

You May Also Like

4 komentar

  1. Ufttt...lelaki kopi, judulnya mantap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sistaaa....udah mampir dan kasih komentar. Itu sahabatku, sis. Dia sangat suka kopi jadi kupanggil Lelaki Kopi.

      Hapus
  2. ah lelaki kopi, btw sampe berapa episode "lelaki kopi" nya mbak :D udah banyak bgt tuh postingan ttg lelaki kopi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe kayaknya masih akan berlanjut, mas

      Hapus