LELAKI KOPI: CANGKIR TERAKHIR

by - 20.55

Sering sekali kubuatkan secangkir kopi yang berkontur sama dengan kerlingan matamu. Kulakukan itu agar tak pernah lupa bagaimana formasi corak, kasta dan strata yang harus digubah untuk meracik raksi kopi paling legit. Tetapi itu dulu saat cangkir dan riak di dalamnya yang berupa kalimatmu selalu menyapaku di termin waktu. Sekarang berbeda saat kau menemukan cangkir-cangkir jelita. Sekarang tak sama setelah aku tak lagi terlihat nyata.

Aku hanya tembikar dengan kisah kata yang tersumpal rapat. Aku berusaha mengirimkan kepulan-kepulan aromatik untukmu melalui keutuhan sebuah sajak. Aku mengirim berjuta pesan persahabatan melalui senyuman. Sayangnya, penyekat lebih berkuasa dan kuat jiwa. Aku hanya tembikar usang yang tak harus ada dan selayaknya dibuang.

Kerap kali aku berdiri tepat di depan lensa matamu. Aku hanya bergumam dan tersenyum, lalu menjamu bibirmu dengan cangkir yang di dalamnya terseduh kopi manis yang kuramu begitu syahdu. Tak pernah terlintas bahwa bagimu pesan dalam cangkirku hanyalah sesuatu yang tak perlu kau baca meski hanya membutuhkan sejenak saja. Tak apa. Memahami bahwa sahabat terkadang tak harus terlihat adalah keharusan. Menyimpan sesal berbalut asa adalah pilihan yang harus diterima.

Lelaki Kopi, ini adalah cangkir tembikar satu-satunya yang kupunya, juga benda terakhir yang kuberikan sebagai notasi rahasia. Kelak kau tidak perlu membaca pesan-pesanku yang tak berharga. Kini cangkir-cangkir keramik elok itu akan menamanimu, berbalas syair dan pantun jenaka tanpa membuatmu bosan ataupun penat. Jika aku terlupa, aku tak harus berujar apa-apa. Paling tidak, aku pernah ada dan meracik secangkir kopi hangat untuk menemanimu bercerita.

You May Also Like

0 komentar