A GLASS OF TEARS

by - 12.45

Sebagian manusia menempa kesedihan ketika mereka tau mereka tidak dicintai sama sekali. Sebagian lagi merintih sendu akibat gagalnya cinta yang dibina sejak lama. Yang lainnya, kebingungan tanpa memiliki kepantasan untuk bertanya kepada Tuhan tentang penantian yang begitu menyita jiwa. Lalu yang lainnya tertatih dan mencoba memakai topeng senyuman tatkala mengetahui dirinya dicintai tetapi tak terlalu diinginkan. Sekedarnya saja. Kau jadi denganku oke, tidak jadi juga tak masalah. Sederhana. Menyakitkan.

Menyakiti seseorang itu amat mudah semudah membalikkan telapak tangan. Membahagiakan seseorang itu terkadang begitu sulit sesulit menghitung biji pasir di genggaman. Selalu saja ada dinding di setiap dua hati yang menyamar begitu cerdik. Menjadi orang ketiga, restu yang terhalang, waktu berjubah keegoisan, ini itu dan menyisakan keberanian yang sekarat di pinggir jalan.

Diam tak selalu menjadi jalan. Ada kalanya bicara adalah keleluasaan. tetapi perempuan hanyalah perempuan. Tak punya daya, miskin suara, berontak tak guna, menangis yang tersisa tetapi percuma tak pernah terbayar kata. Kemudian diam lagi akibat ketidakberdayaan. Tiada pembelaan, yang ada hanya anggukan meski hati tersayat dengan jaminan takkan sembuh selamanya.

Tak apa, Perempuan. Bukankah air matamu adalah minuman yang pantas kau tuangkan untuk pangeran yang bersusah payah memperjuangkan satu asa? Perempuan yang mencinta akan tetap menunggu dalam diam nyata. Tetap bersedia bodoh dan tercampakkan, tetap takkan pernah mempunyai pilihan.

You May Also Like

2 komentar