PERCIK HUJAN SENYAP

by - 22.30

Hujan tak hanya alur presipitasi yang seringkali disalahkan atas tertahannya rindu, tetapi juga penyanggah jenuh untuk bayanganmu yang menari-nari dan menggangguku. Iya, aku  terganggu tapi ingin hujan mengetuk dan berdenyut setiap kali hela berembun di atas kaca jendela. Dia tidak dingin seperti salju di atas atap kayu, barangkali tidak juga hangat seperti perapian ataupun pelukan. 

Bagiku hujan sama seperti ikatan yang menghubungkan koneksi suasana kita yang mendamba di satu titik meskipun berbeda tempat. Hujan adalah rasio kerinduan yang muncul lewat pinta nirwana, berbeda dengan embun yang datang diam-diam atau keelokan musim semi yang harus dinanti sedikit lama. Derasnya titik-titik hujan di atas tanah mengartikan siklus emosi positif atasmu, berdera dengan sunggingan yang menenangkan jiwa.

Hujan mengartikan senyap dengan cindai dan rinai. Aku tak begitu keberatan dia datang dan turun dari awan setiap hari. Yang terpenting bagiku senyap dalam hujan itu sama artinya dengan memikirkanmu, sebuah kelegaan dan intensi tersendiri karena pikiranku masih dipenuhi kamu dan simfoni puisi.

Sepi dan percik hujan malam ini turun lebih lama dari kemarin. Mungkin dia tahu aku sedang menunggumu, karena itulah mereka datang dan menjadi tamuku dan berharap dijamu. Yah...aku menjamu hujan dan senyap dengan ceritaku tentang cinta. Cinta yang datang lewat anyaman fiksi yang ternyata menjadi wacana nyata. Bukan ilusi, bukan pula dongeng picisan yang terkadang disisipi khayalan lengang.

Hujan masih terus merintik. Dia berbisik, hanya ingin kau tahu bahwa aku memikirkanmu seperti deretan kalimat tanpa titik.


You May Also Like

0 komentar