CAPPUCCINO DAN KAMU

by - 18.06

Cappuccino. Referensi selain buku dan partitur Schubert di mana impresinya tidak pernah bisa disangkal. Dia tidak hanya dapat dinikmati di dalam sebuah cangkir bergambar unik di teras belakang rumah, namun juga di sebuah gelas bening dengan topping es krim vanilla lembut yang membuatnya sempurna. Tapi terkadang, cappuccino yang dibiarkan sendirian di atas meja bertukar rasa menjadi agak pahit dan angkuh.

Kamu. Lelaki yang dapat dengan tepat menebak apa yang ada di dalam otakku setiap waktu, lugu dan tak pernah dapat disebut peka meski kugambarkan hatiku secara detail di atas kertas. Kamu menyebalkan. Tapi di titik tanpa prediksi, kamu berbeda. Kamu memelukku sembari berkata semua akan selalu baik-baik saja, apapun kondisinya.

Senja petang menggigil. Tetapi aku tidak ingin menjadikannya netral dengan menghirup ekstraksi hangat cappuccino tanpa sensasi yang berbeda. Aku ingin membiarkannya sedikit bebas dan tak terkekang agar menyatu dengan suhu udara di sekitar kamarku dengan jendelanya yang terbuka.

Menyeruput benda ajaib itu dengan sapaan senja adalah padanan yang tak terkalahkan, sama hebatnya dengan puisi stadium klasik yang menemani pagi di kota mimpi. Aromanya berada di kelas yang begitu antik, membuat tanganku tetap menggenggam wewangiannya sampai tak ingin beranjak meski hanya sedetik.

Ada persamaan antara cappuccino dan kamu. Kalian berdua seperti esensi literatur dari perasaan khas yang hanya dapat diracik oleh hati yang tepat. Kamu dan cappuccino sama-sama hangat, namun dapat pula berada di titik beku hingga gigiku bergemeretuk menahan dingin. Meski begitu, kalian adalah efek unsur kesayangan yang paling membingungkan, yang dapat membuatku tersenyum lalu mengkhayal bebas di depan jendela dan melayangkan pikiranku ke depan gerbang awan yang semakin merah.

Cappuccino dan kamu itu satu. Satu yang tak pernah bisa beranjak dari jiwa dan inginku. Cappuccino dan kamu itu punya dua sisi. Segi di mana tempatku menggenggam tawa, juga sisi di mana bisa kusandarkan lara.

You May Also Like

4 komentar

  1. Ke depan gerbang awan yg semakin merah maksudnya apa gi?
    So sweet, ahaha.. Kalo digabungin jadi kamuccino ohoho

    BalasHapus
  2. siip,, yang gue suka adalah,, seperti esensi literatur dari perasaan khas yang hanya dapat diracik oleh hati yang tepat....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aseeek hahaa makasih udah mampir ya

      Hapus